Kehadiran beragam perangkat digital mengubah banyak aspek kehidupan kawula muda, mulai cara berinteraksi, belajar, bekerja, hingga menikmati hiburan. Dalam banyak hal, kehadiran teknologi digital membuat kehidupan menjadi lebih mudah dan nyaman. Namun tak jarang yang malah berdampak negative.

Edo, salah seorang pengunjung Pameran Komputer dan Seluler yang berlangsung 12 hingga 15 Juni lalu tak merasa lelah mengitari area Gedung Jakarta Convention Center (JCC) yang begitu luas dan dipadati para pengunjung. Kendati untuk masuk dikenai tiket Rp, 5.000,- perorang, namun tetap saja pameran tersebut begitu dipadati pengunjung yang rata-rata para eksekutif muda dan mahasiswa. Peluncuran beberapa produk baru dengan harga promosi dan banyaknya diskon serta aneka game menjadi magnet pengunjung pada pameran kali ini. Kenaikan harga BBM agaknya tidak terlalu berpengaruh pada sektor digital lifestyle ini.

Ya… digital lifestyle yang akhir-akhir ini banyak digandrungi kawula muda negeri ini.  Gaya hidup penuh kemudahan dan kenyamanan ini lekat dengan berbagai perangkat canggih digital yang memiliki kemampuan luar biasa, meskipun berukuran mini.

Sudah menjadi pemandangan yang tidak aneh lagi para mahasiswa sekarang ini menenteng sebuah laptop di kampus, sebagaimana dialami Alek, mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini sengaja membawa laptop ke kampus karena memang beberapa gedung di kampusnya tersedia layanan hotspot sehingga memudahkannya dalam mencari bahan-bahan kuliah ataupun men-download software gratis.

Jangan heran pula jika kita menjumpai anak muda di pinggir jalan atau dalam bis kota mengangguk-anggukkan kepala, rupanya ia sedang menikmati alunan lagu pada sepasang earphone yang tersumpal pada telinga dan terhubung dengan alat pemutar musik digital yang tersimpan dalam saku celananya.

Makin mengkristalnya konvergensi teknologi telah “merevolusi” banyak aspek kehidupan menjadi sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dengan seperangkat handset, misalnya, orang dapat melakukan banyak hal secara simultan mulai dari menelepon, mendengar musik, hingga menonton film. Semuanya hanya dari genggaman tangan.

Berdasarkan riset yang dimuat vnunet seperti dikutip indocomit.com, pendapatan dari mobile media dan entertainment (MME) service akan berlipat ganda dalam lima tahun kedepan, di mana pada tahun 2007 telah menghasilkan 3,1 miliar dolar AS. Dari angka tersebut dapat diperkirakan, pertumbuhan untuk setiap tahunnya mencapai 6,6 miliar dolar AS pada 20012 mendatang. Namun, pertumbuhan tersebut diharapkan akan semakin menguat sebelum 2010, yang mencakup hal teknis dan lingkungan pasar dari MME service.

Kita belum tahu, sampai di mana dan akan sejauh mana pencapaian manusia dalam pencarian teknologi ini. Yang jelas, kehadiran berbagai perangkat digital tersebut harus dioptimalkan untuk menjadikan hidup lebih menyenangkan.

Selain itu, yang tak kalah penting adalah bagaimana kita dapat memanfaatkan berbagai peranti digital tersebut, baik untuk membantu tugas kuliah, kerja, ataupun hanya sekedar hiburan.

Perkembangan teknologi tentu tidak selamanya berdampak positif, Seringkali perkembangan teknologi jadi antisosial. Ibarat api, seringnya menjadi kawan, tetapi kadang kala bisa juga menjadi lawan.

Di kalangan kampus, tidak sedikit dosen yang mengeluhkan kemalasan mahasiswanya dalam membaca buku, juga dalam mengerjakan tugas banyak yang hanya men-download dari internet tanpa dipahami terlebih dahulu, sehingga membuat otak tumpul. Makanya, tak heran jika toko ponsel lebih ramai daripada toko buku.

Teknologi memang sangat diperlukan karena memudahkan kita belajar, bekerja dan juga bersosialisasi. Akan tetapi, ketika kita mulai bergantung pada teknologi secara berlebihan dan teknologi mulai mengusik privasi manusia dan melanggar norma-norma kepatutan sosial, hendaknya hal ini mulai diwaspadai. Dan yang tak kalah penting, tentunya perlu disesuaikan antara Gadget dan Badget. (Busthomi Rifa’i)