Tepat tanggal 28 Oktober 2009, secara nasional diperingati sebagai hari sumpah pemuda. Tepat 81 Tahun yang lalu, para pemuda Indonesia berkumpul dan mendeklarasikan sumpah pemuda. Perjalan waktu yang sudah menginjak usia 81 sejak dideklarasikan pada tanggal 8 Oktober 1928 telah mengalami banyak perubahan. Semangat sumpah pemuda tidak lagi menjadi perekat antar pemuda Indonesia sebagaimana yang dilakukan oleh pemuda pada tahun 1928.

Seiring perjalanan bangsa Indonesia sejak masa-masa kolonialisme sampai merdeka pada tahun 1945 hingga saat ini, peran serta pemuda cukup mewarnai sejarah perjalanan bangsa ini. Pemuda mampu mengambil peran disetiap penggalan sejarah bangsa Indonesia. Di awali dari deklarasi sumpah pemuda, pemuda terus memperlihatkan peran yang signifikan dalam setiap fase yang dilewati bangsa Indonesia ini. Pada tahun 1945, saat Jepang kalah dalam perang Dunia ke -2, pemuda melakukan gerakan untuk memaksa para petinggi negeri untuk menyatakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Bahkan para pemuda “memaksakan diri” disaat para petinggi negeri masih ragu, dengan cara “menculik” mereka dan mendesak segera di menyatakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Sehingga mau tidak mau, Soekarno atas nama rakyat Indonesia pada pagi harinya membacakan proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia yang disambut dengan suka cita oleh seluruh pemuda dan rakyat Indonesia.

Penggalan sejarah lainnya, bisa kita lihat ketika gerakan mahasiswa tahun 1966, yang menuntut pemerintah Soekarno untuk memenuhi tiga tuntuntan rakyat. Sementara gerakan pemuda dan mahasiswa yang paling mempengaruhi perjalanan bangsa Indonesia hingga saat ini adalah gerakan mahasiswa pada Tahun 1998 yang berhasil menjatuhkan pemerintah otoriter yang dipimpin oleh Soeharto.

Penggalan-penggalan sejarah tersebut, memperlihatkan peran pemuda dan mahasiswa dalam mengawal perjalanan bangsa ini. Tidak bisa dipungkiri peran yang diambil oleh pemuda merupakan peran-peran yang cukup vital sehingga mampu melakukan perubahan-perubahan yang cukup signifikan dalam setiap gerakan dan aktifitas yang dilakukannya.

Meskipun demikian, peran-peran faktor eksternal yang mengikuti setiap gerakan pemuda tidak bisa diabaikan. Fakta sejarah menunjukkan bahwa, gerakan yang dibangun oleh pemuda, selalu diawali peristiwa yang mendukung dilakukannya gerakan untuk menuntut perubahan. Kemerdekaan Indonesia misalnya juga disebabkan kekalahan kolonial Jepang terhadap tentara sekutu dalam perang dunia II. Pun demikian dengan gerakan tahun 66, dimana pemerintah Soekarno yang cukup mengakomodir paham Komunis serta kondisi perekonomian Indonesia yang semakin memburuk. Serta, gerakan reformasi pada tahun 1998, yang di awali karena ingin mengakhiri pemerintahan otoriter Soeharto serta ditambah krisis ekonomi yang melanda Indonesia.

Melihat penggalan-penggalan sejarah yang ditorehkan oleh pemuda dalam mengawal perjalan bangsa ini, muncul satu pertanyaan, yaitu, mengapa pemuda dan mahasiswa mampu bersatu dalam masa-masa sulit namun disaat kondisi sudah membaik, pemuda seakan tidak mampu berbuat banyak bahkan terpecah dalam beberapa kelompok yang mempunyai kepentingan masing-masing? Ketika kepentingan kelompoknya berlawanan dengan kelompok lain maka, persaingan antar kelompok pemuda tak bisa dihindari.
Beberapa tahun terakhir misalnya kita melihat pertikaian antar kelompok dan organisasi pemuda hanya karena berebut daerah kekuasaan. Tawuran pelajar dan mahasiswa yang semakin sering terjadi baik antar sekolah dan universitas maupun sesama pelajar dan mahasiswa dalam satu sekolah atau universitas.

Drama Tom And Jerry

Film kartun Tom and Jerry adalah film kartun yang sudah lama diputar media televisi Indonesia. Film ini memperlihatkan bagaimana persaingan antara si Tom (Tikus) dan Jerry (kucing). Hampir setiap pagi, penonton televisi akan melihat adegan-adegan lucu dan konyol yang terjadi antar mereka berdua.

Dalam beberapa episode, Tom dan Jerry bisa memperlihatkan keakraban dalam hubungan pertemanan mereka. Namun, pada episode yang lain, mereka akan menjadi musuh satu dengan yang lain. Kerja sama antar mereka akan terjalin bilamana mereka satu musuh bersama (common enemy) yang mengganggu hubungan mereka dan membuat mereka tersingkir dari rumah yang mereka tempati. Akan tetapi saat kondisi kembali normal, layaknya tikus dan kucing dalam alam nyata yang tidak pernah akur, pun demikian dengan kehidupan mereka. Mereka akan kembali pada fitrah mereka yang selalu bermusuhan.
Untuk menjawab pertanyaan diatas, kita bisa berkaca pada kartun Tom and Jerry. Menurut penulis itulah yang terjadi dengan pemuda saat ini. Ada satu persamaan antara kondisi yang dialami oleh pemuda dengan kondisi yang terjadi dalam hubungan antara Tom and Jerry. Seperti sudah disebutkan sebelumnya bahwa, Tom and Jerry akan bersatu bila ada musuh bersama yang mengganggu hubungan mereka. Pun demikianlah kondisi yang dialami oleh gerakan pemuda dan mahasiswa. Jika ada musuh bersama, para pemuda dan mahasiswa yang tergabung dalam beberapa organisasi akan menyatukan diri untuk melawan musuh bersamanya. Kita bisa lihat dari penggalan-penggalan sejarah yang sudah disebutkan diatas. Selalu ada objek yang menyertai gerakan yang dibangun oleh pemuda dan mahasiswa.

Saat musuh bersama tidak ada lagi, maka yang terjadi adalah pertikaian antar kelompok pemuda itu sendiri. Kita bisa saksikan fakta yang terjadi beberapa tahun belakangan ini, sejak reformasi bergulir, pertikaian antar mahasiswa sering kali menjadi berita di media, baik itu media cetak maupun elektronik. Hal ini menandakan mahasiswa dan pemuda tidak lagi satu visi dalam mengawal perjalanan bangsa ini kedepan. Tidak hanya itu, problem-problem kepemudaan bahkan menjadi hal yang harus ditangani secara serius. Artinya pemuda tidak lagi menjadi pemberi solusi terhadap permasalahan yang ada, tapi saat ini menjadi sumber masalah baru yang harus di carikan solusinya.

Oleh : Sunardi Panjaitan (Mantan Ketum HMI Jaksel)