“…Setiap Ramadhan tiba, luar biasa dan sangat semarak masyarakat Indonesia menyambutnya, dengan berbagai aktifitas spritual seakan-akan puasa menjadi alat instan menuju surga, tapi setelah Ramadhan anda tahu semua itu, hati-hati jangan kita berhalakan Ramadhan itu …”

Begitulah salah satu komentar salah seorang anggota facebook beberapa hari yang lalu, saat puasa Ramadhan baru saja dimulai. Komentar ini mungkin bisa jadi kritiknya terhadap perilaku beribadah masyarakat muslim yang seakan-akan menjadikan bulan Ramadhan sebagai jalan pintas untuk mendapat pahala yang berlipat dan seakan-akan bulan-bulan lain tidak mempunyai arti apa-apa.

Menarik untuk dicermati, fenomena masyarakat muslim yang mungkin tidak hanya di Indonesia, tapi juga di Negara-negara lain yang seakan-akan berlomba untuk melakukan ritual ibadah sebanyak mungkin di bulan Ramadhan. Jika dibandingkan dengan ibadah-ibadah dibulan lainnya, frekwensi ibadah seorang muslim dibulan ramadhan grafiknya semakin naik.

Namun, ada banyak pertanyaan yang patut untuk diajukan. Beberapa diantaranya adalah, mengapa ini hanya terjadi dibulan Ramadhan? Apakah bulan-bulan lain tidak mempunyai keistimewaan sehingga kita melakukan ritual ibadah tidak sebanyak yang kita lakukan pada bulan Ramadhan? Dan apakah ada signifikansi amalan seseorang pada bulan Ramadhan terhadap perilaku kehidupannya pasca ramadhan?

Penulis tidak hendak menggugat ajaran-ajaran agama yang ada dalam Firman-firman Tuhan atau Hadits-hadits Nabi, namun pada perilaku kita yang kadang-kadang lebih mencari jalan yang lebih fragmatis, meskipun itu adalah urusan kita dengan Tuhan.

Menjawab pertanyaan pertama, dalam beberapa ayat Al-quran, Allah memang menjanjikan banyak imbalan pada bulan Ramadhan. Disamping itu, begitu banyak hadits-hadits Nabi yang memberikan banyak perintah untuk melakukan amalan ibadah dibulan Ramadhan karena akan diganjar dengan pahala yang berlipat ganda. Ibadah-ibadah sunnah misalnya, pahalanya sama dengan ibadah wajib pada bulan-bulan yang lain. Begitupun dengan amalan wajib, yang dibalas beribu-ribu kali lipat oleh Allah. Hal ini kita bisa dengar melalui ceramah-ceramah para ulama di mesjid-mesjid atau majelis ta’lim dan juga dalam kitab-kitab fiqih.

Ganjaran yang begitu besar ini, tentu saja menjadi penarik yang cukup kuat bagi seorang muslim untuk beribadah. Dengan demikian, wajar kalau kemudian hampir semua orang Islam akan berlomba-lomba dalam melakukan ritual keagamaan.

Namun, apakah itu akan berlangsung lama? Jawabannya mungkin tidak. Ada fakta yang bisa menjadi alasan jawaban ini. Pada bulan Ramadhan, hampir disetiap mesjid kita akan melihat, pada hari-hari pertama Ramadhan, semua mesjid akan terisi penuh oleh jamaah yang hendak melakukan sholat, dan bahkan dibeberapa mesjid, tidak mampu menampung banyaknya jamaah yang sholat. Tapi itu tidak akan berlangsung lama. Setelah melewati beberapa hari Ramadhan, kita bisa lihat kembali jamaah mesjid semakin hari semakin berkurang dan pada akhirnya hanya tinggal beberapa orang yang masih konsisten. Artinya, kita hanya mampu konsisten pada awalnya saja, sementara pada bagian akhir kita tidak mampu mempertahankan konsistensi beribadah kita.

Setelah melewati bulan Ramadahan, frekwensi ibadah kita akan kembali seperti semula, sebelum memasuki bulan Ramadhan. Kita akan melakukan ibadah seperti biasa dan mungkin hanya ala kadarnya, sekedar untuk memenuhi kewajiban kita kepada Tuhan. Begitulah seterusnya sampai kita kembali pada Ramadhan tahun depan.
Siklus ini akan berjalan setiap tahunnya, sehingga kita akan menemukan jawaban dari pertanyaan kedua, bahwa ibadah kita sama sekali tidak mempunyai efek dan signifikansi terhadap perilaku kehidupan kita pasca Ramadhan. Kita akan kembali pada kehidupan semula. Jika seorang koruptor maka pasca Ramadhan dia akan kembali pada kebiasaannya, melakukan korupsi. Jika seorang teroris, maka pasca Ramadhan dia akan mengulangi aktivitasnya menebar teror pada orang lain. Dan begitupun dengan aktifitas-aktifitas lainnya akan terus terulang tanpa ada perubahan.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya sangat jelas. Karena kita hanya melakukan ibadah ini hanya dibulan Ramadhan, kita beribadah hanya karena bulan ini adalah bulan Ramadhan, dan kita ingin mencari jalan pintas untuk mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya. Sementara pada bulan-bulan yang lain, kita mungkin jarang beribadah atau mungkin tidak sama sekali.

Kita telah terjebak pada pemikiran bahwa, Ibadah yang baik itu hanya di bulan Ramadhan semata, sementara bulan yang lain adalah bulan-bulan biasa. Sehingga kita beribadahpun karena bulan ramadhannya. Bukan karena kesadaran bahwa ibadah itu adalah jalan kita untuk berbuat baik kepada sesama. Jika tidak ada Ramadhan, maka ibadah yang kita lakukanpun ala kadarnya. Pesan yang ingin disampaikan pada komentar diatas cukup jelas, kita hendaknya jangan memberhalakan Ramadhan itu, seakan-akan Ramadhan itu adalah satu-satu jalan untuk masuk surga.

Pada dasarnya, Ibadah puasa yang kita lakukan selama satu bulan memuat pesan bahwa kebajikan harus dilaksanakan secara konsisten (istiqamah). Pun demikian dengan ibadah, harus dilakukan dengan konsisten sehingga mempunyai signifikansi yang bias kita terjemahkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sehingga tanpa bulan Ramadhan pun, kita akan bisa beribadah seperti pada bulan Ramadhan. Konsistensi beribadah inilah yang akan memudahkan jalan kita menuju surga sebagaimana yang dijanjikan oleh Tuhan. (Sunardi P)