Bangsa ini masih dijajah oleh hutang yang terus menumpuk. Usaha negara untuk menghapus utang tidak pernah selesai bahkan beban utang makin tak terkendali.

Irvan Ali Fauzi, Koordinator Media dan Informasi KAU  mengatakan hal itu di sela-sela aksi Koalisi Anti Utang (KAU) di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Kamis (13/8) kemarin.  Aksi ini ditujukan untuk menyadarkan pemerintah bahwa sampai saat ini Indonesia masih tertindas dalam jurang penjajahan bangsa imprealis.

Menurut Irvan, rakyat Indonesia hanya sempat menikmati kemerdekaan selama empat tahun, tercatat dari proklamasi tahun 1945 sampai Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun1949, “Selebihnya bangsa ini telah dijajah oleh utang negara yang terus menumpuk” kata Irvan.

Irvan yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Politik PB HMI menjelaskan bahwa pada masa pemerintahan orde baru yang dipimpin Soeharto hingga era SBY, usaha pemerintah untuk menghapus utang negara  tidak pernah selesai, bahkan di era pemerintahan mereka, beban utang negara justru tidak terkendali dan semakin berlipat ganda.

Jelang hari kemerdekaan Indonesia ke-64 pemerintah diharapkan dapat menganugerahi kemerdekaan yang sesungguhnya bagi seluruh rakyat Indonesia dengan cara menghentikan praktek kemiskinan rakyat dengan menghapus utang luar negeri yang sudah mencapai US$ 1700 triliun lebih.

Menurut Irvan, mekanisme audit hutang dapat dilakukan pemerintah untuk memulai menghentikan jeratan hutang. Mekanisme audit utang ini dapat memperjelas kedudukan utang negara saat ini, posisi utang tersebut juga dapat dijabarkan lagi menjadi utang yang sudah dicairkan dan utang yang belum dicairkan.

Irvan mengatakan  praktek penjajahan utang juga dapat dihentikan dengan merubah segala haluan kebijakan ekonomi liberal yang sudah terlanjur dipraktekkan bangsa ini selama 60 tahun menuju ekonomi kerakyatan yang diharapkan bangsa ini. (Rita Z)