Menjelang bulan suci Ramadan, kegembiraan selalu muncul, hati serasa berbunga-bunga menyambut kedatangannya. Tiba-tiba muncul bayangan dan kenangan suasana Ramadan yang lalu. Meski sudah setahun lewat, rasanya Ramadan tahun lalu baru kemarin. Jarak waktu menjadi hilang ketika bentangan waktu antara dua Ramadan disambung dengan kegembiraan dan kenangan yang begitu indah, agung, dan anggun.

Kini datang lagi Ramadan. Rekaman dan kenangan indah muncul kembali,dan semua itu ingin diulang dan dirayakan dalam suasana hati yang damai. Memasuki Ramadan bagaikan melangkah menuju oase penyejuk dahaga dan tempat istirahat setelah terkurung dalam hiruk-pikuk dan keluh kesal melihat kehidupan sosial politik yang kurang menjanjikan bagi hari esok. Memasuki Ramadan bagaikan menyelam dalam kolam perdamaian dan penyucian diri. Kita merasa antusias dan bangga menemukan kembali kefitrian dan jati diri yang senantiasa damba pada kebaikan,kebenaran, dan suasana intim dengan Tuhan Sang Pencipta.

Secara etimologi, puasa berarti menahan, baik menahan makan, minum, bicara dan perbuatan. Sedangkan secara terminologi, puasa adalah menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa dengan disertai niat berpuasa. Sebagian ulama mendefinisikan, puasa adalah menahan nafsu dua anggota badan, perut dan alat kelamin sehari penuh, sejak terbitnya fajar kedua sampai terbenamnya matahari dengan memakai niat tertentu.

Puasa Ramadhan wajib dilakukan, adakalanya karena telah melihat hitungan Sya’ban telah sempurna 30 hari penuh atau dengan melihat bulan pada malam tanggal 30 Sya’ban. Sesuai dengan hadits Nabi saw. “Berpuasalah dengan karena kamu telah melihat bulan (ru’yat), dan berbukalah dengan berdasar ru’yat pula. Jika bulan tertutup mendung, maka genapkanlah Sya’ban menjadi 30 hari”.

Efek Sosial Puasa

Ada tiga aspek yang bisa diamati sebagai buah dari puasa, yaitu kesehatan fisik dan mental serta kesalehan sosial. Ketiganya bisa diamati dengan pendekatan medis dan psikologis, apakah efek yang ditimbulkan puasa bagi seseorang. Berbagai kajian ilmiah menunjukkan, dampak puasa amat positif bagi kesehatan dan pembinaan mental.

Namun, menyangkut aspek metafisik-spiritual, hal itu kita serahkan sepenuhnya kepada Allah karena seseorang tidak punya kewenangan dan kemampuan untuk mengukur keikhlasan dan ketakwaan seseorang. Tak ada yang tahu kualitas dan kedalaman puasa seseorang kecuali Allah. Dan sungguh, ketika menjalani puasa, seseorang merasakan betul kehadiran Allah di mana pun ia berada sehingga ia senantiasa berlaku jujur, senantiasa menyebarkan vibrasi kebaikan dan kedamaian.

Efek sosial-psikologis puasa mudah sekali kita amati dan rasakan terutama selama bulan Ramadhan. Tibatiba kita menemukan aura spiritual yang begitu kental dalam keluarga, lingkungan kerja dan masyarakat. Televisi serta radio pun berlomba menyajikan acara keagamaan semenarik mungkin.

Tiba-tiba kita merasakan terjadinya perubahan amat drastis, mayoritas masyarakat Indonesia berubah menjadi santun, mampu menahan diri, jujur, dan tidak ingin menyakiti orang lain. Pendeknya, selama Ramadhan kita menemukan masyarakat yang beradab dan religius.

Hakikat puasa

Pada hakikatnya Ramadan melatih seseorang untuk menjadi orang yang berdisiplin, tunduk pada hukum, empati kepada orang lain, istikamah, menerapkan pola hidup selektif, yang diharapkan terus berlanjut secara sinambung pada bulan-bulan berikutnya. Dengan demikian, di samping sebagai ibadah habl min Allah pada saat yang sama puasa juga menekankan habl min al-nas. Sehingga, tak pelak lagi, sepanjang bulan Ramadan kita dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah baik ibadah ritual maupun ibadah social.

Dengan demikian, seperti disinggung di atas, di samping sebagai aktivitas fisik, puasa juga secara sekaligus sebagai aktivitas psikis dan sosial. Secara fisik, puasa berarti menahan diri dari makan, minum, dan melakukan kontak seksual semenjak terbit fajar hingga terbenam matahari. Secara psikis, ini berarti penahanan diri dari upaya memanjakan gelora hawa nafsu yang dapat berimplikasi buruk pada dirinya. Dan, secara sosial, kata Hasan Hanafi dalam al-Din wa al-Tsawrah (1990: 63), puasa melatih kepekaan atas nasib sesama yang menderita kelaparan dan kehausan. Dalam konteks itulah kita bisa memahami adanya perintah untuk mengeluarkan zakat fitrah di penghujung bulan Ramadan bahkan sejak awal memasuki Ramadhan sudah terlihat kepekaan itu dengan berbuka bersama di Masjid-masjid, di suarau, di kantor bahkan di jalan-jalan, dan semakin lama semakin terasa rasa kebersamaan, persaudaraan dan kecintaan kita pada sesama.

Sikap hidup dengan cita rasa kemanusiaan yang tinggi inilah yang disebut dalam Kitab Suci sebagai al’aqabah, jalan yang sulit (tapi mulia dan benar) yaitu perjuangan untuk membebaskan kaum mustadh’afin (orang-orang yang terbelenggu dan tertindas).

Sebab, ibadah ritual apa pun, tak terkecuali ibadah puasa, dalam pandangan Islam tidak memiliki nilai apa pun kalau tidak mempunyai dampak positif, secara internal pada dirinya dan secara eksternal pada orang lain sekaligus. Inilah barangkali yang dimaksudkan oleh Umar ibn Khattab tatkala mengatakan, “Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.” Mereka itu adalah orang yang telah menjadikan ibadah puasa sebagai sebuah rutinitas, tanpa ruh-spirit. Termasuk juga, mereka yang melakukan ritual puasa pribadi, tapi melupakan pesan untuk melakukan puasa sosial. Puasa yang demikian adalah puasa yang tidak sinkron dengan janji-janji ideal Islam.

Demikianlah, menurut Al Quran, satu hikmah puasa adalah untuk mendidik jiwa agar mencapai derajat takwa, pribadi yang mampu menahan diri dari berbagai godaan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Namun, lagi-lagi, pertanyaan yang selalu muncul adalah mengapa-ibarat baterai telepon seluler-daya setrumnya hanya bertahan sebulan? Bukankah mestinya puasa sebulan memiliki daya setrum penyebar kebajikan setidaknya selama setahun? Ini dikarenakan kebanyakan dari orang yang berpuasa pada realitasnya hanya pada puasa syariat, bukan puasa khakikat.

Menurut Imam Al-Gazali, puasa ada tiga tingkatan yaitu puasa orang awam, puasa orang khusus dan puasa orang super khusus. Puasa orang awam, menahan perut dan kemaluan terhadap menurunkan syahwat. Puasa orang khusus ialah menghindari pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan semua anggota tubuh dari berbagai dosa. Sedangkan puasa orang super khusus ialah puasa hati dari berbagai keingian yang rendah dan pikir-pikir yang tidak berharga, menahan hati dari selain Allah secara total. Puasa orang awan baru sebatas puasa syariat, sedangkan puasa orang khusus dan puasa orang super khusus sudah masuk kategori puasa hakikat.

Pseudo-religius

Pada hemat saya, memahami agama dalam konteks syariatnya saja amatlah berbahaya karena akan menjerumuskan kita pada keberagamaan yang palsu (pseudo-religius: al-tadayyun al-zâ’if) Nasr, Seyyed Hossein (1993). Gejala “pseudo-religius” ini memiliki beberapa pola. Pertama, keberagamaan yang dibangun untuk tujuan penyucian diri dan pengampunan diri. Tujuan dari keberagamaan ini adalah kemaslahatan diri sendiri agar terbebas dari dosa dan siksa secara syariat. Kedua, keberagamaan sebagai pelarian dari krisis-krisis sosial. Jika pola keberagamaan pertama (penyucian dan pengampunan) dilakukan oleh para pelaku (subyek) dosa sosial, pola keberagamaan kedua ini menimpa para korban (obyek) dosa sosial. Ketiga, keberagamaan yang utopis dan ilusif sebagai pemenuhan harapan-harapan manusia. Pola keberagamaan ini juga muncul karena tidak mampu menyelesaikan krisis sosial yang berlarut-larut.

Puncak Puasa

Puncak dari ibadah puasa adalah pencapaian derajat taqwa oleh orang-orang beriman yang memenuhi seruan Ilahi untuk melaksanakan kewajiban mulia yang penuh cobaan di bulan Ramadhan ini (QS. Al-Baqarah [2]:183). Taqwa sendiri juga merupakan perlambang bagi tingkat kemuliaan tertinggi seorang hamba di tengah segala makhluk, inna akramakum ‘inda Llahi atqakum, sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu (QS. Al-Hujarat [49]:13)

Derivasi paling mencolok yang diharapkan muncul dari taqwa sebagai buah dari puasa adalah kesadaran sosial akan nasib dan penderitaan sebagian besar kelompok masyarakat yang masuk dalam kelompok fakir, miskin, dhuafa’, dan mustadh’afin. Mereka inilah kelompok yang secara sosial dan ekonomi lemah dan tidak berdaya sehingga posisi dan eksistesinya sama sekali tidak diindahkan oleh golongan masyarakat di atasnya yang memiliki lebih banyak sumber daya. Tak heran jika kelemahan ini bukan hanya bersifat duniawi berupa kekurangan pada materi, tetapi juga kekurangan ukhrawi yang membuat mereka rentan dengan kekufuran. Sabda Nabi Saw : “Kaada al-faqru an yakuuna kufran” hampir-hampir kefakiran membawa seseorang pada kekufuran.

Islam sebagaimana agama samawi lainnya turun dengan misi sosial demi menjamin terpenuhinya hak-hak kaum tertinggal, tertindas dan terpinggirkan semacam itu. Jika Nabi Musa as melawan tirani bernama Firaun untuk membebaskan Bani Israel, maka Nabi Muhammad Saw juga harus berhadapan dengan Kafir Quraisy yang begitu dominan secara ekonomi dan politik, namun enggan membantu bahkan terkesan menikmati kesusahan hidup masyarakat miskin dan kekurangan di sekitarnya, demi melanggengkan hegemoni dan kekuasaan mereka.

Di bulan Ramadhan ini sebagai generasi intelektual yang selalu bergerak melakukan fungsi-fungsi sosial-kemasyarakatan, dimana harus turut serta mengambil bagian dalam peran-peran sosial di lingkungan masing-masing, di komunitas masing-masing, peran-peran perkaderan yang selalu memberi spirit dan keilmuan pada diri dan orang-orang disekitarnya, namun peran-peran perjuangan pun harus tetap berjalan beriringan demi terbentuknya masyarakat yang sejahtera, bermartabat dan berpradaban menuju masyarakat yang diridhoi oleh Allah Swt.

Alhamdulillah, Ramadan sudah di ambang pintu, menyapa dan memeluk kita semua. Kita bertemu kembali dengan tamu agung yang membawa berkah ilahi. Selamat datang Ramadan. Semoga kami bisa menyiapkan hati, pikiran, dan fisik untuk menerima piala keutamaan seribu bulan yang engkau usung dari langit suci.

Oleh: M. Chozin Amirullah Ketua Umum PB HMI (MPO)