Berbeda dengan kunjungan pejabat Amerika sebelumnya, kunjungan Hillary kali ini mendapat sambutan cukup meriah di Indonesia. Demo menentang kedatangan pejabat tinggi Amerikapun jauh lebih kecil dibanding dengan saat kunjungan pejabat Amerika lainnya seperti saat kunjungan Goerge Bush atau Condoleezza Rice dulu.

Tercatat hanya Hizbuttahrir dan KAMMI saja yang melakukan demo menentang kunjungan Hillary. Entah apa yang menyebabkan Indonesia merasa lebih optimis dan husnudhon dengan kunjungan tersebut; yang jelas mantan Ibu Negara tersebut telah berhasil memainkan peran diplomasinya secara sempurna.

Terlepas dari kehati-hatian adanya kepentingan terselubung dari kunjungan Hillary (sebagaimana disinyalir oleh Pak Amin Rais), barangkali kita bisa mencoba mengambil poin-poin penting dari pidatonya untuk kemudian kita coba refleksikan dalam konteks kebangsaan kita. Setidaknya ada empat poin penting dalam pidato Hillary. Pertama, Indonesia dan AS akan mengembangkan demokrasi. Indonesia bukan hanya dipandang sebagai Negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, akan tetapi juga salah satu Negara demokrasi terbesar di dunia. Artinya, Indonesia dianggap mampu mengawinkan antara Islam dengan demokrasi secara mutual. Dalam suasana genting atas kekhawatiran terjadinya benturan peradaban sebagaimana diramalkan Huntington, Indonesia muncul sebagai sebuah oase yang mencairkan ketegangan antara dunia barat dengan Islam. Indonesia bahkan bisa mengawinkan keduanya dalam sebuah adonan kehidupan kebangsaan yang Islamis-demokratis yang dinamis. Kunjungan ini adalah sebuah pembuktian dari pidato pelantikan Barack Obama sendiri, bahwa Amerika akan memperbaiki hubungannya dengan dunia Islam. Indonesia sebagai Negara muslim terbesar telah memerankan politik mediasi. Dalam posisi ini, mustinya Indonesia konfiden dalam memainkan peran politik kooperatif-obyektifnya bagi penyelesaian konflik-konflik dunia.

Poin kedua adalah penghargaan terhadap Indonesia sebagai tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim (pada tanggal 3 -14 Desember 2007 di Bali). Artinya, oleh dunia, Indonesia bukan hanya dipandang telah berhasil dalam demokratisasi, akan tetapi yang tak kalah pentingnya adalah bahwa Indonesia juga merupakan Negara yang punya peran strategis dalam isu-isu lingkungan hidup. Indonesia adalah paru-paru dunia yang di dalamnya terdapat hamparan 10% dari kekayaan hutan tropis dunia dan lebih dari 15% dari terumbu karang dunia. Mau tidak mau, dunia musti menempatkan Indonesia sebagai salah satu Negara yang paling strategis dalam kelangsungan kehidupannya. Dalam konteks ini, Indonesia sebenarnya punya bargaining terhadap dunia internasional untuk menerapkan model pembangunan yang mensinergikan industri dengan lingkungan hidup. Terhadap industri yang ekstratif dan destruktif terhadap alam, Indonesia musti berani mengatakan tidak! Karena pasti akan banyak pendukungnya.

Adapun poin ketiga dan keempat adalah bahwa Amerika akan memperpanjang pemberian beasiswa bagi sejumlah mahasiswa Indonesia selama lima tahun ke depan dan kedua negara akan merancang kerja sama di bidang teknologi. Kedua poin terakhir ini adalah sebuah keniscayaan bagi sebuah kerjasa sama jangka panjang. Indonesia sekarang perlu mendidik anak bangsa sebanyak-banyaknya agar bisa menguasai teknologi tinggi. Harapannya suatu anak-anak terdidik tersebut akan mengambil peran bukan hanya dalam memajukan akan tetapi juga memandirikan bangsa.

Hubungannya dengan pemberian beasiswa, saya kira bukan hanya mahasiswa Indonesia saja diminta belajar ke Amerika; sebaliknya mahasiswa Amerika juga perlu belajar di Indonesia. Tujuannya adalah agar terjadi kesaling pahaman antara satu dengan yang lainnya. Sehingga suatu saat jika ada kerja sama, kerja sama yang terjadi adalah sebuah kerja sama yang equal. Bukankah selama ini hanya anak-anak Indonesia saja yang dibuat impress terhadap Amerika? Mengapa kita tidak membuat mereka juga impress terhadap Indonesia? Orang-orang Amerika perlu belajar di Indonesia agar meraka tidak mendengar Indonesia dari pihak ketiga. Agar mereka juga memahami bangsa Indonesia sebagai partner, bukan sebagai sebuah bangsa inferior yang bisa dieksploitasi.

Akhirnya, saya ingin menutup tulisan ini dengan kembali menekankan bahwa apapun agenda kunjungan Hillary, kita musti bisa mengambil hikmahnya untuk menjadikan bangsa ini percaya diri dihadapan dunia. Bahwa Indonesia bisa memainkan peran strategisnya dalam percaturan bangsa-bangsa. Tentu dengan syarat, anak-anak bangsa mau bekerja keras dan bekerja sama saling bahu membahu.

Chz
Muhammad Chozin, email: lintangsejati@yahoo.com