Akhir pekan (29/3) yang renyah, nampak dinamika aktivitas di salah satu area kampus Universitas berpangkat Jenderal Soedirman ini. Settingan tempat yang formal awalnya membuatku menyalahkan diri sendiri yang lupa berganti sandal jepit walaupun setelan batik rapih telah dikenakan sepulang dari kegiatan di masjid tadi. Namun, siang ini ada sebuah undangan talkshow ” Catatan Kaki Seorang Dokter di Gaza”, dengan menghadirkan keynote speaker :  dr.Joserizal Jurnalis, SP.Ot.

Nama Joserizal memang bukan nama asing di Indonesia. Selain menjadi nama salah seorang penyair tenar…nama Joserizal dikenakan pula oleh salah satu putra terbaik bangsa yang mengabdikan dirinya di dunia medis. dr.Joserizal adalah salah satu dokter yang menjadi relawan dari MER-C Indonesia yang ditugaskan di Palestina saat agresi militer Israel beberapa tempo lalu. So, mengingat banyak ilmu yang bisa didapat, sandal jepit yang terkesan nggak matching itu membuatku cuek dan berkilah…“who care??!!”

Dijadwalkan dimulai pukul 10.30 WIB ternyata time error sekitar 30 menit. Beberapa tamu yang hadir -nampaknya para medisian yang fundamentalis – kemudian menyerukan panitia untuk lekas dimulai mengingat nanti bisa memotong waktu Dzuhur. Setelah dibuka oleh dua mahasiswa(i) dari jajaran Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Peternakan UNSOED, acara dimulai dengan dimoderatori oleh dr.Tarqib. Gaya kocak sang moderator lumayan membuat suasana cair, dan tanpa menunggu lama sang keynote speaker pun menyampaikan ulasannya.

Tragedi Gaza bak sebuah luka yang bekasnya menimbulkan luka perih yang menyebar dan menghujam di hati seluruh umat dunia. Hanya manusia yang punya hati yang mampu melihat tragedi itu sebagai sebuah tragedi kemanusiaan yang memilukan. Gaza adalah salah satu contoh saja dari sekian banyak konflik di dunia ini yang mampu membuat manusia seperti tak memiliki nilai dengan  dibantai tanpa tedeng aling-aling. Sebuah tanya retoris di awal ulasan pak dokter Jose, “Kenapa Gaza?”, karena disanalah kita menghadapi “mbahnya teroris” dengan kontak fisik secara langsung. Kekejaman yahudi Israel bukan hanya membuat dunia gempar, namun lebih jauh dari itu, masa depan saudara-saudara kita di Gaza terenggut oleh serpihan fosfor putih.

Gaza yang mengundang lautan simpati dan keprihatinan menggerakan ratusan relawan yang mencoba mengabdikan potensinya untuk menolong saudara-saudara yang menjadi korban. Bukan hanya ada MER-C disana, ratusan lembaga relawan juga tak absen hadir disana termasuk pula lembaga-lembaga non muslim. Namun menurut cerita bang dokter, mereka itu masuk setelah gencatan senjata. Sedangkan MER-C masuk ke Gaza saat peperangan masih berlangsung. Ikhlas menjadi amunisi yang kuat bagi perjuangan teman-teman di MER-C. Dalam kesempatan itu Joserizal tak lupa menceritakan ihwal MER-C ini dan dari diskusi yang ada juga banyak audiens yang menanyakan kaitannya mengenai independensi lembaga ini. MER-C adalah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis dan berasaskan Islam serta berprinsipkan rahmatan lil alamin.

Abang dokter yang putra melayu ini menyuguhkan tayangan video perjalanan jihadnya bersama beberapa rekan yang tergabung di MER-C(Medical Emergency Rescue Committe ) Indonesia di Gaza, Palestina. Bukan sebuah travelling yang penuh hura-hura atau piknik yang fresh..tapi tim relawan dokter itu tetap nampak have fun dengan ghirah perjuangannya. Video itu tampak membius ratusan audiens yang telah diundang oleh DDII dan BEM Fapet UNSOED – Purwokerto selaku penyelenggara event tersebutt. Sekitar 120 peserta memadati ruang seminar I di lt.3 Gdg Fak.Peternakan UNSOED.

Bang joserizal bisa dibilang salah satu sosok intelektual profetik yang bisa kita tiru. Wawasannya yang luas membuat alumni FKUI ini mampu membaca masalah secara komprehensif. Beberapa kali terulang di  ucapan si abang mengenai intelektual-intelektual di negara kita yang kini mudah lena oleh kipasa dollar. Sains for sains, -menurut bang jose harus dapat menjadi prinsip bagi para ilmuwan apapun bidangnya. Ungkap sang abang, orang pinter di Indonesia (baca : intelektual) mudah dibeli kapabilitas keilmuannya hanya dengan kipasan dollar atau tawaran beasiswa misalnya.

Saat ini jeratan neoliberalisme yang menurunkan paham-paham sejenis kayak kapitalisme memang sudah menggurita dengan berbagai form-nya. Beberapa skandal seperti kasus virus H5N1 menjadi salah satu contoh yang dikisahkan oleh Joserizal. Ngeri juga sieh kalo kita tahu bagaimana “cerdik”nya para antek kapitalis memainkan aksinya. Bukan hanya di bidang medis, pendidikan dan bidang lain juga tak luput menjadi sasaran.

Ulasan ini membuat kita semua merasa perlu untuk memahami filosofis ilmu itu sendiri. Bukannya sok ngefilosofis sieh, tapi dipikir kalo keilmuan yang kita miliki tak mampu menjadi sebuah alat untuk melakukan keberpihakan dan hanya terbius pada kesenangan duniawi saja….kita secara langsung merendahkan ilmu! Kalo kata abang Jose, persepsi Yahudi adalah bahwa ilmu itu : how to get d’money!, kalo kata orang Amerika melihat ilmu adalah ; “how to look the money”. Disini kita melihat adanya perbedaan persepsi mengenai ilmu yang itu berpengaruh pada implementasi yang dilakukan.

So, buat para anak muda kayak kita-kita nih kudu bisa memahami hakikat ilmu yang kita cari selama ini. Biar ilmunya jadi berkah. Perjuangan yang dilakukan dokter Jose adalah salah satu bentuk jihad. Banyak sekali hal yang bisa kita lakukan yang tentunya dengan potensi kita masing-masing. Jangan dikira Yahudi cuma memerangi secara fisik aja!!! Bagi para pejuang medis…berjuanglah dengan ilmunya, bagi para pejuang pena gunakanlah ketajaman pena dan pemikiran, bagi yang punya ilmu di bidang hukum bisa berjuang dengan kemampuannya. Kita adalah kita saat mampu berbuat, saat mampu berkarya untuk hidup ini. Tapi..hati-hati jangan sampai kita nggak bisa membedakan mana yang perjuangan dan mana yang “antek”.

nta