Pasca reformasi peran HMI MPO mengalami penurunan drastis. Organisasi kemahasiswaan ini kini dianggap kurang tegas memposisikan dirinya dalam konstalasi gerakan kemahasiswaan dan kepemudaan. Singkat cerita HMI MPO kini bagai macan ompong. Demikian benang merah yang didapatkan HMINEWS ketika mewancari sejumlah kader HMI MPO mengenai peran HMI MPO.

Formatur HMI MPO  Cabang Semarang, M. Tohir mengatakan penurunan peran HMI ini dapat dilihat dari arah kebijakan politik yang dilakukan PB HMI dalam menyikapi isu-isu eksternal yang terkesan mandul.

Menurut Tohir, turunnya peran HMI MPO  selainnya disebabkan karena permasalhan eksternal HMI MPO, pengurus PB HMI MPO juga dinilai kurang melakukan pendekatan kepada cabang sehingga HMI terjerambab seperti sekarang.

“Permasalahan internal PB HMI MPO juga sangat mempengaruhi kondisi keseluruhan Hmi, sehingga efeknya HMI seperti saat ini”, tambah Tohir.

Senada dengan Tohir, Mahful Haruna ketua umum HMI MPO  Cabang Palu melihat adanya stagnasi dalam tubuh Hmi. Menurutnya ketidaksolidan pengurus dan kurangnya komunikasi antar pengurus menjadi salah satu penyebab.

Suryadi Nomi, mantan aktivis HMI MPO Cabang Jakarta Selatan malah mengatakan HMI telah gagal memerankan peran strategisnya sebagai mahasiswa yang sejak awal berlawanan dengan rezim orde baru.

Ketika dikonfirmasi soal kemunduran ini, Ketua umum PB HMI MPO Sahrul Efendi Dasopang mengakui bahwa kepengurusannya menghadapi banyak persoalan baik  internal dan eksternal.

“Dalam konteks saat ini kita belum menemukan ideologi yang jelas terhadap organisasi dan tidak ada wacana penggerak bagi kader untuk bergerak memajukan organisasi,” terang Sahrul.

Dalam kondisi seperti itu, menurut Sahrul seharus HMI MPO bisa mengaskan dirinya serta tidak menjadi organisasi yang ambigu.

“Kita harus menegaskan, apakah kita tetap menjadi HMI MPO atau kita membuat organisasi baru.” (Daimah)