Kemenangan Ahmad Heryawan dan Dede Jusuf dalam pilkada Jawa Barat mengagetkan banyak pihak. Calon yang semula tidak diunggulkan dalam beberapa survei yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survei sebelumnya, mampu menjadi pemenang yang sementara ini mengungguli calon-calon lainnya.

Dalam beberapa survei yang dilakukan sebelum pilkada berlangsung, menunjukkan pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Jusuf (Hade) yang diusung oleh PKS-PAN kalah popularitas dari dua pasangan lainnya yakni Dani Setiawan-Iwan Ridwan Sulandjana (Da’I) dan Agung Gumelar-Nu’man Abdul Hakim (Aman). Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan seputar kemenangan yang diraih oleh Hade.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, setidaknya ada dua hal yang dapat dijadikan bahan analisis dalam pilkada Jabar ini. Pertama, tingginya tingkat golput (golongan putih) dalam pilkada kali ini. Akibatnya tingkat golput mampu mempengaruhi hasil akhir pilkada.

Tingginya masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya disebabkan beberapa faktor. Pertama, tidak adanya figur yang dinilai mampu untuk merubah kondisi Jabar yang ada saat ini. Kondisi perekonomian yang tak kunjung membaik serta tingginya tingkat kemiskinan dan pengangguran, membuat masyarakat tidak menggunakan hak pilihnya. Pilkada tidak mampu menolong masyarakat dari keterpurukan.

Dalam hal ini, masyarakat berpandangan bahwa pilkada hanya sekedar pergantian elit politik tapi tidak akan menyentuh pada peningkatan taraf hidup masyarakat. Pada tataran inilah, diharapkan pilkada tidak hanya menjadi alat untuk mengganti elit tapi juga pilkada yang mampu menyejahterakan masyarakat. Oleh sebab itu, dalam kasus pilkada Jabar kali ini, masyarakat lebih memilih untuk melaksanakan rutinitas seperti biasanya dari pada memberikan suaranya.

Kedua, masyarakat sudah mengetahui track record calon yang maju dalam pilkada. Dani Setiawan dan Nu’man Abdul Hakim adalah gubernur dan wakil gubernur incumbent. Sedangakan Agung Gumelar adalah cawapres pada pemilu 2004 lalu yang juga mantan menteri pada era Megawati Soekarno Putri. Sementara itu, Dede Jusuf merupakan artis terkenal dan juga anggota DPR-RI. Hal ini membuat masyarakat tidak mempunyai pilihan lain. Ketika hal ini terjadi, golput menjadi solusi terakhir bagi masyarakat.

Analisis yang kedua adalah bekerjanya masin politik pada masing-masing partai pendukung sehingga tercipta massa pendukung yang solid. Hal ini yang dilakukan oleh partai pendukung Hade yakni PKS-PAN. PKS mampu menjaga kesolidan massanya hingga tidak ada yang melakukan golput.

Solidnya massa pendukung merupakan hal yang perlu diperhatikan oleh partai politik. Dalam kasus pilkada Jabar, pada dasarnya masyarakat yang memilih golput adalah massa pendukung yang pada pemilu 2004 lalu merupakan massa pendukung partai-partai besar yang menjadi pemenang pemilu pada pemilu legislative seperti Golkar dan PDI-Perjuangan. Sementara itu, PKS dengan mesin politik yang terus bekerja pasca pemilu 2004 lalu mampu menjaga kesolidan kader-kadernya terutama pada tingkatan grass root sampai pada pilkada kali ini.

Pada saat massa partai besar seperti Golkar dan PDI-Perjuangan banyak yang melakukan golput yang berakibat berkurangnya massa pendukung, partai-partai lain tetap menjaga kader-kadernya untuk tetap solid, sehingga tidak terjadi perpecahan dan tidak ada yang melakukan golput. Dan hal inilah yang dilakukan oleh PKS-PAN. PKS yang mengusung Ahmad Heryawan bermodalkan kesolidan kadernya sementara PAN yang mengusung Dede Jusuf mengandalkan popularitas yang dimiliki oleh Dede Jusuf untuk meraih suara dari pemilih mengambang dan kaum ibu.

Pada sisi yang lain, wacana kepemimpinan kaum muda yang dibawa oleh Hade, mampu mendongkrak suara dari pemilih. Paling tidak, kejenuhan masyarakat akan pemimpin incumbent dan pemimpin yang sudah tua serta keinginan masyarakat untuk mempunyai pemimpin baru yang lebih muda yang diharapkan mampu membawa perubahan dalam masyarakat. Walaupun pada dasarnya tidak ada jaminan yang bisa diberikan, membuat Hade mampu mengungguli dua pasangan lainnya. Merupakan perpaduan yang  cukup komplet antara keduanya.

Belajar dari pilkada Jabar ini, golput seharusnya menjadi perhatian serius partai politik. Tingginya tingkat golput mampu mempengaruhi peta politik yang sudah ada sebelumnya. Rakyat tidak hanya dijadikan objek dari keinginan elit politik untuk menjadi penguasa. Akan tetapi, pilkada harus dijadikan ajang pembuktian oleh partai politik untuk mensejahterakan konstituennya. Habis manis sepah dibuang, pepatah ini menggambarkan perilaku partai politik selama ini, dimana pasca pemilu rakyat dibiarkan dengan kehidupannya masing-masing. Sehingga pada pesta demokrasi selanjutnya baik itu, pemilu maupun pilkada, masyarakat enggan untuk memberikan suaranya. (Sunardi Panjaitan)