Bila kita renungkan sejenak kondisi hidup bernegara kita mungkin membuat kita semakin putus asa sebagai warga negara yang cinta tanah air republik indonesia.

Tidak henti-hentinya berbagai masalah yang melanda setiap umat manusia di bumi pertiwi ini, belum saja rakyat berakhir bicara dan menuntut terhadap negara soal kemiskinan, pengangguran dan lapangan pekerjaan, penegakan hukum, kesehatan yang layak, pendidikan yang mencerdaskan, yang dirasa masih jauh harus melangkah kedepan apa yang menjadi tujuan hidup sebagai warga negara yang merdeka yaitu “kesejahteraan”. Konsep demokrasi serta mengatasnamakan demokratisasi yang terus menerus dikumandangkan oleh para elit politik dan penguasa dimana selalu dijadikan pijakan dalam menjalankan politiknya untuk sampai pada kekuasaan, para elitpun yang terus menerus saling curiga-mencurigai serta saling tuduh-menuduh dan bahkan saling menyalahkan demi kekuasaan semata, betapa sengsaranya rakyat indonesia hidup di bumi yang penuh gunjingan-gunjingan manusia yang rakus dan tamak atas kekuasaan. pertanyaannya berikutnya apakah kita benar-benar sudah berdemokrasi? Sangat ironi para pemimpin dan elit politik dinegri ini yang mengatasnamakan demokrasi dan damokratisasi tapi tidak mempunyai sedikitpun yang tertanam didalam jiwanya untuk berdemokrasi, seolah-olah tidak ada lagi tempat yang bisa untuk menghindar dan bersembunyi dari cengkraman-cengkraman untuk hidup layak dan nyaman di negeri yang kaya dan merdeka dari kolonial penjajah. Salah satu contoh persoalan pemilihan presiden dan wakil presiden yang baru saja usai yang masih menimbulkan gejolak-gejolak yang fundamental di kalangan masyarakat, ditambah lagi dengan terorisme yang membuat panik dan menakutkan masyarakat banyak yang melanda jakarta pada hari jumat pagi (17/7) kemarin.

Sikap Para pemimpin serta elit politik yang seharusnya menunjukan jiwa kepemimpinan dan kenegarawanan yang tegar dan siap menghadapi segala sesuatunya, bukan justru hanya melinangkan air mata disaat berbicara dihadapan rakyat atau bahkan saling menyalahkan diantaranya ketika rakyat membutuhkan sosok seorang pemimpin yang tangguh dan sanggup untuk melindungi warganegaranya dari berbagai aspek ancaman yang melanda atau disaat rakyat mendapat musibah. Bahkan seharusnya bersama-sama menunjukan kebersamaan menghadapi persoalan-persoalan darurat di negeri ini tatkala seperti pilpres (DPT) dan pengeboman yang terjadi di hotel JW Mrriott dan Ritz-Carlton, agar nantinya rakyat dapat menyandarkan harapan besar atas penderitaan yang mereka hadapi, bukan saling sindir disaat-saat rakyat dalam ketegangan dan kepanikan “bahwa siapa dalang dibalik pengeboman” yang mengguncangkan kota jakarta itu, dan atau “siapa yang salah dengan masalah DPT”. Sangat ironis bila persoalan terorisme, ancaman yang begitu membahayakan disandingkan dengan politik kepentingan antar kandidat yang seharusnya tragedi pengeboman tersebut yang dapat dijadikan isu musuh bersama oleh para elit-elit politik.

Bisa dibayangkan jika bangsa ini tidak lagi mampu mempertahankan sebagai bangsa yang merdeka dari berbagai persoalan akibat para elit politik serta para pemimpin yang rakus kekuasaan. Bisa dipastikan juga takkan mungkin hilang himpitan-himpitan rakyat dari ancaman-ancaman yang menghawatirkan seperti masalah kesejahteraan rakyat, penegakan hukum, privati asing, serangan teror (keamanan) dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab serta hilangnya demokrasi dinegri ini, maka punahlah bangsa ini sebagai bangsa yang memiliki kredibilitas dan merdeka dimata bangsa lain. Yang jelas siapapun dibalik dalang pengeboman JW Mrriott dan Ritz-Carlton, serta dibalik dalang masalah kesejahteraan rakyat dan privatisasi asing yang tak kunjung dipertanggungjawabkan oleh pihak-pihak yang terkait dan berwenag adalah perbuatan hina dan memalukan untuk bangsa indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan kaya atas sumberdaya yang dimiliki.

Betapa indah suatu ungkapan yang harus didengarkan oleh para pemimpin dan elit politik dinegri ini “Barangsiapa yang mengetahui kredibilitas saudaranya dalam agamanya dan berada dijalan yang lurus, maka janganlah dia mendengarkan gunjingan orang-orang terhadapnya. Sebab, sesungguhnya seorang pemanah terkadang melepaskan panahnya namun panah itu meleset dari sasaran. Demikia pula pembicaraan, terkadang ia direkayasa dan kebatilannya membinasakan. Dan Allah maha pendengar lagi maha menyaksikan. Ketahuilah sesungguhnya jarak antara kebenaran dengan kebatilan hanya empat jari (sangat dekat)”. (Ali Bin Abitholib). (Oleh : Sumiardi)