Jauh-jauh hari sebelum PILPRES saya sudah yakin sepenuhnya bahwa SBY akan memenangkan kembali PILPRES 2009. Bukan karena kehebatan SBY dan Tim Suksesnya, tetapi karena ada dukungan dari AMERIKA SERIKAT (AS) terhadap SBY, sejak Pemilu 2004. Dan saya sudah yakin sebelumnya bahwa SBY juga tidak akan memilih Hidayat Nurwahid (PKS) sebagai cawapresnya. Bukan karena Hidayat Nurwahid jelek atau tidak disukai SBY, tetapi karena SBY sadar sepenuhnya bahwa untuk mendapatkan dukungan dari AS maka perlu memilih cawapres yang disukai atau direkomendasikan oleh AS yaitu Sri Mulyani atau Budiono.

Memilih Hidayat Nurwahid yang berbasis partai Islam tentu saja tidak disukai oleh AS, dan dengan mudah SBY ditinggalkan atau dijatuhkan oleh AS dan sekutunya. Banyak orang heran mengapa sejak tahun 2004 tiba-tiba SBY menjadi sedemikian popular dan mendapat tempat di hati rakyat? Dan mengapa tahun 2004 dan 2009 ini suaranya begitu besar?

Apa jasa SBY yang terbesar sehingga rakyat Indonesia begitu memujanya?
Kalau memang AS berada dibalik kemenangan dan popularitas SBY, bagaimana cara kerjanya?
Itulah hebatnya konspirasi dari Negara-negara penjajah yang tidak tersentuh dan bekerja secara canggih. Di dalam buku karya Bob Woodward yang berjudul “Perang Rahasia CIA 1981-1987″ ditemukan banyak bukti nyata yang menunjukkan peran Negara AS dan sekutunya dalam mempengaruhi seluruh Negara-negara di dunia. Mulai cara yang halus sampai dengan cara yang kasar, misalnya dari menskenario berita di media massa sampai mendanai pemberontakan dan pembunuhan terselubung.

Di dalam Pemilu 2009 ini, ada beberapa fakta yang bisa kita kumpulkan, dianalisa dan dirangkai sampai menemukan adanya kekuatan besar yang ikut bermain di belakang SBY. Fakta-fakta ini bisa saja dianggap lemah dan tidak berdasar pada bukti yang nyata. Karena kalau mudah ditebak dan diungkap ke publik, bukan teori konspirasi namanya.

Di tahun 2004, SBY tiba-tiba menjadi popular bukan karena dia hebat dan cerdas, atau bukan karena jasanya yang besar bagi Negara Indonesia tetapi karena HANYA di bilang kekanak-kanakan oleh Taufik Kiemas suami Megawati. Dan segera saja ada blow up dari media massa yang mengarah pada pencitraan bahwa SBY telah di didolimi/dianiaya oleh Megawati. Begitu kuatnya pemberitaan itu, sehingga SBY “tampak” seperti orang baik dan Megawati “tampak” seperti orang jahat. Dan rakyat kebanyakan secara umum mudah dipengaruhi oleh hal-hal kecil seperti ini. Siapa yang menskenario media massa Indonesia sehingga bisa semudah itu tergiring untuk mempahlawankan SBY hanya karena masalah sepele?

Di tahun 2004, juga di tahun 2009, Partai Demokrat tidak hanya memenangkan banyak suara di Indonesia, tetapi juga diluar negeri. Padahal tahun 2004 partai Demokrat adalah partai yang baru muncul. Ada semacam jaringan Intelligen yang sangat kuat yang ikut berkerja untuk memenangkan PD dan SBY. Dan tentu saja bukan jaringan inteligen dari Indonesia yang mampu melakukan hal-hal besar seperti itu. Dugaan saya adalah jaringan inteligen dari Negara penjajah pimpinan Amerika Serikat.

Coba lihat selama kampanye PILPRES 2009. Hampir tidak ada kejelekan atau kesalahan SBY yang terblow up oleh media massa. Kalapun ada hanya muncul sebentar, lalu dengan cepat akan tertutup oleh isu-isu lain. Dan yang terpengaruh hanya sekelompok kecil rakyat Indonesia yang melek Informasi dan memiliki daya berpikir kritis. Bukan kebanyakan rakyat Indonesia yang jauh-jauh hari telah dipengaruhi atau dihegemoni akan kebaikan SBY. Atau kampanye sudah disetting sedemikian rupa untuk tidak mampu merubah pilihan rakyat.

SBY menang di quick count, dan tidak ada protes. Hebat bukan? Sekalipun ada kecurangan, yang bahkan kecurangan yang telah diambil gambarnya oleh TV. Kenapa? Karena ada jaringan yang secara hebat bekerja dan mempengaruhi untuk tidak tercipta protes dan lain-lain. Yang jelas karena SBY didukung oleh AS. Berbeda dengan kejadian di Iran, ketika Ahmadinejad memenangkan PILPRES baru-baru ini. Tiba-tiba muncul isu kecurangan (yang tidak terbukti sama sekali) dan terjadi protes di mana-mana. Lalu, tiba-tiba ada seorang demonstran wanita yang tertembak. Lalu, CNN memberitakan berkali-kali selama hampir 4 jam tanpa putus, dan selama beberapa hari yang mampu mengarahkan opini dunia seakan Ahmadinejad yang menembak sendiri demonstran tersebut. Dan lihat juga, televisi di Indonesia yang juga turut menyiarkan secara berulang-ulang sampai beberapa hari. Bandingkan dengan pemberitaan tentang pembunuhan rakyat di Irak dan Afganistan oleh tentara AS yang hampir setiap hari terjadi. Yang jumlahnya mencapai ratusan ribu orang. Benar-benar mengerikan namun tidak pernah diberitakan. Sehingga rakyat di dunia menganggap Presiden Iran penjahat dan presiden Amerika adalah orang baik. Untunglah, rakyat Iran cukup solid dan tidak mudah diinfiltrasi dan diadu domba lebih jauh.

Opini melalui media massa adalah salah satu alat yang paling utama di gunakan oleh AS dan sekutunya untuk terus menguasai dunia. Lihatlah Israel yang menjajah dan bertindak brutal dengan menembaki demonstran Palestina, bahkan menyerang rakyat tidak berdosa Palestina secara membabi buta. Namun, opini di dunia panggung di setting atau di arahkan sedemikian rupa untuk menutup-nutupi kejahatan Israel di Palestina. Sekalipun secara resmi Badan Dunia telah menyatakan Israel telah melakukan kejahatan perang di Palestina. Bahkan, media massa bisa digiring ke opini bahwa kelompok Hamas lah yang bersalah. Luar biasa bukan?

Apakah benar media massa Indonesia semudah itu dipengaruhi pemberitaannya oleh agenda konspirasi global? Saya tidak tahu secara persis. Namun, coba pertanyaannya dibalik, sejauh manakah para pekerja media massa Indonesia menyadari sepenuhnya akan adanya teori konspirasi global tersebut? Mungkin kawan-kawan dari media massa yang paling berhak untuk menjawab secara jujur dan kritis masalah ini.

Kasus di Majalah Time di mana SBY ditempatkan sebagai 100 tokoh yang paling berpengaruh di dunia. Setelah di chek berkali-kali, ternyata nama SBY tidak termasuk dari 100 tokoh tersebut, bahkan nama SBY tidak tercantum di daftar kandidatnya yang berjumlah 203 orang. Tetapi majalah Time, memuat foto 100 tokoh tersebut di sampul halaman, dan ada gambar SBY. Kok bisa ya? Begitukah cara salah satu mesin inteligen AS bekerja? Dan hebatnya, di Indonesia, ketokohan SBY di Majalah Time itu diiklankan diberbagai media massa. Anehnya, hampir tidak ada media massa yang mau mengulas kebohongan tersebut. Hanya sedikit sekali di metro TV yang pernah saya lihat ditengah malam hari.

Dana kampanye yang sangat besar dari ketiga capres Indonesia. Dari mana mereka mendapatkan, dan seberapa besar yang telah dikeluarkan? Dari tahun ke tahun, rakyat Indonesia tidak pernah benar-benar tahu karena masih lemahnya sistem keterbukaan terhadap keuangan di Indonesia. Dan ini adalah celah yang sangat mudah disusupi dipermainkan oleh orang luar yang memiliki kepentingan. Dan bisa saja, ketiga Capres mendapatkan dukungan dana dari luar. Tetapi, kita tidak pernah tahu dan tidak pernah terungkap.

Berbondong-bondongnya partai Islam berkoalisi dengan Partai Demokrat dan SBY, tentu bukan kejadian yang normal dan natural. Karena ada jaringan inteligen AS dan jaringannya di Indonesia yang ikut bermain. Coba kita pikirkan lagi secara mendalam, alasan apa sesungguhnya yang membuat partai-parti berbasis Islam sedemikian mudahnya bergabung dengan SBY? Apakah hanya murni masalah kekuasaan? Menurut saya tidak, karena sekalipun mereka memang juga rakus kekuasaan, tetapi ada ideology yang masih tersisa yang membuat mereka harusnya tidak semudah itu berkoalisi dengan SBY.

Dan berbagai fakta yang lain yang masih sangat banyak yang bisa kita temukan, yang kalau kita mau berpikir kritis dan mendalam akan benar-benar terungkap adanya AS dibalik PILPRES 2009.

Sehingga kemenangan SBY bukan ditentukan oleh rakyat, tetapi ditentukan oleh Kekuatan Asing bernama Amerika Serikat dan sekutunya. Intinya AS dan sekutunya bisa menaikkan atau menjatuhkan popularitas seseorang dalam waktu singkat dan secara sistematis tanpa rakyat kebanyakan menyadarinya. Bahasa kasarnya adalah kalau tiba-tiba secara tidak sengaja anda menginjak semut. Lalu semut itu mati karena anda. Lalu di blow up sedemikian rupa di media massa. Maka akan sanggup membuat orang yang melihatnya menjadi sangat kasihan kepada semut yang terinjak dan mati tersebut, dan kemudian menyalahkan anda sebagai orang yang tidak bertanggungjawab dan kejam karena telah membunuh semut.

Pertanyaan penting berikutnya adalah Tidak adakah orang-orang ditingkat elit dan orang pandai di Indonesia yang mengetahui hal ini? Saya yakin sudah banyak yang tahu. Karena disamping orang-orang pintar, Indonesia juga memiliki intelegen Negara, yang sekalipun lemah tetapi cukup mampu untuk mengungkap adanya konspirasi ini.

Terus kenapa diam saja?
Ada beberapa hal menurut analisa saya :
Ada yang memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan jabatan dan kekuasaan. Bukannya untuk melawan infiltrasi dan pengaruh luar atau kontra inteligen. Dan biasanya dimiliki oleh orang yang bermental antek atau begundal penjajah, haus kekuasaan dan tidak peduli pada nasib rakyat dan bangsa Indonesia. Sekalipun di media, mereka tampaknya sangat peduli dan memikirkan rakyat.

Ada yang mencoba untuk melawan dan mengajak rakyat Indonesia untuk mampu melawan agenda AS dan sekutunya (penjajah), namun karena tidak kuat oleh serangan balik para penjajah, lalu menjadi putus asa. Mereka biasanya dicitrakan buruk oleh media massa dan tidak disukai oleh rakyat.

Ada yang mencoba untuk melawan tetapi dengan setengah hati. Karena memiliki kepentingan lain, dan takut kepentingannya dihancurkan oleh AS & Sekutunya. Mereka secara perlahan-lahan kemudian disingkirkan oleh para penjajah dari pentas atau arena kekuasaan.

Ada yang masih berjiwa muda saat ini, yang sedang membangun konsolidasi gerakan untuk melawan agenda penjajahan. Berjuang menyadarkan rakyat untuk bangkit dan sadar sepenuhnya bahwa Indonesia masih terjajah. Dan pada suatu saat nanti mampu melawan, membebaskan Indonesia dari penjajahan dan menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang maju, bangsa yang besar dan bermartabat.

Evo Morales presiden Bolivia, adalah salah satu contoh pemimpin yang tidak disukai oleh AS dan sekutunya, namun akhirnya mampu memenangkan pemilihan presiden. Dan sekarang Bolivia menjadi lebih maju. Evo Morales telah menasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak multinasional miliknya para penjajah. Sehingga di media massa jaringan milik AS dan sekutunya selalu mencitrakan Evo Morales dan Bolivia secara buruk. Dan begitulah memang maunya AS & Sekutunya, yang akan berjuang dengan segala cara untuk menggangu rakyat Bolivia dan menggulingkan Evo Morales.

Sukarno digulingkan bukan oleh Suharto, tetapi oleh kekuatan besar seperti AS. Suharto hanyalah bagian dari alat penjajah. Suharto bisa menggulingkan Sukarno dan menghilangkan pengaruh Sukarno di mata rakyat karena dukungan yang luar biasa besar dari AS. Data-data tentang hal ini sudah mudah kita dapatkan di buku-buku yang bercerita tentang peran CIA dalam penggulingan Sukarno.

Kalau Negara lain bisa, seperti Cina, Iran dan Bolivia, mengapa Indonesia tidak?
AS dan sukutunya sebenarnya sudah mulai berkurang kekuatannya, karena semakin banyaknya Negara yang kaya sumber daya alam yang bangkit melawan penjajahan seperti Iran dan Bolivia. Juga Negara yang banyak penduduknya seperti Cina. Sehingga terjadilah Krisis keuangan di negara penjajah tersebut. Sehingga saat ini adalah saat yang tepat bagi kita rakyat Indonesia untuk mulai bangkit dan melawan agenda-agenda penjajahan. Salah satunya adalah melawan neoliberalisme.

Karena kekayaan AS dan sekutunya di dapatkan dari eksploitasi sumber daya alam dan rakyat dari Negara jajahannya seperti Indonesia. Seperti Belanda yang menjadi kaya dan maju karena menjajah Indonesia selama 350 tahun. (Oleh:  Maskoen Maulana Djati)