Yogyakarta – Seperti biasanya program acara “Berani Bicara” salah satu program unggulan TVRI Yogjakarta merupakan program untuk kaula muda mahasiswa yang berisi tentang pembahasan isu-isu di masyarakat dan dikupas dengan debat diatas podium dengan berbagai argumen menyertainya.

Selasa (30/06) program Berani Bicara yang mengusung slogan “kritis, sportif dan argumentatif” yang ditayangkan oleh TVRI kali ini mengundang dua narasumber organisasi mahasiswa yaitu HMI-MPO Cabang Yogyakarta dan KAMDA KAMMI Wilayah DIY. Untuk tema yang diangkat dalam acara debat kali ini adalah “Penangkapan Teroris Jelang Pilpres, Kampaye Terselubung kah?”. Program acara yang berdurasi 30 menit ini rencananya akan ditayangkan pada hari Rabu (01/07) pukul 18.30 di TVRI Yogyakarta.

Suasana di studio TVRI terasa meriah dengan hadirnya dukungan suporter kedua kubu baik itu HMI dan KAMMI. Program acara debat ini dipimpin dengan moderatornya Norman Nurvita dari TVRI sendiri. Sebelum acara debat ini dimulai, dibuka dulu dengan yel-yelan dari suara suporter kedua belah pihak masing-masing. Mekanisme debat kali ini menunjuk dua orang dari masing-masing kubu untuk mengutarakan opini mereka dengan tema yang sudah ditentukan. HMI mendapat giliran pertama untuk mengutarakan pendapat.”penangkapan teroris menjelang pilpres kali ini dibentuk oleh pemerintah dan pemerintahan sistem akut yang mencoba mengunakan isu teroris dan mendiskriptifkan umat Islam” ujar Pak Iqbal disambut dengan tepuk tangan meriah oleh pendukungnya.

Oleh pihak KAMMI dalam kesempatan kedua mengutarakan pendapatnya “adanya kampanye terselubung hanya opini saja yang dibuat oleh pemerintah. Ada aktor negara dan apartisme oleh negara” ujar perwakilan dari KAMMI. Setelah kedua kubu sudah selesai mengutarakan opininya. Ketua masing-masing organisasi mulai naik di podium untuk berdebat dengan iringan yel-yelan dan lagu dukungan oleh suporter masing-masing kubu. Pihak HMI diwakili oleh Puji Hartoyo ketua Cabang HMI Yogyakarta dan dari pihak KAMMI diwakili oleh Bung Bahtera.

HMI diwakili oleh Puji Hartoyo mendapat kesempatan pertama untuk berpendapat. “Teroris sebagai opini yang dibuat untuk meningkatkan popularitas. Hal ini dapat di contohkan ketika di Amerika. Presiden sebelum Obama mengunakan isu teroris dalam kampaye pemilu dan itu sangat efektif,” Ujar Puji Hartoyo. “Penangkapan enam orang teroris merupakan incoment bagi SBY karena didukung oleh banyak partai Islam.” kata Puji Hartoyo menambahkan. Dari pihak KAMMI berpendapat ” Islam dijadikan objek sebagai pencitraan jelek. Yang bermain dalam hal ini adalah bukan presiden tapi ada aktor intelektual yang bermain dibelakang.” ujar Bung Bahtera. Suasana studio TVRI terasa mulai panas ketika masing-masing pendukung kedua kubu mulai menyangkal pendapat yang dilontarkan dari perwakilan kubu masing-masing.

Sepertinya kalau debat ini berlanjut waktu durasi 30 menit tidak akan cukup bagi kedua belah kubu untuk mencari kebenaranya. Diakhir acara sebagai pihak ketiga untuk menengahi debat kedua kubu disini adalah Bapak HM Jazir dari (BKPRMI) Yogyakarta mengatakan. “kita semua sepakat umat islam menjadi korban dalam isu teroris ini. Jika dikatakan ini kampanye terselubung dari ketiga calon Capres tidak fokus dalam kampanyenya, kata Bapak Jazir. Dia juga menambahkan “kita ini umat Islam korban kekerasan dalam ruang gelap. Wajar kalau presiden sekarang menangkap para teroris karena ditakutkan nanti menganggu pemilu dan siapa yang mengerakkan dan ada pihak lain yang mengunakan kesempatan ini untuk mencari dukungan hal itu juga dapat dibenarkan.” ujar Bapak Jazir diakhir acara. Diakhiri dengan jabat tangan kedua wakil masing-masing kubu menutup acara debat kali ini. Untuk kedua kalinya kedua belah pihak menjadi narasumber diacara yang sama. Sebelumnya HMI dan KAMMI juga pernah berdebat dengan tema “Haram Golput” di tempat yang sama. (Ismail)