Milad HMI ke-62 yang diselenggarakan PB HMI pada 5 Februari lalu di Jl Ubud, Kuningan, Jakarta Selatan, meski terkesan sederhana, namun ada yang menarik. Kalau umumnya diskusi HMI membahas isu-isu politik dan ekonomi kerakyatan, kali ini PB HMI mendiskusikan tentang IT (Information Teknology).

Meski tema diskusi awalnya terkesan dipaksakan “HMI: Perubahan dan Teknologi” namun pada pemaparan pembicara Onno W Purbo yang memang Pakar IT itu akhirnya ketemu juga benang merahnya.

Kang Onno (begitu panggilan akrabnya) sangat aktif mengkampanyekan penggunaan open source untuk meninggalkan dominasi Microsoft yang sangat pelit dan merugikan. Selain karena tidak mempercayai copy right, bagi Onno penggunaan Microsoft hanyalah pemborosan belaka. Banyak hal yang bisa dilakukan ketimbang “memberikan” uang kepada Microsoft.

“Bangsa kita sudah memberikan masukan sekitar U$ 300 juta ke Microsoft dan menjadikannya rangking ketiga di Asia Pasific yang membayar ke Microsoft. Apa mau kita di jajah terus menerus oleh orang Amerika? Duit sebayak itu akan jauh lebih bermanfaat kalau kita berdayakan industri lokal daripada kita bayari orang bule” kata penyandang “Menteri Internet” dari komunitas internet ini.

“Rakyat Indonesia kan ingin supaya bisa hidup sejahtera cuma maunya murah, syukur-syukur gratis, maunya internet murah, maunya telepon gratis, semua itu dimungkinkan dengan IT” tambah Profesor Internet yang lahir 17 Agustus 1962 lalu.

IT itu mahal jika dipakai sendiri, tapi akan jauh lebih murah jika dipakai ramai-ramai. Pada kesempatan itu, Kang Onno juga mendemokan perangkat internet murahnya melalui teknologi wireless.

Wireless internet adalah internet yang menggunakan frekuensi radio dan bekerja pada kecepatan tinggi yaitu 11-54 Mbps, jauh lebih cepat daripada layanan internet melalui telefon yang dikelola PT TELKOM dengan kecepatan maksimum 56 Kbps.

Pemakaian wireless internet memungkinkan akses internet selama 24 jam dengan biaya sangat murah karena wireless internet  tidak akan dikenakan pulsa Telkom, sehingga pemakai hanya dikenakan biaya pembayaran kepada Internet Service Provider/ISP-nya saja.

Sebagai upaya untuk menyebarluaskan informasi kepada masyarakat agar masyarakat secara mandiri dapat lebih maju dalam berbagai hal, tentunya terobosan baru seperti wireless internet ini perlu mendapat perhatian dan dukungan khususnya dari kalangan perguruan tinggi dan pusat-pusat informasi (perpustakaan dll) sehingga seluruh masyarakat dapat menikmati informasi secara lebih ekonomis.

Bahkan apabila masyarakat sudah benar-benar memahami manfaat wireless internet, dapat dibentuk dan dikembangkan jaringan-jaringan di tingkat RT atau RW sehingga biaya pemakaian internet dapat ditekan menjadi sekitar Rp 150 s/d Rp 300 ribu per rumah setiap bulan untuk akses internet 24 jam.

Sejauh ini telah beroperasi di Indonesia 2500+ node dan hal ini diperkirakan akan terus berkembang pesat seiring dengan perkembangan harga berbagai perangkat pendukungnya yang semakin lama semakin murah.

Wireless internet memungkinkan setiap orang yang memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber di seluruh dunia secara cepat dan murah, sehingga transfer pengetahuan dapat berlangsung lebih efektif dan efisien. (Busthomi Rifa’i)