Tingginya  harga minyak dunia yang sudah mencapai 127 Dollar AS per barrel  menyebabkan pemerintah berencana menaikkan harga BBM akhir Mei mendatang. Hal itu meresahkan masyarakat, terutama kalangan menengah kebawah. Kenaikan harga BBM akan berdampak pada melonjaknya harga bahan kebutuhan pokok yang menyebabkan pedagang keliling banyak mengeluh.

Sanen (42) misalnya. Pedagang mi ayam yang murah senyum ini mengatakan bahwa harga kebutuhan pokok sudah naik beberapa minggu terakhir menyusul akan dinaikkannya harga BBM. “setelah BBM naik pasti akan ada kenaikan harga lagi, dan ini akan membuat orang-orang seperti saya semakin terjepit” ungkap Sanen.

Kenaikan harga BBM tidak hanya mengkhawatirkan masyarakat kecil, sejumlah anggota DPR juga menolak rencana kenaikan harga BBM. Penolakan itu disampaikan melalui interupsi dalam sidang paripurna yang membahas program kerja dewan yang dibuka oleh ketua DPR Agung Laksono.

Pendapat yang berbeda dikemukakan oleh wapres Yusuf Kalla yang dikutip dari liputan6.com. Menurut Kalla,  80 persen subsidi BBM justru dinikmati orang kaya.

Hal itu bertentangan dengan realita yang terjadi di masyarakat. BBM bersubsidi tidak hanya dinikmati oleh kendaraan pribadi, akan tetapi kendaraan umum yang nota bene adalah alat transportasi utama masyarakat menengah kebawah.

Akan tetapi, beberapa mahasiswa setuju dengan recana pemerintah menaikkan harga BBM. Seperti yang diungkapkan Rahmat mahasiswa UIN Jakarta ” rencana pemerintah sudah bagus, yang terpenting kenaikan harga BBM sekitar 30% tersebut dapat mensejahterakan rakyat”.

Selain itu menurut Riski mahasiswa tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Langkah pemerintah menaikkan harga BBM sudah tepat, akan tetapi pemerintah harus memberikan pengertian pada rakyat tentang kenaikan tersebut. “pemerintah harus mencari alternatif lain untuk menunda kenaikan tersebut”.

Berbeda dengan Rahmat  dan Riski, Novi salah satu kader HMI Jakarta selatan menyatakan, kenaikan harga BBM mempunyai dampak positif dan negatif. Sisi positifnya, kenaikan ini akan membuat masyarakat berpikir untuk berhemat. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi kegiatan jalan-jalan dengan menggunakan kendaraan pribadi.

“Kenaikan harga BBM ini dapat membunuh rakyat kecil” ungkap Novi. Terutama bagi orang-orang yang pekerjaannya tergantung pada BBM seperti supir angkot, tukang ojeg, dll.

Akan tetapi Novi menyatakan agar pemerintah mempertimbangkan  dampak negatif yang harus diderita rakyat jika kenaikan harga BBM ini terjadi, sehingga memberikan jalan keluar untuk masalah ini. (Rita & Daimah)