Tabuh genderang kompetisi panggung politik menuju pemilu 2009 telah bergema keseluruh pelosok negeri, Sebanyak 34 Partai politik yang lulus tahapan verifikasi akan melewati masa kampanye panjang yang melelahkan sekitar 9 bulan, dimulai pada 12 Juli 2008 dan berakhir pada 5 April 2009.

Sejarah panjang bangsa ini mencatat sudah sembilan kali kita menyelenggarakan pemilihan umum, yakni 1855, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999, 2004. Sembilan kali pula bangsa ini memilih para penyambung lidah rakyat dan pemimpin negara. Berkaca pada sejarah masa lalu untuk melihat peran Mahasiswa dalam kancah politik nasional tentu tidak akan lepas dari sejarah awal berdirinya Boedi Oetomo,Indische Vereeninging, dll pada masa itu merupakan suatu episode sejarah yang menandai munculnya sebuah angkatan pembaharu dengan kaum terpelajar dan mahasiswa sebagai aktor terdepannya, yang pertama dalam sejarah Indonesia.

Gerakan ini diawali dari generasi 1908, dengan misi utamanya menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan dikalangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan, dan mendorong semangat rakyat melalui penerangan-penerangan pendidikan yang mereka berikan, untuk berjuang membebaskan diri dari penindasan kolonialisme. Semangat muda yang dihasilkan dari gerakan mahasiswa dan kaum pelajar Indonesia terus berkobar dan mampu menembus batas-batas teritorial atau kedaerahan sehingga kebulatan tekad untuk memperjuangkan satu nusa dan satu bangsa terwujud dengan deklarasi sumpah pemuda indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928. Dalam perkembangan berikutnya, pergerakan mahasiswa sudah menjadi incaran kekuasaan kolonial Jepang yang tidak menginginkan adanya sebuah perlawanan terhadap rejim penguasa pada saat itu, sehingga upaya untuk menggembosi kegiatan mahasiswa ini, Jepang melakukan pelarangan terhadap pergerakan yang berbau politik dengan pembubaran paksa.

Pantang menyerah sebagai symbol kekuatan muda, tindakan perlawan yang diberikan mahasiswa pada saat itu melahirkan gerakan-gerakan bawah tanah untuk menyusun startegi gerakan dan strategi ini berhasil memaksa soekarno untuk memproklamirkan kemerdekaan. Semenjak kemerdekaan itulah, angin segar terhadap pergerakan mulai dirasakan oleh gerakan kaum muda (mahasiswa) yang ditindak lanjuti dengan mengadakan kongres Mahasiswa yang pertama di Malang tahun 1947. Selanjutnya nasib pergerekan yang di pelopori oleh mahasiswa dihadapkan dalam masa pemerintah dengan system Demokrasi Liberal (1950-1959), hal ini tentunya mejadi salah stu masalah tersendiri seiring dengan penerapan sistem kepartaian yang majemuk saat itu, adapun organisasi mahasiswa ekstra kampus kebanyakan telah berada dibawah naungan partai-partai politik. Misalnya, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dekat dengan PNI, Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dekat dengan PKI, Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia (Gemsos) dengan PSI, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berafiliasi dengan Partai NU, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan Masyumi, dan lain-lain.

Pada tahun 1965 dan 1966, pemuda dan mahasiswa Indonesia banyak terlibat dalam perjuangan yang ikut mendirikan Orde Baru. Gerakan ini dikenal dengan istilah Angkatan ’66, yang menjadi awal kebangkitan gerakan mahasiswa secara nasional. Angkatan ’66 mengangkat isu Komunis sebagai bahaya laten negara. Gerakan ini berhasil membangun kepercayaan masyarakat untuk mendukung mahasiswa menentang Komunis yang ditukangi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia). Setelah Orde Lama berakhir, aktivis Angkatan ’66 pun mendapat hadiah yaitu dengan banyak yang duduk di kursi DPR/MPR serta diangkat dalam kabibet pemerintahan Orde Baru. di masa ini ada salah satu tokoh yang sangat idealis tercurahkan untuk bangsa ini,dia adalah Soe Hok Gie.

Realitas berbeda yang dihadapi antara gerakan mahasiswa 1966 dan 1974, adalah bahwa jika generasi 1966 memiliki hubungan yang erat dengan kekuatan militer, untuk generasi 1974 yang dialami adalah konfrontasi dengan militer. Pada tahun.1975 dan 1976, berita tentang aksi protes mahasiswa nyaris sepi. Mahasiswa disibukkan dengan berbagai kegiatan kampus disamping kuliah sebagain kegiatan rutin, dihiasi dengan aktivitas kerja sosial, Kuliah Kerja Nyata (KKN), Dies Natalis, acara penerimaan mahasiswa baru, dan wisuda sarjana. Meskipun disana-sini aksi protes kecil tetap ada. Menjelang dan terutama saat-saat antara sebelum dan setelah Pemilu 1977, barulah muncul kembali pergolakan mahasiswa yang berskala massif. Setelah gerakan mahasiswa 1978, praktis tidak ada gerakan besar yang dilakukan mahasiswa selama beberapa tahun akibat diberlakukannya konsep Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) oleh pemerintah secara paksa.

Beralih pada Gerakan 1998 yang digawangi mahasiswa menuntut reformasi dan dihapuskannya “KKN” (korupsi, kolusi dan nepotisme) pada 1997-1998, lewat pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa, akhirnya memaksa Presiden Soeharto melepaskan jabatannya. Berbagai tindakan represif yang menewaskan aktivis mahasiswa dilakukan pemerintah untuk meredam gerakan ini di antaranya: Peristiwa Cimanggis, Peristiwa Gejayan, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II , Tragedi Lampung. Gerakan ini terus berlanjut hingga pemilu 1999.

Pada tahun 2004 pesta demokrasi digelar pada masa ini menjadi perhelatan konstelasi politik nasional yang banyak menyeret nama dari tokoh-tokoh intelektul mahasiswa untuk terlibat secara langsung dalam pembenahan pemerintahan melalui system yang dijalankan oleh roda kepemerintahn sebelumnya. Ironisnya, semenjak saat itu Nyaris tidak terdengar lagi bahwa aksi jalanan atau yang lebih familiar dikenal dengan parlement jalanan terdengar sumbang. Pertanyaan yang muncul kemudaian, Entah apa yang terjadi dengan mereka? yang jelas keterlibatan mereka juga dalam lingkaran sistem telah menyesakkan ruang penjara ber jeruji tiga (K-P-K). Kini undangan pesta (Pemilu 2009) itu terdengar merdu, menebar senyum aroma racun manis dipelosok negeri. Sementara itu, jeritan rakyat kecil ditengah antrian mengais sesuap nasi untuk pengganjal perut semakin terdengar perih. Kemanakah kepalan tangan kiriang biasa diacungkan sebagai bentuk perlawanan dari gerakan mahasiswa itu. (Lutsfi Siswanto, Penulis adalah Kabid Kastrad dan Lapmi Yogyakarta)