Hampir semua mata kaum kapitalis terbelalak ketika melongok harga saham mereka berguguran di lantai bursa New York Stock Exchange (NYSE). Indeks Dow Jones tersungkur, Nasdaq terjungkal, bahkan Bursa Efek Indonesia (BEI) ikut-ikutan terkoreksi dari 2.800 menjadi hanya tinggal 1.400-an.

Konon akibat krisis finansial yang melanda AS ini menimbulkan beban finansial mencapai US$19,2 triliun, ekuivalen dengan Rp189,31 ziliun (18 digit). Sedangkan pemerintah AS berkeinginan mem-bail out beban itu hanya sebesar US$700 miliar (0,37%-nya). Sementara di lantai bursa BEI akibat kejatuhan saham mencapai 47% itu paling tidak Rp818 triliun (15 digit) uang pelaku pasar lenyap ditiup angin ‘economic disaster‘.

Mantan Gubernur Federal Reserve Alan Grenspan mengakui kekeliruannya di Kongres AS akhir pekan lalu soal prinsip koreksi otomatis (self correction) di pasar jika terjadi ‘gempa finansial’. Ternyata gempa yang terjadi begitu liar dan tidak terkendali.

Keserakahan rente

Tak bisa dipungkiri sistem ekonomi kapitalis mengandalkan rente sebagai daya tariknya, bunga berbunga, beranak, bahkan bercucu dan bercicit, dianggap sudah bangkrut.

Kesadaran inilah yang mulai terbangun di kalangan regulator kaum kapitalis. Sehingga IMF, Bank Dunia, bank-bank sentral dan Menteri Keuangan utusan 185 negara medio Oktober 2008 lalu, berkumpul di Washington DC. Mereka berkesimpulan, telah terjadi ‘gempa finansial’ terburuk di dunia dengan AS sebagai titik episentrumnya. Mereka sepakat bahwa diperlukan: reformasi keuangan global, tatanan ekonomi global baru, serta rezim ekonomi baru.

Pada pekan yang sama sejumlah lembaga keuangan global berkumpul di Istambul, Turki, untuk mempelajari ekonomi tanpa rente, ekonomi zero rate, dengan kata lain ekonomi syariah. Seolah mereka sadar akan kegagalan sistem kapitalis.

Krisis global dimulai dari KPR berkualitas rendah di AS dan Eropa, subpreme mortgage. Dari subpreme mortgage lalu diterbitkan derivatifnya mortgage back securities (MBS) dan collateralized debt obligation (CDO). Modus dimana nasabah tetap membayar cicilan kepada bank asal kredit, kemudian bank meneruskan pembayaran kepada pihak pembeli surat berharga derivatif itu.

Bahkan pemerintah AS mendirikan Fannie Mae dan Freddie Mac yang khusus untuk memborong MBS dan CDO. Saat pembayaran cicilan rumah mulai batuk-batuk, saham kedua lembaga keuangan yang tercatat di NYSE itu tergelincir tajam, termasuk saham Citigroup dan UBS yang juga ikut-ikutan memborong. Mereka rame-rame melakukan penghapusan buku, modal tergerus, investor melepas sahamnya.

Tanpa kecuali bank-bank investasi ikut-ikutan memiliki MBS dan CDO, kerugian tak bisa ditolak. Celakanya ditemukan instrumen keuangan derivatif baru bernama credit default swap (CDS), semacam asuransi kredit. Dalam perjalanannya bank investasi yang menerbitkan CDS ternyata tak menyisihkan jaminan, bahkan CDS itu diperjualbelikan. Mereka menerima premi yang besar dan bisa memupuk laba kian besar jika kreditnya lancar. Karena kredit subpreme mortgage macet, MBS dan CDO bermasalah, rambatan masalah itu pun menghantam CDS. Sehingga mata rantai kerugian pokok, bunga, dan derivatif, bahkan derivatif dari derivatif itu menciptakan kerugian kolosal yang amat parah.

Keadaan inilah yang menggerus modal Bear Stearns, Merrill Lynch dan AIG, Goldman Sachs dan Morgan Stanley. (Harinowo, 2008)

Saatnya syariah

Jika demikian benarlah nasihat para cerdik cendikia, bahwa ekonomi riba merupakan racun yang berbahaya bagi kehidupan manusia. Seperti filsuf Plato (427-347 SM) bilang, bunga menyebabkan perpecahan dan perasaan tidak puas dalam masyarakat. Bunga merupakan alat golongan kaya untuk mengeksploitasi golongan miskin.

Bahkan Aristoteles (384-322 SM) menyindir fungsi utama uang adalah sebagai alat tukar (medium of exchange), bukan alat menghasilkan tambahan melalui bunga.

Yang menarik, agama Yahudi sebenarnya melarang ekonomi ribawi, seperti larangan membebankan bunga (Kitab Eksodus (Keluaran) 22: 25), larangan membungakan uang atau bahan makanan (Kitab Deuteronomy (Ulangan) 23: 19), takut kepada Allah jika meminta riba (Kitab Levicitus (Imamat) 35: 7), bahkan terhadap musuh sekalipun dilarang mengutip rente (Lukas 6: 35).

Demikian pula pandangan agama Kristen dengan tegas melarang perburuan rente (Lukas 6:34-35).

Islam sendiri dengan tegas melarang riba dan menghalalkan perdagangan (al-Baqoroh 275), yakni tambahan harta terhadap yang kita pinjamkan kepada kepada orang lain (ar-Ruum 39). Karena berbahaya maka riba diharamkan (an-Nisa 160-161/Ali Imran 130). Itu sebabnya siapa saja yang berhasil meninggalkan riba diidentikkan oleh Allah sebagai orang beriman (al-Baqoroh 278-279).

Rasulullah SAW mengutuk orang yang menerima riba, yang  membayarnya dan yang mencatatnya, dan dua orang saksinya, kemudian beliau bersabda: “Mereka semuanya sama” (HR. Muslim).

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi SAW berkata: “Pada malam perjalananku Mi’raj, aku melihat orang-orang yang perutnya seperti rumah, didalamnya dipenuhi oleh ular-ular yang kelihatan dari luar. Aku bertanya kepada Jibril siapakah mereka itu. Jibril menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang menerima riba.”

Bahkan lebih nista lagi Nabi berkata: “Riba itu memiliki tujuh puluh tingkatan dosa, adapun tingkat yang paling rendah sama dengan seseorang melakukan zina dengan ibunya sendiri.”

Semakin jelas, pandangan orang bijak dan panduan agama, benar-benar telah mengantisipasi segala keburukan dan dampak dari riba, yang menjadi ciri khas kapitalisme. Kita bersyukur hidup dan bisa menyaksikan rontoknya sistem kapitalis, sebuah agama kaum pemupuk modal, ideologi kaum pemburu rente, isme kaum serakah.

Pertanyaannya, apakah tumbangnya kapitalisme sebagai pertanda bangkitnya syariah (Islam), sebagaimana prediksi Rasulullah Muhammad SAW bahwa Islam bangkit dari Barat? Wallahu a’lam!. (Djony Edward, Penulis adalah wartawan Bisnis Indonesia)