Oktober menjadi tonggak bersejarah bagi bangsa Indoensia. Tepatnya di tahun ke 20 kita meredeka terjadi pemberontakan komunis yang gagal sehingga Oktober menjadi tonggak awal dimana kita mengakui kesaktian Pancasila sebagai dasar negara. Meski kemudian komunis gagal dalam melakukan kudeta, namun tidak berarti peristiwa itu begitu mudah dilupakan oleh segenap rakyat Indonesia. Berbagai macam kejadian memperlihatkan bahwa sebagian besar rakyat Indonesia masih trauma dengan kejadian bersejarah tersebut.

Di masa Orde Baru, peringatan 1 Oktober sebagai hari kesaktian Pancasila dirayakan dengan upacara khidmat di Lubang Buaya, tempat dimana pahalawan revolusi disiksa dan dianiaya oleh simpatisan Partai Komunis Indoensia (PKI). Upacara juga dilakukan serentak di seluruh instansi dan sekolah dengan mengibarkan bendera satu tiang penuh. Rangkaian awal hari kesaktian Pancasila ini dimulai dari tanggal 30 September dengan mengibarkan bendera setengah tiang. Di malam harinya, sejak tahun 80-an, televisi nasional saat itu menanyangkan film G30S/PKI karya Arifin C. Noer hingga larut malam. Kejadian ini selalu berulang di setiap tahun dan menjadi propaganda yang cukup efektif untuk mewaspadai bahaya laten komunis. Pemerintah Orde Baru memang sangat berkepentingan dalam hal ini, mengingat pemerintahan yang ditulangpungungi militer khususnya Angkatan Darat di dalam sejarah perjalanan bangsa ini selalu mengalami konflik dengan PKI saat sebelum 1965. Dan sejarah selalu ditulis oleh pemenang, sehingga wajar jika kemudian Pemerintah Orde Baru melakukan hal tersebut. Meski setelah jatuhnya Orde Baru rangkaian perayaan hari kesaktian Pancasila mulai dilupakan orang, terutama oleh generasi baru. Konon pemilihan tanggal 1 Oktober dinihari oleh PKI terinspirasi dari keberhasilan pengambil alihan kekuasaan Partai Komunis China pimpinan Mao Ze Dong di tahun 1949. Harapannya, keberhasilannya juga bisa mencontoh China namun ternyata PKI mengalami kegagalan.

Saat ini China tengah merayakan 60 tahun keberhasilan komunis menancapkan kekuasaannya di daratan China. Perayaan besar-besaran diselenggarakan untuk memperlihatkan keberhasilan China dalam membangun nengerinya selama 60 tahun. Ini sungguh merupakan ekspose kesuksesan yang luar biasa. Mengurus negara dengan jumlah penduduk yang mencapai 22% dari total penduduk dunia bukan perkara mudah. Problematika sosial tentu menjadi masalah utama yang dihadapi oleh negara ini. Ketersediaan angkatan kerja tentu harus diimbangi dengan ketersediaan lowongan kerja. Kebutuhan pangan harus diimbangai dengan pasokan pangan yang memadai, bahkan laju pertambahan penduduk pun harus dapat dikendalikan agar tidak menambah beban baru di kemudian hari. Namun segala permasalahan ini terkesan mudah diselesaikan oleh China. Bahkan saat ini, hanya China yang tingkat pertumbuhan ekonominya mencapai dua digit yaitu mencapai lebih dari 10 persen. Di saat banyak negara mencapai defisit dalam pertumbuhan ekonomi, China justru mencapai surplus. Bahkan di saat banyak negara harus mengejaar ketertinggalan dengan menggenjot pertumbuhan ekonomi, China justru harus mengerem laju pertumbuhan ekonomina agar tidak terjadi over heated di dalam negeri.

Permasalahan ketersediaan pangan bagi penduduknya pun seakan-akan bukan masalah yang rumit bagi China. Pembangunan pertanian sebagai dasar ketersediaan pangan telah mereka rumuskan sejak masa awal kekuasaan komunis persisnya sejak 1952. Bahkan sejak 1978 mereka mulai masuk pada taraf industrialisasi pertanian dimana telah mampu melakukan proses efketivitas dan efisiensi dalam melakukan proses produksi pertanian. Pendekatan kolektif pada keluarga yang integratif dengan pola pembangunan perdesaan menjadi poin penting pada proses pembangunan pertanian di China. Kepemilikan negara akan tanah membuat sistem pertanggungjawaban kontrak para petani kepada negara menjadi lebih jelas. Sistem produksi yang dianut memberikan beban yang cukup ringan bagi petani untuk membayar pajak dan prosentase pendapatan pada negara. Selanjutnya semua pendapatan dan alat-alat produksi adalah milik petani. Kondisi ini mampu membuat meningkatkan kesejahteraan para petani hingga mereka tidak terpancing untuk melakukan urbanisasi dan tetap menekuni mata pencahariannya. Akibatnya, wajah perdesaan di China tidak menjadi kantong-kantong kemiskinan layak wajah perdesaan di Indonesia.

Keberhasilan mereka dalam melakukan pembangunan pertanian untuk penyediaan pangan membuat mereka mampu keluar dari krisis pangan akibat banyaknya penduduk. Ketersediaan lahan yang hanya 7 persen dari total luas lahan pertanian seluruh dunia mampu memberikan penghidupan yang layak bagi 22% penduduk dunia, ini sungguh menakjubkan. Kebijakan industrialisasi yang berpijak pada pertanian pun mulai menggapai hasil yang mencengangkan. Bahan pangan berasal dari biji-bijian, perairan, daging, dan buah-buahan yang dihaasilkan oleh negara ini berada di level terdepan di dunia ini. Beberapa produk mulai dipasarkan ke negara lain, bahkan beberapa perusahaan produsen pangan juga mulai menancapkan investasinya ke negara-negara lain. Di Indonesia kita mengenal PT. New Hope yang bergerak di sektor perunggasan, meski belum menjadi penguasa pasar namun keberadaan investasi mereka di beberapa daerah seperti Jawa Barat dan Jawa Timur mulai diperhitungkan oleh kompetitor mereka. China tercatat pula sebagai produsen daging babi terbesar di dunia saat ini dan bersama-sama dengan negara di kawasan asia timur dan tenggara menjadi produsen daging babi sekaligus konsumen yang utama di dunia. Kegairahan dalam mengembangkan dunia pertanian berpengaruh terhadap turunnya jumlah penduduk miskin secara signifikan. Wilayah perdesaan yang selalu dicap sebagai kantong-kantong kemiskinan, dengan pola pembangunan layaknya di China maka desa-desa di sana tidak lagi menjadi kantong kemiskinan bahkan menjadi harapan baru bagi peningkatan kesejahteraan penduduknya.

Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China, barangkali ini yang harus dilakukan oleh Indonesia. Struktur sosial yang relatif mirip dengan China menjadi satu kemudahan tersendiri bagi kita untuk mencontoh, kalau tidak boleh dibilang menjiplak, kesuksesan luar biasa yang telah dicapai. Di Indonesia, petani pedesaan harus menjadi sasaran utama kebijakan pemerintah karena inilah akar permasalahan sosial yang muncul saat ini. Kita melihat betapa penduduk yang melakukan urbanisasi begitu banyak, ini membuktikan bahwa perdesaan dengan pertaniannya sudah tidak lagi menarik bagi masyarakat Indonesia. Secara umum ada dua hal penyebabnya yaitu : ketimpangan pembangunan antara desa dan kota serta kegagalan pemerintah dalam memberikan penghidupan yang layak bagi petani. Jika ini tidak diperbaiki maka dalam 15 hingga 20 tahun kedepan krisis pangan akan benar-benar terjadi di Indonesia.

Modal sosial berupa kuatnya ikatan kekeluargaan di pedesaan seharusnya mampu dijadikan modal dasar dalam proses pembangunan pertanian. Pendekatan kolektif akan mudah dilakukan karena sesuai dengan budaya asli bangsa kita yang cenderung hidup secara komunal. Namun semua harus diawali dengan proses reformasi agraria yang memang adil bagi semua, minimal membatasi kepemilikan pribadi dan memberikan kuasa yang besar bagi proses pengolahan tanah demi ketersediaan pangan rakyat Indonesia. Apabila hari kesaktian Pancasila diperingati karena keberhasilan Indonesia dalam menghadapi pemberontakan komunis maka kita perlu membuktikan bahwa yang kita raih mampu melebihi atau minimal menandingi capaian dari negara lain yang berideologi komunis. Yang lebih penting sebenarnya, meski kita bukan negara komunis tapi bukan berarti kita alergi untuk mencontoh pa yang dilakukan oleh negara komunis seperti China terutama dalam menjamin kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya.

Ahmad Romadhoni
Staf Komisi Hubungan Internasional PB HMI MPO