Udara dingin dini hari kota Bandung terasa hingga menusuk tulang. Perjalanan dari terminal Cicaheum ke Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), -Ledeng, Bandung ternyata lumayan panjang dan berkelak-kelok. Kunikmati perjalanan, terguncang-guncang di angkot yang hanya dinaiki tiga penumpang. Yeah…maklum, ini kan masih jam tiga pagi…

Suasana sangat lengang ketika kujejakkan kaki di depan kampus UPI. Agenda studi pustaka akan dimulai pukul 08.00 nanti. Serasa bagpacker aja kalo kayak gini. Menyusuri jalan kota Bandung sendirian. Beberapa agenda diluar kampus mengakibatkan aku nggak bisa turut rombongan kampus untuk melakukan Study Pustaka ke UPI-Bandung. So, harus berangkat sendiri deh.

Sebuah pondok terlihat terang diantara perumahan lain yang masih nampak gelap gulita. Wah..ada warung buka tuh!!! Kebetulan ingin menggenapkan puasa syawalan, jadi ada baiknya saur dulu. Ternyata warung yang masih “stay tune” itu pondok Burjo (bubur kacang ijo) yang juga menyediakan menu mie instant.

Sambil menunggu si ‘aa menyelesaikan “ekspresi”nya membuat mie rebus, aku teringat pada kenangan-kenangan di warung Burjo. Di dekat MAFAZA , tempatku siaran dan beraktivitas, ada sebuah warung Burjo juga. Kalo setiap Ahad pagi, setelah kajian keputrian, biasanya aku dan Tance nongkrong disitu. “Cui…laper nggak?makan yuk!!” Aku tersenyum sendiri kalo inget si Tance.

Deuh…kangen nieh bu!!!kapan ya aku nggak sibuk???!!! Yup, Warung BURJO MIRASA jadi salah satu tempat ningkrong favoritku, selain sama Tance, kadang juga sama Rina, temanku. Menu yang paling digemari itu tempe goreng. Disini tempe goreng-nya special. Apalagi kalo tinggal di Purwokerto yang terbiasa dengan tempe goreng dengan “style” mendoan”, dijamin Anda akan merasakan “sensasi” tempe goreng yang beda (lebai nggak sieh??). Yup, kadang aku agak bosan juga dengan mendoan…pengen ngrasain tempe goreng yang kering, yang biasa aja selayaknya tempe goreng yang lain. Sekedar promo aja, selain tempe gorengnya yang lezat, bubur kacang ijo di warung ini juga oke punya. Jadi ketauan kenapa aku Tance suka ngendon disini.

Nongkrong di warung BURJO emang mengasyikkan. Suasananya yang sederhana dan terbuka membuat kita bisa berinteraksi langsung dengan yang ada disitu, baik penjual maupun pengunjung. BURJO ini kan salah satu warung fastfood juga. Emang sieh..agak-agak nggak bergizi karena menyediakan mie rebus. Aku sendiri jarang makan mie instant disini, lebih tertarik pada bubur kacang ijo-nya atau ya itu tempe goreng-nya. Suasananya sangat merakyat. Aku dan Tania suka ngobrol panjang lebar disini, sampai nggak kerasa harus berangkat ke kampus, dan kadang dengan seenaknya si Tania bilang ” Lo bayar dulu ya Ta!!” Kalo udah kayak gitu, cuma ada cengegesan aja yang tersungging di wajah si anak Item itu. Sob, sumpah, gw kangen banget sama lo!!!
Warung fastfood Burjo, menjadi salah satu alternatif tempat makan ditengah-tengah maraknya restoran atau rumah makan yang sebenarnya lebih menjual gaya hidup dibanding menjual makanan. Gaya hidup hedonisme yang disuguhkan melalui rumah makan siap saji atau fastfood, yang memberikan kesan “keren dan elegan” bagi siapa saja yang makan di dalamnya. Tanpa terasa pengunjung dibius dengan budaya-budaya yang dijiwai oleh semangat kapitalisme.

Warung BURJO memberikan sensasi lebih buat para kuliner yang menginginkan kesederhanaan, kenyamanan, serta ekonomis. Dilihat dari harga, tentu saja warung BURJO punya nilai lebih. Disini nggak ada harga yang lebih dari lima ribu (saya sudah membandingkan harga warung BURJO di Purwokerto, Bandung, Jakarta, dan Jogja).

Untuk lingkungan mahasiswa, kehadiran warung BURJO memang sangat bermafaat, apalagi disaat kodisi kantong lagi kempes. Tapi pengunjug warung Burjo teryata juga dari berbagai kalangan , mulai dari anak gedong yang uang bulanannya hampir meyamai gaji pejabat sampe kaum mustad’afin yang punya PMDK (Program Makan Dua Kali). Hehehe.
Disini memang benar-benar ekonomis. Disini kita masih bisa dapetin harga gorengan yang masih gope alias lima ratus rupiah. Disini kita masih bisa dapatkan es teh dengan harga cuma seribu. Disini kita bisa makan kenyang dan bergizi dengan bubur kacang ijo dan ketan item. Disini kita bisa bertemu siapa saja dengan teman-teman dan ngobrol santai tentang apapun. Disini kita bisa bertukar ide, debat warung Burjo, dan bisa sekedar melepas stress.

Walaupun aku kadang masih agak ragu untuk masuk ruang Burjo kalo lagi sendirian. Image-nya blum enak, akhwat nongkrong di warung Burjo. Yeah…dipikir-pikir daripada nongkrong di mall!! (lho???!!!).
Buat sobatku Tance, kapan kita nongkrong-nongkrong lagi di Burjo dan angkringan? Sambil sesekali berdiskusi tentang program-program keumatan…tentang fenomena aktivis…tentang kita…dan tentang cinta… (Shinta)