Menyambut pemilu 2009, HMI mengusung isu “Pemilu Bersih untuk Perubahan”. Isu ini dipilih agar pemilu mampu memberi harapan bagi terciptanya demokratisasi yang berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat.

Melalui diskusi intensif di Pleno III PB HMI, (27-28/12), “Pemilu Bersih untuk Perubahan” diharapkan bisa menjadi tawaran strategis bagi HMI untuk merespon dan menyikapi momentum Pemilu 2009. HMI memandang proses penyelenggaraan pemilu harus dilakukan secara jujur, bebas dari praktik kotor a la Machiavelli untuk memperoleh kekuasaan. “Dengan penyelenggaraan pemilu diharapakan akan mampu menciptakan perubahan yang berarti di tengah kompleksitas persoalan masyarakat saat ini,” ujar Ketua Komisi Politik PB HMI Heri Setiawan.

Heri menyatakan, isu “Pemilu Bersih untuk Perubahan” sebagai tawaran agar tidak terjadi banalisasi dalam proses demokrasi yang terbuka sekarang ini. Ia memberi contoh, maraknya Pilkada di berbagai daerah kenyataanya belum membawa perubahan signifikan terhadap tingkat kesejahteraan rakyat. “Saat ini rakyat seperti jenuh dengan pelaksanaan sistem demokrasi yang belum membawa kesejahteraan. Untuk itu di tengah arus demokrasi yang ada, Pemilu bersih harus dilaksanakan demi terciptanya perubahan bagi rakyat,” ujarnya.

Dikatakan, pada mulanya muncul banyak usulan jargon dalam menyikapi pemilu 2009 melalui Pleno III PB HMI. “Namun kawan-kawan sepakat memilih jargon yang merakyat dan mudah dicerna. Dan kita pilih “Pemilu Bersih untuk Perubahan”,” tegasnya.

Untuk implementasi di lapangan, selain release dan penjelasan ke berbagai elemen, PB HMI rencananya akan menginstruksikan cabang-cabang melakukan kampanye besar dan sprodadis tanggal 15 Januari mendatang. (Trisno Suhito)