Apakah fungsi agama yang sebenarnya? Pertanyaan ini menjadi sangat penting jika melihat fenomena keberagamaan umat Islam dewasa ini. Ada beberapa masalah serius yang kita hadapi saat ini.

Pertama, bangkitnya gerakan baru Islam yang mengusung corak islam yang doktriner dan literal. Kelompok ini memiliki kecenderungan bergerak secara konfrontatif dan ekstrim. Bahkan, tidak jarang mereka bertindak sebagai polisi syariat dan polisi moral dalam memberengus kelompok yang dianggap berseberangan dan “sesat”. Anehnya kelompok ini merasa mendapat mandat dari Tuhan untuk melakukan tindakan anarkis tersebut. Selintas kita lihat tujuan mereka sangat mulia, yaitu membela dan menegakkan agama Allah.  Namun jika dilihat dari langkah anarkis yang dilakukan kita tentu akan sangat ragu dengan niat baik itu.

Keberadaan gerakan ini tentu saja sangat mengancam iklim keberagamaan di Indonesia yang sangat plural. Bahkan konstitusi memberikan kebebasan kepada kita untuk meyakini kepercayaan tertentu. Jika ada satu kelompok keyakinan tertentu yang bertindak anarkis bahkan berniat mengusir kelompok keyakinan lain, maka itu adalah pelanggaran berat terhadap konstitusi Negara ini.

Kedua, maraknya perdagangan ayat-ayat tuhan yang bahkan dilakukan oleh kaum yang merasa santri sekalipun. Atas nama dakwah, mereka berani memasang harga hingga puluhan juta untuk sekali tampil. Dalam hal ini, aktivitas dakwah hanya menjadi tempat transaksi antara konsumen dan produsen. Jika transaksi sudah selasai, maka jamaah akan pulang dengan membawa cerita-cerita lucu dan sang da’i pun kembali dengan setumpuk uang dan ketenaran. Apa yang didapatkan dengan dakwah yang seperti ini?

Bukan hanya itu, media pun sepertinya tidak mau ketinggalan untuk meraup keuntungan dari pasar muslim terbesar di dunia ini. Berbagai tayangan yang dibungkus label islami disodorkan kepada masyarakat luas. Nuansa tahayyul dan khurafat sangat kental dalam tayangan “islami” ini. Apalagi jika tayangan itu juga diakhiri dengan ceramah seorang ustadz kondang, maka semakin kuatlah legitimasi tayangan tersebut sebagai tayangan islami. Ironisnya lagi, ditengah kekhusyukkan umat dalam menyaksikan tayangan yang katanya berreting tinggi itu, tiba-tiba diselingi dengan iklan-iklan yang menampilkan gambar-gambar yang justru sangat tidak islami. Dari sini dapat kita lihat bahwa motif tayangan tersebut ternyata hanyalah bisnis semata.

Dua masalah diatas, dan tentunya masih banyak deretan masalah lain, menunjukkan kepada kita betapa besarnya masalah yang dihadapi oleh umat Islam di Indonesia. Belum lagi jika kita saksikan fenomena yang sangat menyakitkan hati, yaitu fenomena korupsi yang justru dilakukan oleh departemen yang seharusnya diisi oleh orang-orang beriman dan shaleh. Yang lebih menyakitkan, kejahatan ini dilakukan pada saat umat ini sangat kesusahan karena kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat. Kepada siapa lagi umat ini harus mengadu jika lembaga agama saja sudah tidak bisa lagi dipercaya?

Kumpulan para ulama juga ternyata tidak mampu memberikan solusi terhadap masalah yang kita hadapi. Fatwa-fatwa yang diputuskan tidak jarang justru malah memicu konflik diantara umat Islam sendiri. Kita tentu saja sangat merindukan fatwa-fatwa yang berpihak pada kaum mustad’afin, fatwa tentang penggusuran atau fatwa tentang hukuman berat bagi pejabat Negara yang korup.

Hal ini mejadi sangat penting mengingat persoalan terbesar yang sedang kita hadapi adalah kemiskinan ditengah negeri yang kaya raya. Bagaimana mungkin negeri yang sangat diberkati Allah dengan bermacam kekayaan ini harus menerima kenyataan bahwa rakyatnya harus makan nasi aking dan harus antri berjam-jam hanya untuk mendapatkan lima liter minyak tanah.

Pertanyaannya adalah, pernahkan para ulama, pengkhotbah, kaum ekstrimis yang mengaku menjadi tentara Tuhan, atau ustadz yang memasang tarif jutaan melakukan langkah kongkret untuk menyelasaikan masalah ini? Apakah cukup dengan hanya meminta umat bersabar karena setiap musibah ada hikmahnya? Atau dengan dalil bahwa Allah sangat mencintai orang yang bersabar?

Yang dibutuhkan umat adalah langkah kongkret untuk, bukan ceramah-ceramah yang tidak mampu mengatasi kelaparan, kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan sosial lainnya. Bagaimana mungkin seseorang dipaksa beribadah dengan khusyu sementara perut keluarga belum terisi selama dua hari. Bagaimana mungkin seseorang harus dicambuk karena mencuri sedangkan dirumahnya tidak ada satupun yang bisa dimakan. Disinilah pentingnya kita mengkaji kembali fungsi agama bagi manusia dan kepada siapakah agama harus berpihak.

Mempertegas keberpihakan

Dalam al Quran jelas sekali disebutkan bahwa yang disebut al birri kebajikan adalah beriman kepada Allah, nabi-nabi, kitab-kitab dan senantiasa mencintai orang-orang miskin, orang yang meminta-minta, anak yatim dan memerdekakan budak (QS Al Baqarah 177). Tidak ada keraguan sedikitpun bagi kita tentang maksud ayat ini. Yaitu keberpihakan kepada kaum tertindas dan lemah. Ajaran bahwa keimanan harus memberikan implikasi kepada dimensi sosialnya sangat jelas di dalam Al Quran. Dengan kata lain, iman tidak akan memiliki arti sama sekali jika tidak memiliki dimesi social. Tidak kurang dari tiga puluh enam ayat yang mengaitkan iman dan amal shaleh. Diantaranya QS. Al Baqarah; 62, Al Maidah; 69, Al An’am; 54, Al Kahfi; 88, Maryam; 60, dan ayat lainnya.

Langkah yang harus kita lakukan juga telah disampaikan oleh kitab suci, yaitu dengan memberikan sebagian harta kita kepada mereka, memberikan pertolongan, dan memperlakukan mereka sebagai manusia yang mulia. Bukan dengan mengajak mereka bersabar dan terus berdo’a.

Keberpihakan Islam terhadap kaum tertindas memang tidak dapat dipungkiri. Untuk itulah dibutuhkan sebuah gerakan dakwah yang membebaskan (liberaitf) umat dari belenggu ketertindasan. Dan gerakan ini tentu saja harus dimulai oleh para ulama, pemimpin Negara, dan kelompok-kelompok islam yang menjadi panutan masyarakat. Jika ulamanya hanya bertindak sebagai polisi syari’at, para ustadz terus memasang tarif selangit sambil menyuruh umat bersabar atas musibah, media terus membodohi umat, dan kelompok-kelompok agama sibuk berdebat soal mana yang sesat dan mana yang benar, maka jangan harap kondisi bangsa ini akan membaik.

Langkah kongkret harus dimulai sesegera mungkin, para ulama diharapkan mampu menjadi pembela kaum tertindas dengan mengeluarkan fatwa-fatwa tentang menunjukkan keberpihakan itu. Seperti fatwa tentang penggusuran, hukuman bagi koruptor, atau fatwa lain yang mampu melepaskan umat dari ketertinggalan. Begitu juga pemerintah agar senantiasa menunjukkan keberpihakan kepada rakyat miskin dalam membuat setiap kebijakan, ustadz-ustadz diharapkan mampu memberikan ceramah-ceramah yang menggerakan masayarakat untuk saling peduli. Dan ingat, jangan pasang tarif yang memberatkan jamaah. Mudah-mudahan negeri ini mampu menjadi surga bagi para penduduknya. Baldatun thayyibatun waraabun ghafuur. Amiin. (Abrar, Penulis adalah Ketua Umum Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Remaja Muhammadiyah 2006-2008 dan Direktur Qalam Institute for Education and Democracy)