Pengungkapan berbagai fakta sejarah mengenai orang hilang akibat tindakan repressif pemerintah melalui militer (TNI/Polri) terus disuarakan. Prilaku kekerasan Negara terhadap kemanusian telah terbukti ketika rentetan peristiwa yang tersistematis. Demikian pernyataan Komite Aksi Nasional Rakyat Papua Barat (KANR-PB) dalam aksinya di Yogyakarta, Kamis (08/01) silam.

Di hadiri kurang lebih sekitar 50-an massa aksi yang terdiri dari mahasiswa dan warga Papua Barat Yogyakarta, sebagian menggunakan baju adat. Massa aksi melakukan longmarch sepanjang jalan Malioboro menuju perempatan Pos besar Yogyakarta. Kemudian mereka menyuarakan yel-yel perlawanan terhadap sikap pemerintah yang telah menindas rakyat Papua Barat.

Menurut Ketua Adat Papua Barat sekaligus ketua aksi, Hanhansen Manibeu, issu yang diusung kali ini untuk mengungkapkan sejumlah tindakan bejat pemerintah yang telah menewaskan banyak korban sipil berjatuhan.

Komnas HAM seperto dikutip Kompas menyatakan, selama masa kepemimpinan Soeharto, sekitar 10.000 orang Papua ditahan, dan sekitar 100 ribu jiwa menjadi korban pembunuhan dan penghilangan paksa dalam operasi militer di Papua (1976-1995).

“Harapan kita bagi pemerintah SBY dan JK adalah menindak dengan tergas aparat-aparat yang ada di daerah yang telah gagal melaksanakan tugasnya,” kata Hanhansen.

Selain itu, mereka juga menuntut segera dibukanya ruang HAM untuk memberikan jaminan penuh kebebasan dalam menyampaikan pendapat. Serta, menangkap segera pelaku penembakan atas rekan meraka yang bernamaWellinus Kogoya, Anus Paragaye dan Issak Lemauk.

Pengungkapan berbagai fakta sejarah mengenai orang hilang akibat tindakan repressif pemerintah melalui militer (TNI/Polri) terus disuarakan. Prilaku kekerasan Negara terhadap kemanusian telah terbukti ketika rentetan peristiwa yang tersistematis.

Demikian pernyataan Komite Aksi Nasional Rakyat Papua Barat (KANR-PB) dalam aksinya di Yogyakarta, Kamis (08/01) silam.

Di hadiri kurang lebih sekitar 50-an massa aksi yang terdiri dari mahasiswa dan warga Papua Barat Yogyakarta, sebagian menggunakan baju adat. Massa aksi melakukan longmarch sepanjang jalan Malioboro menuju perempatan Pos besar Yogyakarta. Kemudian mereka menyuarakan yel-yel perlawanan terhadap sikap pemerintah yang telah menindas rakyat Papua Barat.

Menurut Ketua Adat Papua Barat sekaligus ketua aksi, Hanhansen Manibeu, issu yang diusung kali ini untuk mengungkapkan sejumlah tindakan bejat pemerintah yang telah menewaskan banyak korban sipil berjatuhan.

Komnas HAM seperto dikutip Kompas menyatakan, selama masa kepemimpinan Soeharto, sekitar 10.000 orang Papua ditahan, dan sekitar 100 ribu jiwa menjadi korban pembunuhan dan penghilangan paksa dalam operasi militer di Papua (1976-1995).

“Harapan kita bagi pemerintah SBY dan JK adalah menindak dengan tergas aparat-aparat yang ada di daerah yang telah gagal melaksanakan tugasnya,” kata Hanhansen.

Selain itu, mereka juga menuntut segera dibukanya ruang HAM untuk memberikan jaminan penuh kebebasan dalam menyampaikan pendapat. Serta, menangkap segera pelaku penembakan atas rekan meraka yang bernamaWellinus Kogoya, Anus Paragaye dan Issak Lemauk.

Massa KANR-PB dalam aksinya juga membawa bendera bergambar wilyah Papua Barat dan foto-foto kekerasan yang dilakukan (TNI/Polri) selama bertugas di Papua Barat. Massa aksi kali ini dikawal ketat oleh sejumlah polisi untuk mengantisipasi dari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Setalah menyampaikan orasi dan membacakan tuntutan terahadap pemerintah, massa KANR-PB membuabarkan diri dengan tertib. (Lutsfi Siswanto)