Sebagian mahasiswa di Jakarta tidak peduli dengan kenaikan harga kebutuhan bahan pokok. Wida (21), mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jakarta mengaku tak ambil pusing dengan kenaikan harga bahan pokok.  “Peduli amat gue, mikirin kuliah aja udah ribet” katanya kepada HMINEWS,  Rabu pekan silam (21/4). Menurutnya melonjaknya harga kebutuhan pokok seperti minyak goreng dan telor sudah menjadi kebijakan pemerintah.

Hambali (21), mahasiswa UNJ lainnya mengatakan, ” saya sih setuju saja dengan kebijakan pemerintah, habisnya mau apa lagi.” Kebijakan pemerintah menaikkan harga kebutuhan bahan pokok sudah membuat rakyat susah. Hanum (41) seorang ibu rumah tangga sekaligus pemilik warung kelontong di Bekasi mengeluhkan harga yang kian hari kian tak menentu.

Hanum mencontohkan ketidakpastian harga minyak tanah dari pemerintah bikin harga minyak tanah tak menentu. Kadang terjual dengan harga Rp 10 ribu per 3 liter, tapi sewaktu-watu dapat berubah jadi Rp 10 ribu per liter, bahkan bisa mencapai 12 ribu per liter. Mendapati harga minyak tanah dengan harga yang demikian, Hanum masih harus mengantri tiga hari sekali dengan nomer antrian pemberitan ketua Rukum Tetangga (RT) setempat.

Hanum juga mengeluh harga barang-barang dagangan yang lain juga ikut naik, seperti mie instan, gula, terigu dan beras. Mie instan, misalnya, yang biasa dibeli seharga 38 ribu per dus kini molonjak jadi Rp 43 per dus. Kanaikan itu, katanya, membuat dia tak bisa belanja untuk menenuhi warungnya karena modal yang sedekit tapi daya beli makin menurun.

Edi (22), seorang mahasiswa Jakarta, mengaku mengetahui fenomena yang terjadi pada Hanum, tapi ia menjelaskan tidak bisa berbuat apa-apa sehingga ia tidak mau ambil pusing dengan kenaikan harga bahan pokok.

Berbeda dengan mahasiswa lain, Nida (20), mahasiswa UNJ mengatakan, ” Tentu sangat prihatin, itu semua membuat rakyat susah semakin susah dan yang miskin makin miskin, hidup menjadi terjepit dalam kesengsaraan, karena kejahatan ada di mana-mana, copet merajalela, dan angka kriminalistas yang tinggi.” (Rita Z)