Kemajuan dan kesejahteraan daerah tergantung kepada good gavernance (Kepemimpinan yang baik). Hal ini terlihat pergantian pemimpin di Indonesia secara periodik tersebut tidak sepenuhnya akan membawa kemajuan khususnya di daerah Riau. Demikian disampaikan  Chaidir MM, saat menjadi pembicara seminar daerah dan pelantikan pengurus Himpunan Mahasisa islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO) cabang Pekanbaru, Selasa (2/6), di Hotel Mona plaza pekanbaru. Menurutnya sistem kualisi yang dilakukan dalam Pemilihan Presiden secara tidak langsung tidak berpengaruh positif terhadap kemajuan daerah.

”Kita bisa melihat bahwa sistem kualisi yang dilakukan itu hanya semata mata untuk kepentingan belaka,”ungkap Chaidir.

Chaidir menjelaskan, bahwa di Indonesia memang sudah merealisasikan sitem demokrasi, namun belum sepenuhnya. Karena tambahnya, sistem Demokrasi di Indonesia ini masih jauh ketinggalan dari segala bidang, hal itu telihat seluruh kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah itu di banyak dipengaruhi oleh penguasa.

Dalam seminar daerah itu juga Dewan Penasihat Partai Golkar Provinsi Riau, Tamrin Nasution, mengakui kelemahan sistem kualisi partai. Menurutnya, sistem kualisi partai dalam parlemen secara tidak langsung masih ngambang. Karena lanjutnya masih banyak kepentingan-kepentinga dalam berkualisi tersebut.

”Namun kita tidak bisa memungkiri, seperti itulah proses perpolitikan yang ada sekarang ini,” ujar Penasehat Partai Golkar ini.

Untuk mencapai kemajuan daerah itu jelas Tamrin Nasution, butuh pemimpin yang benar-benar menjalankan kewajibannya, dengan menerapkan nilai-nilai kredibelitas, tranparansi, dan partisipasi.

Menurut Tamrin, untuk kemajuan daerah khususnya Riau, perlu pembenahan disegala bidang. Dia menyebutkan antara lain menanamkan jargon kemajuan perekonomian rakyat, mengedepankan hak-hak rakyat. Tamrin juga perlunya pengalangan aset-aset produksi serta mentranformasikan pendidikan, politik dan ekonomi.

Mengakhiri seminar daerah tersebut, pembicara seminar DR Mawardi LC, mengatakan, bahwa menjelang pemilihan presiden, bahwa kriteria pemimpin dalam islam harus mempunyai sifat jujur serta amanah. Sehingga lanjutnya, pemimpin yang terpilih benar -benar mengedepankan kepentingan rakyat, bukan kepentingan pribadi atau kelompok.

Mawardi mengharapkan, dalam memilih pemimpin dan wakil rakyat, memang betul-betul dilihat dari segala aspek. Agar rakyat tidak merasa menyesal dalam memilih pemimpin tersebut.

”Kita ingin perubahan, jadi perubahan itu akan kita wujudkan melalui pemimpin yang jujur dan samanah melekat di dadanya,” harap Marwadi. (Triono Hadi)