Peringatan ulang tahun  kemerdekaan Indonesia yang ke-64 ditanggapi beragam oleh para aktivis perempuan. Pada umumnya mereka menilai usia 64 tahun belum mampu mengantarkan  rakyat Indonesia pada kemerdekaan yang sesungguhnya, terutama bagi kaum perempuan.

Ardiani Maifara, aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Islam menilai saat ini Indonesia belum merdeka sepenuhnya.Pasalnya, banyak kaum perempuan Indonesia yang masih tertindas, karena berbagai hal yang dilakukan oleh kalangan-kalangan tertentu, yang dengan sengaja maupun tidak, telah mengekploitasi kaum hawa.

“Saya kurang setuju jika Indonesia dikatakan sudah merdeka dalam arti bebas sepenuhnya. Karena masih banyak kaum miskin dan wanita yang ditindas. Artinya kita masih belajar merdeka,” kata Ardian , saat ditemui HMINEWS, di Masjid Fatullah, Ciputat, Senin (9/08) siang.

Ditambahkan Ardian, kemerdekaan harus berarti bebas tanpa syarat. Artinya, tidak akan ada lagi perempuan Indonesia yang tereksploitasi, didiskriminasi maupun diterminasi. Bahkan, wanita sudah harus bisa menyuarakan pendapatnya demi hak mereka.

Tapi kenyataannya, saat ini Indonesia masih belum bisa begitu. Banyak celah yang harus diperbaiki. Ditambah bangsa kita banyak ditimpa musibah. Oleh karena itu, kemerdekaan nggak usah dirayain deh, yang penting rakyatnya tidak miskin dan sejahtera.

“Saya menghimbau agar kita melihat kembali kepada hati nurani dan nalar. Bahwa eksploitasi dan pelecehan terhadap kaum perempuan tidak boleh terjadi lagi,” ujarnya.

Ardian berharap, di masa yang akan datang nanti, Indonesia  bisa belajar untuk lebih baik lagi. Karena perkembangan zaman semakin maju sementara pikiran manusia Indonesia masih jauh tertinggal.

Pendapat yang sama juga dikatakan oleh aktivis HTI, Meina Fitriana Sari, menurutnya kaum perempuan Indonesia belum merdeka sepenuhnya.

“Menurut saya kaum perempuan Indonesia belum merdeka”, kata Fitri.

Perempuan muda yang juga aktif di Lembaga Dakwah Kampus(LDK) ini mengatakan belum merdekanya kaum perempuan dapat terlihat dari tidak setaranya kedudukan mereka dimata laki-laki terkait dalam tanggung jawab mengurus anak dan suami.

Padahal, menurutnya perempuan dilahirkan dan ditakdirkan bukan menjadi pengabdi kaum pria, mengandung, melahirkan, dan mengasuk anak semata.

“Perempuan harus merdeka dan bebas berkreasi seperti kaum lelaki”, kata Fitri.

Ardian berharap peringatan kemerdekaan Indonesia ke-64 tahun ini dapat menjadi moment penting bagi kemerdekaan kaum perempuan Indonesia. (Rita Z)