Tuntutan, seruan, sekaligus tantangan perlunya kebangkitan pemuda untuk mengambil alih kepemimpinan akhir-akhir ini marak. Tuntutan ini tampaknya relevan mengingat kegagalan reformasi yang dulu justru digerakkan oleh pemuda (baca: mahasiswa).

Cara yang digagas adalah melakukan perubahan atau transformasi politik sebagai hal yang paling fundamental. Persoalannya, jika politik tidak berhasil melakukan perubahan, faktor apa yang salah dari lembaga politik tersebut? Setidaknya, ada tujuh faktor yang menyebabkan kondisi tersebut: (1) masalah konsep atau ideologi, (2) sistem, (3) lembaga, (4) strategi, (5) program, (6) implementasi program, dan (7) aktor politik. Persoalan aktor politik yang berpeluang muncul ialah menyangkut visi dan perform.
Visi umumnya bersifat transenden untuk kepentingan mencapai cita-cita politik jangka panjang. Sedangkan kemampuan merupakan kesanggupan implementatif-pragmatik, yang selain skill juga menuntut kemampuan fisik.

Dalam politik yang menekankan pentingnya aktor yang bersifat personal maka persoalan kemampuan individu menjadi hal yang terpenting. Karena itu, sejauh mana politik mampu melakukan perubahan tergantung sejauh mana lembaga politik melakukan tegenerasi terhadap aktor-aktornya. Sebaliknya ada yang berfikir bahwa visi bisa diimplementasikan oleh skill dan kemampuan sistem yang bersifat impersonal. Dalam hal ini yang dilaksanakan bukan regenerasi melainkan rejuvenasi terhadap sang aktor.

Pilihan antara regenerasi dan rejuvenasi atau usaha menyegarkan paradigma jelas mengandung konsekuensi yang berbeda. Bahwa pilihan untuk melakukan, baik regenerasi maupun rejuvenasi sangat terkait dengan keinginan agar politik mampu melakukan perubahan yang signifikan. Sebab, jika keduanya tanpa menawarkan konsep dan perubahan, berarti hanya merupakan suksesi biologis atau sekedar power shift.

Kalau mengengok ke sejarah kita akan dapati betapa besar pengorbanan para pendahulu bangsa yang sangat langka untuk kita dapati sekarang ini. Kepentingan pribadi, kelompok, golongan, atau partai lebih dikedepankan ketimbang kepentingan bangsa dan Negara.

Mengambil sejumput kalimat milik Anhar Gonggong “tak ada lagi sosok bangsa yang berkeinginan untuk berjuang agar mampu ‘melampaui dirinya’, dalam pengertian ia tidak hanya memikirkan dirinya, tetapi juga melakukan pergumulan untuk orang lain”.

Sekarang ini, orang cenderung melakukan sesuatu dalam situasi sesaat. Ketika ia mendapatkan kesempatan lain, maka ia akan mengambil kesempatan itu, karena situasilah yang mendorong ia melakukannya. Hal ini menjadi pembuktian bagi kita, bahwa kepentingan jangka pendek selalu menjadi dasar bertindak yang paling penting. Kita seakan sudah kehilangan ruh dan semangat sebangsa. Padahal, harapan itu akan selalu ada, asal kita mau dan komitmen. (Arya Hermawan; Penulis adalah aktivis mahasiswa (sejak) 1998, jurnalis, praktisi telematika sekaligus konsultan SDM di Jakarta)