Bingar-bingar politik sudah mulai bermunculan dipermukaan. Isu dan wacana mencoba dimunculkan untuk mendapatkan simpati masyarakat supaya nantinya pada tanggal 8 Juli 2009 dapat menjadi orang nomer satu di negara Indonesia ini.

Banyak permasalahan yang melanda bangsa Indonesia ini dan tidak pernah selesai sampai detik ini. Bangsa ini bangsa besar namun sekarang sudah sirna oleh orang-orang kita sendiri yang menegelamkan kejayaan nama baik bangsa Indonesia ini.

Kongres HMI ke-27 yang diselengarakan di Yogyakarta pada 6-11 Juni 2009 mendatang diharapkan dapat memberi solusi perubahan yang dapat membantu bangsa Indonesia ini keluar dari keterpurukan dan berbagai masalah yang tidak pernah selasai.

Selasa (02/06) pukul 18.00 HMI di undang TVRI Yogyakarta untuk berdiskusi langsung mengenai tema yang diangkat dalam tema kogres HMI ke 27 yaitu “ Membangun Kemandirian, Kesejahteraan dan Kedaulatan Bangsa.” Dari tema tersebut dikaitkan dengan keadaan bangsa ini terutama dalam pemilu presiden 2009. Siaran ini bertajuk Fokus Yogyakarta dan disisrkan secara langsung.

Muhammad Safi’i mewakili Pengurus Besar (PB) HMI di studio TVRI dalam pengantar diskusi mengatakan “Sistem kenegaraan bangsa ini sudah tidak bisa melindungi keadan rakyat yang tidak mampu. Hal tersebut dapat bisa dilihat ketika modal besar yang berkuasa di Indonesia seperti sekarang. Banyak didirikan mal-mal besar menyebabkan pasar tradisional semakin terjepit dan bahkan menghilang dengan sendirinya.”

Kata Syafii, upaya untuk mewujudkan kemandirian bangsa yakni dengan mengembalikan pasar pada rakyat dan kembali ke pasar tradisional dan negara harus melindunginya dan membuat kebijakan-kebijakan yang pro rakyat.”

Animo warga Yogyakarta dalam acara diskusi langsung ini sangat baik. Hal tersebut dapat dilihat ketika dalam acara diskusi ini membuka telpon langsung pada masyarakat Yogyakarta.

Kidemang, salah satu penelpon mengatakan “Setuju dengan peryataan Muhammad Safi’i mengenai kemandirian bangsa dengan mengutamakan pasar tradisional sebagai basis menuju kemandirian bangsa. Dan adanya pasar moderen seharusnya dikemas untuk rakyat kecil yang kurang mampu.”

Penelpon lain, Air Lambang menyatakan sepakat dengan gagasan dan pemikiran Syaf’I soal kemandirian bangsa. “Cuma yang saya takutkan apakah nanti ketika orang-orang seangkatan mas Safi’i ketika sudah duduk di posisi yang paling tinggi lupa dengan gagasan awal yang pernah di ucapkan,” ujar Bapak Lambang. Diujung pembicaraan pak Lambang berpesan pada pemateri mas Safi’i untuk berkomitmen kembali pada pembukaan UUD 1945.

Acara diskusi yang berdurasi tiga puluh menit ini diahiri dengan suatu harapan dan gagasan yang kongret oleh para penelpon ketika Kongres HMI ke 27 di Yogjakarta nanti selesai mampu memberi solusi pada bangsa Indonesia untuk keluar dari keterpurukan seperti saat ini. (M.Ismail/LAPMI)