Perekonomian global sedang terguncang. Kondisi ke arah resesi sudah mulai terasa bahkan depresi ekonomi pun menjadi sesuatu yang mungkin saja terjadi. Repetisi sejarah krisis dan depresi ekonomi tampaknya akan terjadi, dimana ini sudah menjadi tradisi dari sistem kapitalisme global yang telah menghegemoni selama ini.

Gejala yang tengah berlangsung mengingatkan kita kembali pada teori-teori siklus kapitalisme, seperti teori longwaves dari Ernest Mandel dan David Gordon. Periodesasi pertumbuhan  yang tinggi (boom) selalu diakhiri dengan krisis (burst) dan terjadi berulang-ulang dalam jangka waktu tertentu.

Di mulai dari periode depresi dunia tahun 1929-1933, serangkaian periode pertumbuhan dan kemunduran silih berganti memang mewarnai perjalanan sistem kapitalisme. Dan terakhir, krisis ekonomi 1998 lalu disusul krisis keuangan global saat ini telah menggenapi fakta sejarah tersebut. Roy Davies dan Glyn Davies, 1996 dalam buku The History of Money From Ancient time oi Present Day, bahkan telah mencatat sekitar 20 kali krisis ekonomi akut yang melanda beberapa negara kapitalis dalam kisaran abad ke 20 lalu.

Akan tetapi, lebih dari satu dasawarsa yang lalu, tepatnya di tahun 1989, masyarakat politik dunia digemparkan dengan hadirnya satu artikel kontroversial bertajuk The End of History yang dikarang oleh Francis Fukuyama. Dalam artikel tersebut, dengan kepercayaan diri yang begitu tinggi, Ia mengungkapkan bahwa keruntuhan sosialisme awal 1990-an, baik secara doktrin ekonomi maupun politik, bagi Fukuyama merupakan kemenangan telak liberalisme politik dan ekonomi. Kemenangan itu sekaligus mengukuhkan sistem ekonomi kapitalis dan demokrasi liberal sebagai bentuk final dari pemerintahan umat manusia” (Steger, 2005). Dan akhirnya mengantarkannya pada tujuan akhir sejarah yaitu; masyarakat kapitalis dengan sistem politik demokrasi liberal (Fukuyama, 2004).

Jika dihubungkan dengan sejarah kapitalisme dan demokrasi liberal yang cenderung tidak stabil dan dipenuhi dengan periodesasi krisis itu, tampaknya apa yang dikemukakan Francis Fukuyama tersebut jelas kontroversial. Ditambah lagi dengan fakta ancaman krisis dan depresi akibat krisis keuangan global di awal abad 21 ini. Pertanyaannya apakah akhir sejarah ini harus dilalui dengan berbagai macam krisis? Krisis yang secara langsung maupun tidak langsung membawa penderitaan bagi ummat manusia, utamanya adalah masyarakat dunia ketiga yang hingga kini masih berkelit dengan permasalahan kemiskinan dan kelaparan.  Karena secara empiris, masyarakat menengah kebawah dan miskin adalah yang selalu menjadi korban paling telak dari setiap krisis, terlepas dari apa dan dari mana penyebabnya. Karena merekalah kelompok yang paling sensitif terhadap instabilitas harga-harga.

Tampaknya apa yang dimimpikan Fukuyama sampai saat ini mampu memupuk kepercayaan diri yang kelewat tinggi di antara sebagian besar pemuja sistem kapitalisme dan liberalisme. Hasilnya adalah krisis finansial yang mengarah pada resesi bahkan depresi perekonomian global.

Krisis Keuangan Global
Pertanyaannya selanjutnya adalah apakah krisis financial global merupakan wujud dari krisis sistem kapitalisme? Fenomena krisis Subprime mortgage di Amerika bisa menjustifikasi hal ini. Jika kita amati, spirit yang melandasi perilaku ekonomi di sektor perumahan Amerika sama persis dengan spirit sistem ekonomi kapitalis. Benang merahnya adalah serahkan semua pada swasta tanpa campur tangan dari pemerintah. Spirit serta keterampilan swasta dalam melakukan akumulasi modal dan ekspansi ekonomi merupakan salah satu esensi kapitalisme. Itu semua didasarkan atas rasionalitas formal, atau sebuah sistem logika yang terpusat pada tujuan maksimalisasi produksi (bagi manajer), dan maksimalisasi keuntungan serta akumulasi modal (bagi pemilik modal).

Akumulasi modal dilakukan secara terus menerus dan tanpa putus demi mengejar keuntungan maksimum (maximum profit). Itu semua dalam sistem kapitalis modern dilakukan juga dengan memanfaatkan semaksimal mungkin kredit investasi dari lembaga-lembaga keuangan. Maksimalisasi pemanfaatan kredit dilakukan salah satunya dengan jalan deregulasi. Untuk konteks Amerika ditandai dengan adanya kemudahan-kemudahan mendapatkan kredit perumahan melalui deregulasi Undang-undang Mortgage, yang terjadi sekitar awal tahun 1980-an. Ditambah dengan insentif-insentif fiskal lainnya, maka mendorong industri perumahan di Amerika booming, puncaknya sekitar tahun 2000-2005. Bukan hanya dari sisi produksi riil perumahan, dari sisi financial pun semakin ekspansif.

Perkembangan ini mendorong lembaga keuangan baik bank maupun non-bank ramai-ramai merambah sektor ini. Lembaga keuangan non-bank yang seharusnya tidak memiliki core business di sektor ini pun turut ambil bagian, sebut saja Lehman Brothers, Merrill Lynch, AIG dan sebagainya. Persaingan yang begitu ketat mendorong terjadinya inovasi-inovasi di sektor keuangan. Transaksi-transaksi derivatif pun cepat berkembang.

Ketika pangsa pasar sektor prime (dalam bahasa sederhananya adalah nasabah yang memiliki standar kelayakan untuk mendapat kredit) mulai jenuh, maka ekspansi berlanjut ke sector subprime (nasabah kelas menengah ke bawah yang memiliki kelayakan mendapat kredit dibawah standar, sehingga resiko dipasar ini relative tinggi). Bukan hanya itu, pemberi kredit (subprime lenders) lalu menjual lagi kumpulan surat utang dari nasabah tersebut dalam bentuk Mortgage-Backed Securities (MBS) ke beberapa bank, lalu bank menjual lagi ke bank investasi atau hedge funds dalam bentuk collateralized debt obligations (CDOs). Transaksi di pasar sekunder ini semakin menggeliat dan pertumbuhannya pun begitu tinggi.

Akan tetapi, pertumbuhan sektor keuangan yang sedemikian cepat tidak diimbangi dengan pertumbuhan sector riil. Sehingga terjadi kesenjangan yang semakin besar antara sector riil dan sektor finansial. Dampaknya harga asset yang terbentuk tidak mencerminkan harga yang sesungguhnya (overvalued). Tetapi, kondisi ilusif ini justru semakin menggairahkan pasar finansial dan mendorong ekspektasi. Ekspektasi harga rumah yang terlalu tinggi ditambah dengan suku bunga (rate of return) yang tinggi menambah geliat sektor financial dan terciptalah gelembung financial (financial bubble).

Saat suku bunga semakin tinggi, maka nasabah sektor subprime banyak yang mengalami gagal bayar (default) dan jumlahnya semakin hari semakin banyak hingga batas yang tak bisa diantisipasi. Akhirnya, terjadilah krisis yang memaksa penutupan lembaga-lemgbaga keuangan yang sudah beroperasi puluhan bahkan ratusan tahun semacam Lehman Brother. Tidak sampai disini, terguncangnya ekonomi Amerika pun menyebarkan dampak ke beberapa negara di dunia termasuk Indonesia.

Begitulah mekanisme kerja sistem kapitalime yang terjadi selama ini dan selalu terjadi repetisi historis dalam perjalanan panjangnya. Krisis demi krisis seharusnya mampu mengkoreksi kelemahan bahkan kegagalan sistem ini dalam menciptakan kesejahteraan. Tentu ini sekaligus menolak hipotesis Fukuyama yang berusaha mengukuhkan sistem ekonomi kapitalis dan demokrasi liberal sebagai bentuk final dari pemerintahan umat manusia.


Ekonomi Kapitalis dan Demokrasi Liberal

Hubungan ekonomi kapitalis (yang berwujud liberalisasi ekonomi) dengan demokrasi liberal sama kompleksnya dengan definisi esensial dari kedua terminologi tersebut. Akan tetapi, teori dan definisi akan mengikuti struktur kekuatan wacana yang menghegemoni saat itu.  Di pentas studi ilmu politik dan ekonommi dewasa ini, demokrasi liberal (elektoral-prosedural) dan ekonomi kapitalis telah memenangi pertarungan pemaknaan tentang konsep demokrasi dan sistem ekonomi.

Secara teoritis, konsep hubungan kedua ideologi tersebut diikat oleh mata rantai kunci yang disebut dengan masyarakat sipil (civil society). Dalam rumusan demokrasi liberal, masyarakat sipil muncul sebagai mata rantai kunci antara demokrasi dengan liberalisme ekonomi. Cara terbaik untuk memperkuat masyarakat sipil adalah dengan mengurangi peran negara dan memperluas wilayah kekuatan pasar seperti anjuran program penyesuaian struktural (Structural Adjusment Program) yang juga diinisiasi oleh International Monetary Faund (IMF) selama lebih dari satu dasawarsa terakhir ini. Agenda-agenda politik ekonomi tersebut semakin lengkap ditambah dengan usaha deregulasi, privatisasi dan liberaliasi sektor ekonomi tanpa kecuali.

Agenda-agenda tersebutlah yang pada akhirnya menggelincirkan ekonomi dunia ke lubang krisis seperti yang sedang terjadi saat ini. Sehingga Hipotesis Fukuyama yang berusaha mengukuhkan sistem ekonomi kapitalis dan demokrasi liberal sebagai bentuk final dari pemerintahan umat manusia patut dipertanyakan. Jika benar Ideologi kapitalis dan demokrasi liberal adalah pasangan sejati, maka masih bisa diharapkankah demokrasi liberal di saat sistem kapitalis berada diambang keruntuhan? Pertanyaan ini tentunya akan membuka ruang yang lebih luas tentang rumusan sistem politik dan ekonomi masa depan yang lebih menjanjikan di luar sistem kapitalis dan demokrasi liberal. (Gianto; Pengurus HMI MPO Cabang Depok dan Peneliti Faham Instutute (Center for Islam, Democracy and Development studies))