Menjelang Pemilihan Umum Presiden Kampus, kondisi Univesitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mulai tidak kondusif. Persaingan antara Partai Politik Mahasiswa kian memanas, sejumlah pesan singkat berisikan kampanye hitam menyudutkan salah satu pasangan beredar keras.

“Hancurkan Pipo, Hancurkan partai Boenga, karena mereka musuh rektorat dan penolak Senat, ” Jelas Andi Rahman, aktivis PMII Ciputat sambil menunjukkan smsnya kepada HMINEWS.

Menurut Andi, Pipo merupakan salah satu kandidat dari Partai Boenga yang notabanenya adalah aktivis FORKOT, yang selama ini secara terang-terangan mendorong mahasiswa UIN untuk menolak keberadaan Senat dan tetap mempertahankan Student Government yang telah mendarah daging didunia perpolitikan UIN Jakarta .

Alasan penolakan Senat menurut Andi sangat masuk akal karena dianggap akan membungkam kreatifitas mahasiswa. “Ini jelas-jelas kampanye hitam. Karena kalau memang mereka pro terhadap Senat, jangan langsung ditujukan kepada Partai atau calon Presidennya” tambahnya ketika ditemui di Aula Student Center.

Sementara itu Anggota Komisi Pemilihan Umum Kampus, Davi mengaku sampai saat ini KPU belum mendapatkan laporan langsung dari Partai atau Calon Presiden yang dimaksud. “Kami belum mendapat laporan apapun dari partai Boenga,”ucapnya.

Keputusan untuk merubah Student Government kedalam bentuk Senat memang banyak mendapat kritikan dari berbagai pihak. Aditya Prana calon presiden dari Partai Reformasi Mahasiswa (PARMA), mengatakan student government adalah sistem politik yang sesuai dengan kondisi UIN, jadi untuk merubah kedalam bentuk senat memerlukan waktu yang panjang.

Adit mengakui sejauh ini SG yang berjalan di UIN memang belum berjalan maksimal dan masih harus didaur ulang, ” SG belum dapat dikatakan matang, secara konsep SG memang sudah matang, tapi aplikasinya sangat jauh dari harapan”, kata Adit.

Mahasiswa semester 9 jurusan Matematika ini bertekad untuk dapat mewujudkan cita-cita student government yang sesungguhnya, baginya SG yang berjalan di UIN harus diaplikasikan dengan sungguh-sungguh dalam setiap ruang lingkup kegiatan pemerintahan di UIN.

Disinggung mengenai beredarnya sejumlah pesat singkat yang menjatuhkan salah satu rivalnya, Adit menganggapinya dengan dingin, ” itu bukan urusan saya, yang terpenting adalah saya maju sebagai presiden adalah ingin membangun UIN dan sampai saat ini saya tidak menerima pesan singkat apapun”, Jelasnya. (Rita Zahara)