Beberapa minggu terakhir, begitu terasa gegap gempita pemilu di Amerika Serikat hingga ke pelosok pedesaan negeri ini, dan bahkan penjuru lain di muka bumi ini. Pendukung Obama pun bukan hanya ada di negeri Paman Sam saja, banyak masyarakat di Indonesia yang begitu getolnya mendukung Obama.  Tak jarang tokoh politik maupun masyarakat kita yang membandingkan model pemilu di AS dengan pemilu di negeri Indonesia ini. Namun dari sekian banyak orang yang mengikuti pemberitaan pemilu AS tersebut, sedikit sekali yang paham sistem pemilu yang dimenangkan Obama tersebut.

Untuk itu, HMINEWS menyajikan wawancara dengan Syifa’ Amin Widigdo yang tengah berada di negeri Paman Sam dan merasakan langsung heroiknya pemilu di sana.

Berikut petikan wawancaranya melalui surat elektronik:

Seperti apa sebenarnya pemilu di Amerika Serikat?

Pemilihan Umum (Pemilu) Amerika Serikat diselenggarakan setiap dua tahun sekali pada bulan November tahun genap. Pemilu selalu jatuh pada hari Selasa yang jatuh setelah Senin pertama pada bulan tersebut.

Meski diselenggarakan setiap 2 tahun sekali, hanya setiap 2 pemilu, atau 4 tahun sekali, jabatan Presiden AS diperebutkan, dan pemilu yang inilah yang umumnya menarik perhatian dunia, contohnya Pemilu AS 2000 dan Pemilu AS 2004.

Sedangkan Pemilu AS 2002, yang tidak memperebutkan jabatan Presiden, tidak banyak menyita perhatian dunia luar. Pemilu seperti ini disebut juga pemilu paruh waktu (midterm election), karena terjadinya persis pada separuh masa jabatan Presiden yang sedang berkuasa, dan hasilnya dapat diinterpretasikan sebagai evaluasi, dukungan, ataupun penolakan rakyat atas kebijakan-kebijakan Presiden.

Kenapa hasil pemilu di AS begitu cepat di ketahui?

Di AS pemilunya sudah menggunakan tekhnologi, dalam pemungutan suara digunakan ballot machines, yaitu mesin untuk menghitung suara secara secara digital. Dan semuanya online se-Amerika. Jadi hasil pemilihan dapat diketahui dalam hitungan detik.

Ada beberapa istilah dalam pemilu AS yang sering kita tidak mengerti, seperti Electoral Vote, Popular Vote dan The Winner Takes All, Apa maksudnya?

Memang agak pelik. Electoral vote itu mungkin kalau di Indonesia seperti daerah pemilihan (dapil). Popular vote ya jumlah suara pemilih. Tambah pelik lagi, ada istilah “the winner takes all”.
Misalnya aturannya begini:

Di Jakarta ada 7 juta orang (popular vote), dengan electoral vote 5; Di Makassar, yang jumlah penduduknya 6 juta, electoral votenya 4; Di Jawa Timur dengan 10 juta, electoral votenya 8; Di Yogyakarta, dengan 5 juta orang; electoral votenya 3.
Misal:
Karena winner takes all; siapa menang, dia ambil semua electoral vote di negara bagian yang dia menangkan.

DI Jakarta : Obama 4 juta pemilih (popolar vote) , Mc Cain 3 Juta  maka Obama menang, dia ambil 5 electoral vote semuanya.

Di Makassar : Obama 1 juta McCain 5 juta : Mc Cain menang, dia ambil 4 electoral votenya.
Di Jawa Timur :Obama 6 juta Mc Cain 4 juta : Obama menang, dia ambil semua 8 electoral vote.

Di Yogya : Obama 1 juta McCain 4juta : McCain menang, dia ambil 3 electoral vote.

Meski Obama cuma dapat 12 juta popular vote, tapi dia telah memenangkan 13 electoral vote.

McCain yang dapet popular vote 16 juta pemilih, tapi cuma dapet 7 electoral vote.

Dalam kasus ini, Obama yang menang karena dia memenangkan electoral vote.

Bagaimana mekanisme konvensi partai sebelum akhirnya terpilih Obama dan McCain?

Di tingkat konvensi partai; kalau partai Republik hampir sama dengan prosedur pemilihan presiden. Partai Demokrat sangat berbeda.

Electoral vote di tingkat konvensi partai disebut sebagai delegate. Di Partai Demokrat, delegete dipilih melalui dua cara; primary dan kaukus. DI Primary, pemilih nyoblos, yang dihitung kertas suaranya. Di banyak negara bagian; semua boleh milih, anggota partai demokrat ataupun independen. Tapi, ada juga negara bagian yang hanya memperbolehkan anggota partai yang nyoblos, yang bukan anggota tidak diperbolehkan.  Di Kaukus; pemilih harus datang sendiri. Yang dihitung bukan kertas suara; tapi orang yang datang pada waktu itu di TPS. Yang datang di kaukus bisa anggota partai atau independen, tergantung di negara bagian mana. Ada juga kaukus yang hanya memperbolehkan anggota partai untuk datang (turn out). Kekuatan Obama melawan Hillary adalah di negara bagian yang menyelenggarakan kaukus. Para voluntirnya bisa mengajak orang datang untuk milih. Sementara Hillary kurang bagus organisasi kampanyenya.

Jumlah delegete yang diperoleh melalui primary dan kaukus, digabung dengan superdelegete (para petinggi partai, anggota kongres dari partai, para gubernur jagoan partai); mereka itulah yang memilih dan menentukan calon presiden dari partainya.

Di tingkat partai demokrat, tidak diberlakukan the winner takes all. Di partai republik, itu diberlakukan.

Begitulah gambaran kasarnya. (Pewawancara: Busthomi Rifa’i)