Organisasi gerakan mahasiswa (Ormawa) saat ini masih dipandang stagnan. Berbagai isu ketimpangan social dan kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat yang seharusnya jadi “lading empuk”  mahasiswa untuk dikritisi. Karena pada dasarnya gerakan mahasiswa adalah murni untuk kepentingan masyarakat dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran. Jadi organisasi mahasiswa harus direvitalisasi agar lebih terarah.

Demikain yang terungkap dalam diskusi antar mahasiswa yang digelar Himpunan Mahasiswa Islam (MPO) cabang Makasar di Aula Gedung Persatuan Guru Republik Indonesia  (PGRI).

Ketua panitia Yaser Arafat mengatakan acara yang dihajarkan untuk pelantikan HMI MPO cabang Mataram ini sengaja diikuti dengan diskusi antar mahasiswa. Karena saat ini gerakan mahasiswa tengah mengalami gejala stagnan, khususnya di NTB, sehingga dibutuhkan upaya dan format baru untuk dijadikan motivasi.

Sementara itu Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (MPO) Heri Iswanto mengatakan banyak potensi organisasi gerakan mahasiswa yang belum dimaksimalkan. Seperti daya kritis, sikap independen, dan sikap keberpihakan kepada masyarakat masih setengah hati.

“Ini bisa kita lihat dari adanya organisasi gerakan mahasiwa yang terlibat dalam setiap momen-momen politik praktis. Entah sebagai pendukung aktif maupun pasif,” sindir Heri.

Dikatakannya seharusnya organsiasi gerakan mahasiswa selalu menjunung tinggi nilai-nilai kebenaran.

Hal yang sama juga dikatakan Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) cabang Mataram. Mawardi Khairi.

Dikatakan, saat ini gerakan mahasiswa cenderung mengalami kelesuan.  Sehingga berbagai momen terlepas dari pantauan dan kritikan mahasiswa.

“Di NTB kita akui gerakan mahasiswa belum berjalan secara maksimal. Sehingga diskusi seperti ini dibutuhkan untuk menggali ide bersama. Tentu harapannya agar Ormawa di NTB lebih kondusif,” pungkasnya.  (Lombok Post)