HMINEWS.COM

 Breaking News

Tidak Ada Islah di Palembang

September 20
04:51 2008

Informasi itu terasa menyentak. HMI yang selama ini terpecah menjadi dua, HMI MPO dan HMI DIPO dikabarkan melakukan islah di Palembang. Bertepatan dengan moment pembukaan Kongres HMI (DIPO) ke XXII yang dihadiri berbagai kalangan, termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla dan mantan Ketua DPR RI, Akbar Tanjung, HMI dikatakan melakukan telah islah.

Kehadiran ketua umum PB HMI (MPO), Syahrul E Dasopang di Kongres HMI (DIPO) dianggap mewakili institusi HMI (MPO) dalam proses islah ini. Tapi, benarkah islah sudah terjadi? Bagaimana proses yang terjadi sehingga muncul isu ini? HMINEWS mewancarai eksklusif, Ketua HMI (MPO), Syahrul E Dasopang. Berikut petikan wawancaranya.

Benarkah ada islah antara HMI (MPO) dan HMI (DIPO)?

Saya ingin meluruskan berita yang ada. Yang terjadi adalah saya sebagai Ketua HMI (MPO) dan Fajar Zulkarnaen sebagai Ketua HMI (DIPO) menandatangani kesepakatan komitmen moral untuk berpegang teguh pada tali Allah dan menjauhi perpecahan serta mengutamakan solidaritas dan persatuan umat. Tidak ada itu islah dalam perspektif penggabungan antara dua organisasi. Dan, itu tidak dibicarakan sama sekali antara kita.

Saya ingin menginformasikan, ini yang sesungguhnya terjadi. Ada pernyataan komitmen moral dan bukan islah.

Jadi, tidak ada islah antara HMI (MPO) dan HMI (DIPO)?

Tidak ada sekali lagi. Islah dalam perspektif penggabungan, tidak terjadi di Kongres HMI (DIPO) kemarin. Islah kita ingin tempatkan untuk saling berbaik-baikan dengan sesama muslim memang ada. Tapi, kalau menggabungkan antara dua organisasi HMI tidak ada. Sebab hal itu berkonsekuensi institusional jika memang terjadi. Dan untuk islah, kongres yang menetapkan, bukan Ketua PB HMI. Tidak ada kemarin peristiwa peleburan HMI (MPO) dengan HMI (DIPO). Tapi, saya berhak melakukan komitmen moral, seperti yang saya lakukan dalam Forum Pemuda Mahasiswa Islam (FPMI) yang kemarin merespons insiden Monas dalam konteks membangun solidaritas sesama muslim.

Kalau begitu yang sebenarnya, kenapa yang muncul di media massa, islah sudah terjadi antara dua HMI?

Media massa mempunyai kebebasan. Saya sebagai warga negara tidak bisa melawan itu. Berita islah di media massa yang berkembang, itu agaknya lebih pada kreatifitas pers. Tapi, saya memiliki hak jawab.

Menurut anda, Ada kesalahan media dalam menafsirkan peristiwa kemarin?

Wallahu alam. Bisa jadi ada yang sengaja menciptakan berita itu di tengah dua entitas yang secara ideologi terpisah ini. Dan, itu menarik bagi media massa.

Apa yang membuat anda membuat keputusan datang ke Kongres HMI (DIPO)?

Saya secara sadar memenuhi undangan itu, disamping kita harus menghormati undangan itu sendiri. Saya tahu yang hadir banyak pihak, termasuk juga dari pejabat-pejabat pemerintah. Saya hanya ingin mempelopori promosi kerendah hatian sebagai seorang muslim untuk bersama-sama menjunjung ketentuan Allah yang mengutamakan solidaritas dan persatuan. Bahwa kita harus senantiasa berpegang teguh pada tali Allah dan mengutamakan solidaritas dan persatuan umat.

Apa yang saya lakukan mungkin dinilai negatif dari sisi internal. Dan bisa menjadi bola salju baik dari internal maupun eksternal. Bagi saya terserahlah pendapat itu. Kehadiran saya di sana adalah ide murni dari hati nurani saya. Ada nilai-nilai Islam yang ingin saya promosikan kepada masyarakat. Saya mengutamakan mempromosikan nilai-nilai Islam di bawah ketertundukan pada Allah. Bukan mengutamakan kepentingan politik sektoral dan dimensi politis. Dan, saya menganggap berhasil mempromosikan itu. Begini seharusnya membangun peradaban.

Banyak pihak mengatakan HMI (MPO) dirugikan atas tindakan anda. Tanggapan anda?

Tidak. Bahkan justru sebaliknya. Saya sebagai representasi PB HMI (MPO) merasa dimuliakan oleh publik di sana karena diberi kesempatan menyampaikan pendapat tentang HMI dan mereka respek. Dalam sambutan, saya tidak menyampaikan soal islah. Yang saya sampaikan adalah setiap pihak dapat membuang jauh prasangka dan dapat meruntuhkan ego pribadi, kelompok dengan lebih mengutamakan Allah.

Dan, setelah saya bersama Ketua PB HMI (DIPO) Fajar Zulkarnaen ada di panggung, itu diikuti oleh Wapres Jusuf Kalla dan Mantan Ketua DPR RI Akbar Tanjung di atas podium yang selama ini mereka berseberangan. Bagi saya ini adalah salah satu bentuk kemenangan bagi kita, dari sudut pandang nilai-nilai atau ideologi. Kemenangan Islam yang kita promosikan menjadi mainstream. Kemenangan gagasan kita. Mudah-mudahan Allah memberi ketabahan dan keteguhan hati pada yang kita i’tikadkan.

Kalau mau jujur ini adalah langkah politik nilai. Bukan langkah politik praktis. Dan, yang saya tahu, tradisi di HMI (MPO) adalah politik nilai. Ketika saya diminta datang ke kongres HMI (DIPO), saya minta pada mereka untuk menyetujui draft pernyataan bersama yang 90 persen saya yang buat. Kalau mereka tidak mau, ya saya tidak datang. Mereka menyetujuinya, dan saya datang ke sana.

Di media massa, Ketua PB HMI (DIPO) Fajar Zulkarnaen mengatakan Kongres depan terbuka peluang untuk melakukan kongres bersama. Apa benar seperti itu?

Itu hanya imajinasi saudara Fajar saja. Soal islah terjadi atau tidak, itu bukan urusan saya. Itu urusan Allah dan kader-kader HMI.

Di kolom ESQ harian Republika, sudah ditampilkan lebih dari satu kali, mereka memfasilitasi islah dua HMI dan ini dianggap sebagai kebenaran oleh pembaca. Tanggapan anda?

Saya membantah tulisan kolom ESQ di harian Republika yang menyatakan seolah-olah HMI sudah islah karena ESQ. Yang benar adalah HMI berkomitmen moral mempromosikan ketertundukan pada Allah. Makna berpelukan saya sebagai Ketua umum PB HMI (MPO) dengan Fajar sebagai Ketua PB HMI (DIPO) adalah kelapanganm dada untuk meruntuhkan ego masing-masing dan mengutamakan solidaritas dalam bingkai ketertundukan pada Allah. Jadi, tidak ada islah, apalagi yang difasilitasi ESQ seperti yang dimuat kolom ESQ di Republika. Seolah-olah ESQ adalah fasilitator islah. Itu menurut saya adalah kreatifitas penulis kolom tersebut.

Tapi, apa yang saya lakukan adalah kemenangan Islam. Kemenangan bagi kita, dalam sudut pandang nilai-nilai atau ideologi karena ini sifatnya ideologis dan hadir dalam dimensi keyakinan saya. (Redaksi)

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.