Jakarta – Mantan ketua umum PB HMI, Akbar Tanjung, berpeluang besar menjadi wakil presiden SBY yang akan diusung Partai Demokrat. Akbar Tanjung dinilai memiliki kelebihan dibanding calon-calon wakil presiden lain seperti Sri Mulyani, Hatta Rajasa, Hidayat Nur Wahid, Aburizal Bakrie dan Fadel Muhammad.

Demikian diungkapkan pengamat politik Bima Aria, (25/4), dalam acara “Membedah Cawapres SBY 2009”, di hotel Bidakara yang diselenggarakan Kader Muda Demokrat (KMD). Bima mengatakan, dari lima kandidat yang berpotensi mendampingi SBY dalam Pilpres, Akbar Tanjung memiliki peluang yang lebih besar. “Akbar Tanjung punya kekuatan pada skill politik dan jam terbang di parlemen yang sudah tinggi. Kalau SBY menggandeng Akbar, maka ini akan memainkan peran untuk membangun stabilitas di parleman,” ujarnya.

Ke depan, kata Bima, kongkrit SBY membutuhkan dukungan parlemen yang kuat. Ini diperlukan untuk melanjutkan pemerintahan di tengah fragmentasi koalisi yang muncul dan mengharuskan Partai Demokrat berhadapan dengan partai-partai lain di parlemen. Belum lagi pemerintahan ke depan juga masih menghadapi krisis global yang  terjadi. “Dengan jam terbangnya yang sudah tinggi, besar kemungkinan kalau Akbar Tanjung yang dipilih maka parlemen bisa dikendalikan,” katanya.

Dengan pengalaman yang dimilikinya, Akbar Tanjung bisa menjadi operator untuk mengendalikan parlemen. Apalagi kalau Partai Golkar kemudian juga mendukung Partai Demokrat. Ini tentu akan sangat strategis dalam menjalankan pemerintahan ke depan. “Cuma Akbar Tanjung juga punya kelemahan pernah tersangkut kasus Buloggate. Belum lagi kondisi Golkar yang sekarang ini sangat dinamis. Ini tentu membuat SBY berhati-hati memilihnya,” ujar Bima.

Bima mengatakan, calon-calon lainnya tetap memiliki kelebihan. Tapi juga harus dihitung kelemahan yang ada pada mereka untuk mendampingi SBY. Sri Mulyani memiliki chemistry yang bagus dengan SBY dan sudah terbukti melalui pemerintahan. “Tapi dia berasal dari kalangan non partai sehingga susah diandalkan untuk bermain menghadapi parlemen. Belum lagi soal ideologi. Dia dianggap dekat dengan Amerika Serikat dan penganut mahzab neo liberalisme,” katanya. Kalau Sri Mulyani yang dipilih, isu Pilpres akan sangat ideologis dan dimainkan oleh partai-partai yang menyatakan sebagai blok perubahan. Sri Mulyani juga dianggap jauh dari representasi Islam serta tidak popoler di tingkat bawah.

Sementara Hatta Rajasa, memiliki kelebihan sudah terbukit bisa membangun chemistry dengan SBY selama ini. Apalagi juga pencitraannya relatif baik dan tidak ada hal-hal yang kontroversial. Disamping itu juga punya pengalaman di parlemen sebagai ketua fraksi, dan di pemerintahan menjadi menteri perhubungan serta menteri sekretaris negara. “Tapi PAN sampai sekarang tidak jelas. Kalau Soetrisno Bachir ke Gerindra, dia tidak punya kekuatan untuk menggalang di parlemen,” tandasnya.

Untuk Hidayat Nur Wahid, dia dianggap memiliki peluang membangun popularitas dan elektabilitas jika dipasangkan dengan SBY. Cuma SBY akan berhitung, terutama dalam konteks hubungan internasional. Sebab Hidayat Nur Wahid bagian dari PKS yang kurang diterima dalam konteks internasional. “Hidayat Nur Wahid dianggap mewakili PKS yang memiliki agenda sendiri. Karena itu menurut saya rendah peluangnya dipilih SBY,” paparnya.

Sementara untuk Aburizal Bakrie dan Fadel Muhammad dianggap memiliki peluang lebih kecil untuk mendampingi SBY. Sebab mereka dianggap memiliki persoalan terkait Lapindo Brantas dan kasus hukum yang dihadapi. Ini tentu akan berpengaruh terhadap pandangan masyarakat.

Trisno Suhito