Perseteruan antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) versus Kepolisian Republik Indonesia (Polri) semakin memanas. Kesan adu kekuatan sebagai lembaga yang mempunyai kewenangan besar di negeri ini sangat kentara. Mereka dengan berbagai kewenangan yang dimiliki seakan ingin menunjukkan kedigjayaan dan eksistensi mereka di depan publik. Politik pencitraan inilah yang akhir-akhir ini sangat vulgar mendorong mereka sebagai lakon-lakon setidaknya dalam drama tayangan berita-berita di berbagai media massa kita. Dan lebih tragis lagi, perseteruan ini semakin menunjukkan tanda-tanda akan kehancuran atau setidaknya kemandulan terhadap kinerja KPK itu sendiri nantinya.

Bersama ini saya ingin memaparkan sebuah testimoni (bukan bermaksud meniru Antasari Azhar yang juga menulis testimoni). Testimoni yang hendak saya buat ini adalah terkait dengan runtutan perjalanan perseteruan sengit antara KPK dan Polri, dimana ternyata SBY berada di balik itu semua!

Kisah “Pilu” Antasari Azhar

Tidak banyak orang yang tahu, ada apa di balik penangkapan Antasari Azhar. Penangkapan Antasari Azhar, tak dapat dilepaskan dengan kemarahan SBY terhadap “kekuarangajaran” KPK yang diketuai oleh Antasari terhadap SBY sendiri.

Awalnya SBY masih bisa sabar dengan ditangkapnya Aulia Pohan (besan SBY) atas dugaan korupsi, dan disusul dengan beberapa anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat oleh KPK. SBY masih bisa legowo dengan berdalih bahwa demi pemberantasan korupsi dia tidak akan memberikan toleransi pelaku korupsi, walaupun pelaku korupsi itu berasal dari lingkungan keluarga SBY sendiri.

Namun kesabaran SBY rupanya sudah habis. Menurut berbagai sumber, setelah membongkar praktik korupsi besan SBY dan beberapa anggota DPR RI dari Fraksi Demokrat, Antasari berencana mengungkap sumber-sumber tersembunyi harta SBY. Hal inilah yang membuat SBY murka dan menyusun strategi bersama Amerika lewat CIA. Dari hasil konsultasinya itu disusunlah sebuah skenario besar menghancurkan KPK dengan menangkap Antasari Azhar.

Caranya adalah dengan menjebak Antasari lewat rayuan maut Rhani Juliani (istri siri Nasruddin Zulkarnain). Dan dengan bayaran Rp300 miliar, bercintalah Antasari dengan Rhani Juliani dan direkam oleh Nasruddin.

Nasruddin sendiri awalnya memperkirakan tidak akan sampai dibunuh oleh orang suruhan Antasari, paling naas dia hanya berisiko dipukuli saja oleh orang suruhan Antasari tersebut. Namun ternyata perkiraannya meleset, Antasari menyuruh orang-orang profesional untuk membunuhnya!

Kemarahan SBY ternyata tersulut lagi. Hal itu diawali dengan rencana KPK yang akan memeriksa beberapa pejabat yang diduga terlibat dalam perampokan (demikian disitilahkan oleh JK) dana di Bank Century senilai lebih dari Rp6,7 triliun. Di antara nama-nama itu adalah Sri Mulyani, Boediono, dan Susno Duadji (Kabareskrim Polri). Dari sinilah dimulai drama unjuk kekuatan antara KPK dan Polri. Berawal dari kegerahan Susno Duadji yang namanya disebut-sebut ada di balik kasus Century.

Tak mau kalah, Susno Duadji pun memberikan pernyataan bahwa Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto juga melakukan penyalahgunaan wewenang sebab meminta pencegahan (larangan ke luar negeri) terhadap Direktur PT Masaro Anggoro Widjojo serta pencegahan dan pencabutan pencegahan terhadap Direktur PT Era Giat Prima Djoko S Tjandra. (Kompas,19/9). Padahal upaya Polri tersebut dinilai berbagaikalangan tidak memiliki dasar hukum yang kuat dan tidak proporsional, sehingga bisa dikategorikan sebagai upaya nyata melemahkan KPK. Tak lama kemudian pemeriksaan terhadap kedua petinggi KPK itu pun berlangsung.

Sebuah tindakan yang terkesan paranoid dialami oleh Polri. Dan lebih vulgar lagi, Presiden segera mengeluarkan Perppu untuk menunjuk pejabat sementara pimpinan KPK. Sangat jelas, SBY ingin menghilangkan “macan-macan” KPK yang selama ini suka “nakal” mengusik-usik ketenangannya selama berkuasa hinga ke akar-akarnya, dan menunjuk orang-orang pengganti yang tentu saja pro dengan dia. Dan Polri-lah yang “diperalat” SBY untuk memberangus KPK.

Dan memang, konon pula pimpinan KPK yang saat ini menjabat bukanlah orang-orang yang loyal kepada SBY, tapi loyal kepada salah satu rival politik SBY.

Inilah beberapa fakta tersembunyi yang dapat saya himpun dari berbagai sumber rahasia…..
Tapi saya rasa masuk akal juga…
Betapa kacaunya negeri ini…

Adhel Setiawan
(email : presiden.ri2019@yahoo.com)