Fenomena beragama kaum muda memang tampak menonjol belakangan ini. Masjid, surau dan musholla tidak lagi hanya diramaikan oleh orang tua dan jompo namun juga disesaki oleh anak-anak muda.

Namun, keberagamaan anak-anak muda -terutama di kota-kota besar- layaknya ritus kehidupan seorang manusia agaknya baru mencapai tahap pubertas. Sebuah tahapan kehidupan, dimana seorang manusia lebih memperhatikan kemasan daripada isi, lebih mementingkan heroisme daripada substansiali. Begitulah yang terjadi dengan sebagian kaum muda. Mereka terlihat begitu bersemangat dalam menjalankan agamanya sehingga sangat antusias bila bulan Ramadlan tiba karena merasa mendapatkan “pembenaran” untuk merazia tempat-tempat hiburan malam.

Dalam ranah kehidupan keberagamaan, misalnya, kita menjumpai lahirnya sebuah generasi muda muslim baru. Generasi yang tidak menjadikan pemikiran tokoh-tokoh Islam Indonesia di masa lampau seperti KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asya’ari dan Cokroaminoto sebagai rujukan berpikirnya. Mereka lebih merasa “nyaman”, “benar” dan “afdhol” merujuk pada tokoh-tokoh Islam Timur Tengah seperti Sayyid Quthb, Hasan al-Banna dan Yusuf Qardhawi. Secara kebetulan para tokoh tersebut adalah para pioner Ikhwanul Muslimin, sebuah organisasi Islam berbasis di Mesir yang mencita-citakan terbentuknya sebuah imperium Islam di bumi, sebuah Daulah Islamiyah. Ikhwanul Muslimin -dengan berbagai organisasi variannya seperti Jamaah Islamiyah (JI) dan Hizbut Tahrir (HT)- memang mencita-citakan sebuah Daulah Islamiyah, dengan slogan “Allah Ghayatuna, Rasulullah Qudwatuna, Qur’an Dusturuna, Jihad Sabiluna, Syahid Asma’amanina”. Dalam doktrin Ikhwanul Muslimin, Daulah Islamiyah wajib didirikan hingga “Tidak ada lagi fitnah (terhadap Islam) di muka bumi”.

Di tempat yang lain, sekelompok anak muda terdidik di kampus-kampus juga sangat tinggi “ghirah-nya” dalam beragama sehingga diskusi-diskusi di kampus lebih mirip khutbah jumat yang monolog dan tanpa dialog.

Bahkan, disinyalir eksekutor Bom di JW Lounge hotel JW Marriott masih cukup berusia muda antara 16-17 tahun. Anak muda yang yakin bahwa dia dan rekan-rekannya sedang berjihad fi sabilillah menghancurkan “musuh-musuh Allah” dengan cara bom bunuh diri. Terlepas dari siapa otak dibalakang mereka, tentunya aktivitas mengebom bukanlah cara yang bijak.

Julian Benda mengingatkan kaum intelektual agar tidak melakukan pengkhianatan dengan bersikap masa bodoh terhadap dinamika sosial masyarakat. Sebaliknya, orang-orang cerdik pandai harus menjadi avant garde dalam memperjuangkan kepentingan ummat.

Kita tentunya sudah lelah menyaksikan kekerasan atas nama agama yang terjadi setiap menjelang dan ketika bulan Ramadlan tiba, yang dilakukan oleh anak-anak muda. Kita juga semua sudah bosan menyaksikan para intelektual muda kampus lebih tekun “memelihara jenggotnya” daripada mengasah keilmuannya. Dan kita semua tentu tidak ingin melihat Amrozi dan Imam Samudera baru lahir dari kerumunan kaum muda.

Semoga pihak-pihak yang masih mempunyai perseteruan dengan pihak lainnya, mau berdamai serta duduk bersama dan mencoba menyatukan cara pandang, berbagi ide dan pemikiran, siapa tahu nantinya akan menghasilkan sesuatu yang menakjubkan. Maka, alangkah baiknya menggunakan otak untuk hal yang positif, ketimbang otot.

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Agustus, bulan di mana rakyat negeri ini merayakan kemerdekaan bangsanya. Disusul kemudian bulan puasa, bulan yang cukup istimewa bagi umat islam. Untuk itu, mari kita jadikan kembali Indonesia ini sebagai bangsa yang mencintai kedamaian, dan Islam yang rahmatan lil alamin.

Wallahu a’lam. (Busthomi Rifa’i)