Gelombang aksi unjuk rasa mahasiswa di Jogja mewarnai peringatan 80 tahun peringatan sumpah pemuda dengan berbagai cara dan tujuan yang berbeda. Salah satunya aksi yang dilakukan Aliansi BEM Jogjakarta (ABJ). Aliansi ABJ diikuti oleh BEM se-Jogja diantaranya: UIN SUKA, UMY, UAD, UJB, UKDW, UII, USD, UST, UTY FE, UCY, BSI, STIKES AISYIYAH dan STTA.

Aksi ABJ bergerak dari Bundaran UGM. Mereka  berangapan krisis ekonomi global yang saat ini melanda dunia internasional sangat berpengaruh terhadap kondisi perekonomian negara ini. Beberapa saham BUMN yang telah dijual kemudian dibeli kembali, ini menandakan bahwa saat ini pemerintah tidak mampu mengatasi krisis global.

Mereka juga menilai gagasan besar pemuda membentk kedaulatan NKRI depan puluh  tahun yang lalu kini telah sirna. Para pemuda sekarang telah terkontaminasi oleh budaya yang justru dapat merusak bangsa.

Kondisi ini diperparah dengan kebijakan-pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat. Pemerintah seharusnya bertanggung jawab terhadap pembangunan bangsa, akan tetapi kebijakan yang dikeluarkan justru dapat menghancurkan masa depan pemuda bangsa. Hal yang terlihat di negri ini produk asing banyak membanjiri pasar, budaya asing berambah ke sendi-sendi semua aspek. Harga minyak dunia kembali turun, akan tetapi sampai detik ini pemerintah belum juga menurunkan harga BBM yang bersubsidi. Tetapi harga BBM non subsidi yang digunakan oleh para pengusaha maupun pemodal besar justru sudah diturunkan, ini memperlihatkan bahwa pemerintah tidak berpihak kepada rakyat.

Aliansi BEM Jogjakarta mengajak pada peringatan 80 tahun sumpah pemuda, pemuda dan masyarakat Indonesia bersama-sama meneruskan togkat estafet perjuangan pemuda terdahulu untuk menegakkan kedaulatan NKRI yang saat ini terancam oleh negara asing. Jangan sampai bumi pertiwi kembali terjajah.

Tuntutan ABJ

1. Melakukan nasionalisasi asset. 2. Menegakkan kedaulatan NKRI. 3. Menurunkan harga BBM dan sembako. 4. Mengalihkan dana PEMILU untuk mensejahterakan rakyat. 5. Mewujudkan pendidikan murah dan berkualitas. 6. Menolak intervensi asing. 7. Tidak melakukan privatisasi asset BUMN. 8. Mensejahterakan petani dan buruh. (M.Ismail)