Dalam penelitian-penelitian khasanah kesusasteraan Melayu, terdapat banyak sekali sarjana-sarjana yang mengandalkan pembacaannya dari tangan-tangan sejarahwan lain. Sehingga hasilnya adalah kesalahan-kesalahan kutipan yang tidak disadari. Demikian dinyatakan sejarahwan dan sastrawan Ajip Rosidi, dalam Bedah Buku Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, karya Amin Sweeney, di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Kamis (19/2). Menurut Ajip, kebiasaan asal kutip ini sangat merugikan bangsa. Karena bias-bias yang disengaja sejak pertama kali dikutip oleh pembaca pertama, kemudian diangap sebagai kebenaran.

“Kebiasaan asal kutip para sarjana sastra, dikarenakan mereka malas untuk menelusuri sumber-sumber asli. Sehingga mereka hanya menjadi pembaca tangan yang kesekian. Akibatnya, mereka tidak lagi dapat membedakan mana yang fiktif dan mana yang sejarah,” terangnya.
Lebih lanjut, Ajip menjelaskan, pada zamannya, Pemerintah Kolonial Belanda lebih dahulu “menjinakkan” bahasa Melayu sebelum mereka menggunakannya sebagai bahasa penyelenggara administrasi kolonial. “Budaya Melayu yang terangkum dalam bahasanya, dipangkas dan dibuang. Lebih parahnya lagi adalah, bahwa kejahatan ini kemudian dilanjutkan oleh para sarjana pribumi yang menjadi antek-antek Belanda. Sehingga banyak di antara bangsa ini yang tidak lagi mengerti pada makna keluhuran budayanya sendiri, tandasnya. Sementara itu, sang penulis buku, Amin Sweeney, menyatakan sangat prihatin dengan perkembangan penggunaan bahasa keseharian di masyarakat. Menurutnya, penggunaan bahasa dalam pergaulan masyarakat Indonesia saat ini sangat mengindikasikan adanya penurunan drastis akan kebanggaan dan kepercayaan diri pada bangsanya sendiri.

Rif