Jarum jam menunjukkan jam 19.00. Novi Ariyanti dan adiknya Mayangsari sedang latihan menyanyi disamping pagar polsek Ciputat. Namun bukan untuk kontes menyanyi seperti Idola cilik di RCTI atau Mama Mia di Indosiar, mereka bersiap untuk mengamen di angkutan kota jurusan Pondok Labu-Ciputat atau angkutan lain yang menuju ke arah pasar Ciputat. Anak-anak seumur mereka seharusnya istirahat dirumah bersama orang tua masing-masing atau mengerjakan PR dari sekolah mereka untuk keesokan harinya.

Novi yang duduk dibangku kelas lima sekolah dasar (SD) dan Mayang adiknya yang masih kelas satu itu memulai aktifitasnya setelah pulang sekolah sejak pukul 12.00-20.00. Setelah makan siang, mereka mulai mengamen di sekitar UIN Jakarta. Jalan Pesanggrahan yang dipenuhi dengan pedagang makanan dan mahasiswa yang lalu lalang itu adalah tempat mereka mencari nafkah selain angkutan kota.

Setelah mengamen disekitar UIN Jakarta, sore sampai malam harinya mereka mengamen di angkutan kota. “kalau penghasilan kami sedikit, bisa-bisa sampai jam 9 malam dijalan” kata Novi bercerita dengan semangat.

Mereka mengaku lelah, tapi karena mengamen adalah pilihan mereka untuk meringankan beban orang tua, maka mereka juga bersemangat menjalani aktifitas tersebut.

“Kami mengamen untuk makan sehari-hari” ungkap Novi kepada saya malam itu. “Selain itu, penghasilan saya untuk tambahan biaya sekolah” tambah Novi sambil tersenyum, tahi lalat diatas bibirnya menambah manis senyum tulusnya. Maklumlah, belum ada sekolah gratis di wilayah Banten. Penghasilan ayah dan ibunya sebagai pemulung juga tidak mencukupi untuk menghidupi 7 orang anak mereka termasuk Novi dan Mayang.

Dari tujuh orang, hanya tiga yang masih mempunyai semangat untuk sekolah mengingat mahalnya biaya pendidikan yang harus mereka bayar. “Untuk membayar uang masuk Mayang, waktu itu ayah harus membayar 1 juta” ungkap novi sambil digelayuti adiknya yang tampak mengantuk dan lelah.

“Ayah pinjam ke bos dan melunasinya dengan cara mengangsur” tambah Novi dengan polos.

Orang tua mereka rela dipotong penghasilannya untuk melunasi hutang. Gelas atau botol plastik hasil pulungannya menjadi penghasilan utama keluarga Novi. “kadang penghasilan ayah habis untuk melunasi hutang”. Kata Novi sambil menyeka rambutnya yang panjang.

Tiap bulan orang tua mereka harus membayar SPP Novi, Mayang dan seorang kakaknya masing-masing sebesar 15.000/bulan. “Jadi semuanya 45.000” tambah Mayang yang sampai semester kedua tahun ini masih belum lancar membaca tapi sudah sangat mengerti tentang uang yang mereka butuhkan.

“Kami juga harus mencari tambahan penghasilan untuk membayar uang EHB (Evaluasi Hasil Belajar) sebesar 20.000” kata novi. Lagi-lagi Mayang nyeletuk “jadi 40.000 untuk dua orang” sambil memandangi alat musik ditangannya yang terbuat dari bamboo dengan beberapa tutup botol yang ditancapkan dengan sebuah paku untuk menghasilkan bunyi yang kadang terdengar sumbang.

“Belum lagi saya harus mengumpulkan uang 50.000 untuk mengganti buku matematika milik sekolah yang beberapa hari lalu dengan tidak sengaja saya hilangkan” kata Novi sambil sesekali memainkan gitar kecil merah tua teman setianya mengamen sejak 2002 lalu.

Seusai mengamen Mayang sudah tidak sempat belajar. Setelah makan masakan ibunya sisa siang tadi, dia langsung tidur karena tidak kuat lagi menahan kantuk setelah seharian melakukan aktifitas yang seharusnya tidak dilakukan oleh anak sekecil Mayang.

Berbeda dengan Mayang adiknya, Novi masih sempat untuk belajar. “Saya sempat mendapat ranking 10 lho waktu kelas 4” kata Novi bangga. “Tapi sekarang saya ga dapat ranking lagi” ungkapnya malu.

Mereka berdua bercerita saling sahut-menyahut dengan diselingi suara batuk Mayang yang menurut saya disebabkan oleh asap kendaraan yang dihirupnya tiap hari.

Percakapan diakhiri karena mereka berdua melihat angkutan kota yang penuh dengan penumpang dan tak ada teman seprofesinya yang mengamen disana.

“Kami mau nerusin ngamen” ujar Novi sambil berlari kearah mobil angkutan kota dengan diikuti Mayang yang baru berumur tujuh tahun layaknya anak ayam yang mengikuti induknya.

Berat sekali kehidupan yang harus mereka jalani. Setelah seabad kebangkitan nasional ternyata tidak dengan serta merta membuat kemudahan akses memperoleh pendidikan dinegeri ini. Anak bangsa harus rela menghabiskan waktunya dijalanan hanya untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang masih mahal. (Daimah Fatmawati)