Menjelang pemilihan umum legislatif 9 April, partai berlomba-lomba mengiklankan keunggulan partainya. Kini “genderang perang” iklan politik antar partai mulai ditabuh.

Memasuki tahun 2009, iklan politik semakin gencar. Sebelum memasuki tahun baru, iklan politik di televisi masih didominasi sejumlah kecil partai seperti, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Kesejahteraan Sosial (PKS). Kini, hampir semua partai mulai memasang iklan televisi. Gerindra yang dulu setiap saat muncul di layar televisi, kini mulai tersaingi oleh iklan Partai Demokrat, Partai Golkar, Paratai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), dan Partai Hati Nurani rakyat (Hanura).

Iklan partai didesain dengan sedemikian rupa untuk memengaruhi pemirsa. Misalnya Iklan Gerindra menggunakan latar petani, PDIP dengan sembako murah, dan Demokrat dengan keberhasilan pemerintah SBY menurunkan harga BBM.

Suhu politik menjelang 2009 ditengarai semakin memanas. Perang urat syaraf, serang-menyerang telah muncul kepermukaan. Yang terbaru mungkin adalah pernyataan Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla agar tidak memilih parpol yang giat berkampanye menurunkan harga sembilan kebutuhan pokok (sembako). Kalla memang tidak menyebut nama partai tersebut, tetapi jika melihat partai yang mengusung  menurunkan harga sembako tidak lain adalah iklan PDIP yang menjadikan sembako murah sebagai isu utama kampanye.

“Hari ini gampang menurunkan sembako ke Rp3.000, tetapi siapa yang menderita? Ini bahaya untuk petani. Kita tidak boleh pilih partai yang berbahaya untuk masyarakat,” kata Kalla di hadapan kader Partai Golkar Kediri beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan itu, Kalla mengingatkan masyarakat harus cerdas memilih partai yang bisa menyejahterakan rakyat. “Harus yang baik dan membahagiakan petani. Jangan lupa, penduduk Indonesia 45% adalah petani,”ungkapnya. Kalla.

PDIP lantas membantah pernyataan Kalla bahwa sembako murah merugikan petani. Sekretaris Fraksi PDIP di DPR Ganjar Pranowo menandaskan bahwa selain sembako murah PDIP juga berusaha sekuat tenaga agar petani mendapatkan kemudahan dalam proses produksi. “Misalnya, dengan memurahkan harga pupuk.Itu yang kami usahakan,” katanya. Menurut Ganjar,Kalla tidak paham kampanye sembako murah yang digencarkan PDIP.Dia mengungkapkan, iklan PDIP tentang penurunan harga sembako dimaksudkan untuk memberikan kemudahan bagi semua masyarakat kecil. Dengan penurunan sembako, masyarakat di tingkat bawah tidak akan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Jadi, masyarakat tidak menjerit seperti sekarang ini,” ujar Ganjar seraya menambahkan sekalipun saat ini harga BBM turun, harga sembako masih sulit dijangkau masyarakat. Ganjar mengatakan, keterjangkauan sembako yang diiklankan PDIP tidak memperburuk kehidupan petani. Keterjangkauan harga sembako membuat petani ikut menikmati. PDIP rupanya tidak hanya mencoba bertahan dari serangan Kalla.

Sebelumnya kampanye iklan Partai Demokrat juga diserang. Calon presiden yang juga Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat bersikap jujur soal penurunan harga bahan bakar minyak (BBM).

Menurut Mega, penayangan iklan penurunan harga BBM oleh Partai Demokrat bisa menumbuhkan tradisi demokrasi yang kurang sehat karena mengklaim apa yang bukan menjadi prestasinya. Dalam jumpa pers di Megawati Institut beberapa waktu lalu, Sekretaris Jenderal DPP PDIP Pramono Anung menyampaikan bahwa Mega mendesak pemerintah tidak mencari popularitas dari BBM.

Pramono menjelaskan, bila Presiden SBY tidak menghentikan iklan tersebut, selain bisa menumbuhkan tradisi demokrasi yang kurang sehat, juga mengarah pada pembohongan publik karena menyampaikan informasi yang tidak benar. Alasannya, penurunan harga BBM bukanlah karena usaha SBY atau parpol yang bersangkutan, tapi memang selayaknya turun karena harga minyak dunia juga turun drastis. “Bahkan seharusnya penurunan BBM seperti premium tidak hanya Rp. 1.500 yang dicicil tiga kali.Bisa lebih dari itu,”ungkapnya.

Pramono mencontohkan, pada 2004 (pemerintahan Megawati), ketika harga minyak dunia sekitar USD36,05 per barel,hargaBBMRp1.955.Kini minyak bumi dunia pasarannya USD40 per barel, tapi harga BBM di Indonesia Rp4.500. “Masih jauh lebih mahal dibanding harga di tahun 2004. Idealnya penurunan lebih dari itu.Ini sudah turunnya sedikit, dicicil lagi,”ujarnya.

Pramono menyatakan klaim prestasi penurunan harga BBM oleh SBY dan partai bersangkutan itu melukai rasa keadilan.Tak cuma PDIP, partai lain banyak yang mengkritik, termasuk dari kalangan cendekiawan, politisi, dan pengamat. “Sebab itu memang manipulasi yang kepentingannya hanya untuk menaikkan popularitas saja,”tudingnya.

Di tempat sama Yudi Latief menyatakan iklan yang mengedepankan kebijakan pemerintah menurunkan harga BBM sebanyak tiga kali memiliki kekeliruan dalam berbagai sisi.Menurut Yudi, seharusnya partai pendukung SBY itu mencari indikator lain yang menjadi simbol keberhasilan SBY menjalankan pemerintahannya. “Tiga kali penurunan dalam waktu singkat adalah menunjukkan kegagalan pemerintah yang tidak mampu mendatangkan kajian yang matang dalam menurunkan harga BBM. Tujuannya menunjukkan bahwa pemerintahan ini hanya mencari popularitas,” ungkapYudi.

Yudi mempertanyakan apakah tidak ada keberhasilan lain selain penurunan harga BBM yang bukan pencapaian pemerintah tersebut. “Menurut saya, ini justru menunjukkan bahwa dalam empat tahun terakhir tim kampanye SBY bingung mencari prestasi capaian yang bisa ditonjolkan, sehingga hal remeh-temeh diklaim sebagai prestasi,”ujarnya.

Menangkis serangan dari PDIP, Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum menyatakan, jika dicermati dengan saksama, maka akan terlihat bahwa iklan Demokrat bukanlah klaim. “Itu adalah iklan yang isinya dukungan Partai Demokrat kepada pemerintahan Presiden SBY atas penurunan harga BBM,”ungkapnya.

Karena itu Anas mempertanyakan pihak oposisi di mana dan bagian apa dari iklan tersebut yang menyatakan klaim kerja atau prestasi Demokrat sendiri. Bahkan, dalam iklan tersebut tidak ada klaim keberhasilan Partai Demokrat terhadap penurunan harga BBM. Anas menandaskan, tidak ada yang salah kalau Partai Demokrat menyatakan dukungan kepada pemerintahan SBY atas penurunan harga BBM.

Pengamat politik M Alfan Alfian mengatakan saling serang antar elite partai politik mengenai substansi iklan politik justru akan kontraproduktif terhadap pendidikan politik masyarakat. “Dalam waktu dekat pasti ada serangan balik dari partai politik yang diserang, dan ini tidak elok dipandang oleh masyarakat dan bukan pendidikan politik yang baik untuk masyarakat,”ujarnya. (Busthomi Rifa’i, Wartawan Majalah Medium)