Universitas Diponegoro, Semarang,  sudah menolak mahasiswa dari Malaysia sejak tahun 2006. Selain sebagai bentuk sikap untuk menjaga martabat bangsa, Undip Semarang ingin mengutamakan mahasiswa Indonesia agar dapat kuliah di UNIDP semarang.

Sebelumnya, mahasiswa Malaysia memang diberi kesempatan mengikuti SNMPTN di Kuala Lumpur untuk kuliah di perguruan tinggi yang membuka jalur lewat SNMPTN.  Undip kebagian kuota empat orang mahasiswa Malaysia setiap tahun.

Dari jumlah kuota itu mahasiswa Malaysia hanya mengincar fakultas kedokteran. Tetapi menurut Rektor UNDIP Susilo Wibowo ” Kualitas mereka sangat rendah sehingga lebih baik tempat mereka diberikan kepada mahasiswa Indonesia.”  Mahasiswa terbaik ternyata dikirim ke Eropa dan Amerika, sedangkan kualitas kedua ke Australia.

Susilo mengatakan telah bertemu dengan pimpinan kepala daerah di seluruh Indonesia dan menyampaikan keinginannya agar putra daerah mereka bisa dididik di UNDIP. UNDIP, kata Susilo, sadar punya tanggung jawab mencerdaskan anak bangsa.

“Site di Fakultas Kedokteran setahun hanya 200, sedangkan pendaftar 14.000 lebih. Kira-kira ada yang rela nggak bila sebagian kursi diberikan untuk bangsa lain yang selama ini menginjak-injak harga diri negara ini?”

Diakui Susilo, di atas kertas mahasiswa Malaysia membayar kuliah lebih banyak daripada mahasiswa lain. Namun Susilo mengatakan” Mereka juga tak mau memenuhi kewajiban membayar studi. Universitas pun terpaksa menagih ke para mahasiswa itu. Bahkan beberapa mahasiswa susah ditagih dan ada yang tak membayar.” Dia menyatakan sebagai nasionalis terpaksa tak bisa menerima mahasiswa Malaysia. “Sebab, anak-anak bangsa lebih membutuhkan pendidikan itu daripada sekadar menerima SPP lebih tinggi dari mahasiswa luar,” katanya.