Jika kita memerhatikan satu bulan ke belakang, tergambar dalam benak bangsa, bahwa aparatus negara telah ‘berhasil’ mengelabui musuh negara; teroris. Yang paling diburu adalah Noerdin M Top, konon dia sebagai gembong teroris.

Nama dan kriteria Noerdin sudah dipublikasikan lewat berbagai media untuk menjalin kerjasama dengan masyarakat dalam penangkapannya. Pengepungan di salah satu rumah teroris di temanggung membuahkan hasil 1 korban dari teroris tewas, dan diperkirakan itu adalah Noerdin. Densus 88 telah ‘berhasil’ membredel 1 korban itu dengan jumlah pasukan sebanyak 600 orang.

Tapi tidak lama kemudian, ternyata yang diburu itu bukan Noerdin. Melainkan Ibrohim, yang konon Noerdin berhasil melarikan diri setelah diketahui ada penggerebekan. Harap cemas dari segenap elemen bangsa mewarnai awal-awal ramadhan, dengan akan diberlakukannya pengintaian di sejumlah pengajian dan majlis ta’lim, guna penjagaan akan datangnya bulan suci. Dengan berbagai macam cara, pemerintah rupanya ingin sekali menghapuskan aliran ektrim ini, terlihat dari kegigihan Densus 88 dan aparatus lainnya.

Tiga hari ini rupanya Densus benar-benar dalam upayanya mencari Noerdin, tanpa diketahui oleh media, Densus 88 tengah bergerilya di Solo Jawa Tengah. Ternyata membuahkan hasil, dan Noerdin dinyatakan tewas. Hal ini disambut gembira, dengan antusias warga dan pers ketika terjadi dialog dengan mereka di gedung dpr kemarin. Dengan perangkap jitu ala wartawan, akhirnya Kapolri mengaku telah ‘berhasil’ membunuh Noerdin, yang konon gembong teroris itu.

Yang membuat gemas para pemirsa televisi adalah, gambar si pelaku teroris terbunuh tidak pernah dipublikasikan lewat media, jika memang benar sudah berhasil, tentunya akan lebih baik lagi ketika bukti-bukti kuat itu dipublikasikan. Karena pemerintah telah ‘memaksa’ masyarakat untuk lebih mempercayai ‘cucuran keringat’ atas usaha tersebut, seyogyanya masyarakat harus mengembalikan citra pemerintah sekarang itu bernilai ‘plus’, walaupun yang telah tewas diburu itu benar-benar Noerdin atau bukan. Yang penting Densus 88 dan Polri telah berusaha sekuat tenaga. Dan memang pantas diberikan ‘isapan jempol’ bagi Densus dari pejuang HAM, seperti kasus munir, tragedi priok, tragedi semanggi, tragedi poso, dan tragedi-tragedi yang lainnya hingga terlupakan begitu saja, dengan dalih ancaman berbahaya atas negara. Atau dengan kata lain proyeksi penyelesaian kasus-kasus HAM berbanding terbalik dengan penyelesaian terorisme di Indonesia, tentu ada pertimbangan penting mengapa hal itu terjadi, apa lagi jika bukan uang.

Muhammad Insan Kamil