Selama bulan Ramdhan ini, mendadak Jakarta kebanjiran para pengemis dan pemulung. Hampir disepanjang jalan trotoar begitu mudah kita menjumpainya, terlebih di malam hari, tak jarang mereka tidur di dekat gerobak yang menjadi semacam kendaraan dinasnya.

Menjadi pemulung adalah pilihan terakhir karena tak ada pekerjaan lain. Bulan Ramadhan ternyata mempunyai arti tersendiri bagi para pemulung yang biasanya berkeliling kampung mencari sampah plastik, kardus, atau besi yang tak terpakai. Minimal di bulan suci ini mereka bisa tersenyum karena pendapatannya sedikit bertambah bila dibandingkan dengan hari-hari biasanya.

“Orang-orang sedikit berbaikan dengan kita memberikan barang-barangnya yang tidak terpakai atau terkadang sedekah. Hasilnya sangat lumayan untuk lebaran nanti,” ujar Marna, ketika malam itu ditemui rombangan Sahur On The Rood dari HMI Cabang Jakarta Selatan.

“Ramadhan adalah momentum kita untuk lebih peduli kepada mereka, kaum mustadhafin. Di mana, pada hari-hari biasa sering kita dapati mereka harus berjibaku dengan mencari sesuap nasi diantara deru asap mobil ditengah padatnya jalanan Jakarta, Tak jarang mereka harus kucing-kucingan dengan aparat trantib. Semoga dengan sedikit sumbangan makan sahur ini, mereka dapat lebih tenang dalam melaksanakan ibadah puasa.” Ujar M. Insan Kamil, Ketua Umum HMI cabang Jakarta Selatan.

Dengan menggunakan satu mini bus dan 4 sepeda motor. Rombangan berangkat dari lapangan dekat sekretariat HMI Cabang Jaksel pukul 1.30 WIB. Namun setelah menempuh + 4 Km, sebuah kejadian menarik terjadi tiba-tiba di depan rombongan ada razia polisi. Rombongan pun dihentikan, namun setelah melihat diantara rombongan yang bersepeda motor mengenakan sarung dan baju koko dan mini bus yang ditempelin bendera HMI dipersilahkan melanjutkan perjalanan. Sementara yang lain tetap diperiksa surat kelengkapan kendaraannya.

Perjalanan dilanjutkan menyisir para dhuafa dengan membagi-bagikan makanan sahur sepanjang Jl. TB Simatupang, Jl. Fatmawati, sampai Blok M. kemudian memutar melalui Jl. Radio Dalam, Pondok Indah, hingga kawasan Bintaro. Di Bundaran Bintaro, rombongan berhenti untuk melakukan sahur bersama.

Salah seorang pemulung yang dijumpai dekat Bundaran Bintaro menceritakan, setiap hari dia bisa mengumpulkan sampah paling tidak dua kuintal. Apabila dijual per kuintalnya Rp 30 ribu berarti dalam sehari pendapatannya mencapai Rp 60 ribu. Belum lagi ditambah dengan pemberian para dermawan.

“Sebelumnya boro-boro kita bisa mendapatkan. Mencari sampah sekarang banyak saingannya. Mendapat setengah kuintal aja sudah syukur alhamdulillah,” tambah bapak dari empat anak tersebut. Ramadhan memang bulan penuh rahmat untuk siapa saja umatnya terutama yang bertakwa. Menjalani ibadah puasa dengan bekerja sebagai pemulung memang sangatlah berat. Mereka harus berangkat setelah sahur untuk menyelusuri udara Jakarta dan sekitarnya yang panasnya menyengat. Mereka baru pulang saat menjelang Magrib tiba. Meski tak jarang diantaranya harus tidur di tepi jalan. (Busthomi Rifa’i)