Mengikat Makna

Menulis adalah upaya mengikat makna. Sebab tidak mungkin sepenuhnya semua makna itu diingat terus karena potensi lupa sangat besar. Di sinilah pentingnya menulis, sebab menulis menjadi dokumen sejarah dan dokumen pengetahuan.

Menulis sebagai dokumen sejarah sebab seluruh catatan itu menunjukkan proses sejarah kita secara pribadi dalam tulisan, perkembangan pemikiran, apalagi jika menuliskan peristiwa-peristiwa penting. Sementara menulis sebagai dokumen pengetahuan, seperti apa yang pernah dituliskan oleh Ibn Sina dengan membuat karya tulis –baik dalam bentuk buku maupun jurnal– sebanyak 450 buah. Coba bayangkan banyaknya dokumen pengetahuan yang dia tinggalkan dan itu menjadi rujukan bagi kebangkitan modernisme di Barat.

Kita hanya bisa mengingat beberapa fase kehidupan. Dengan menulis, fase-fase itu akan mudah terekam ulang karena tulisan telah menjadi pengingat yang paling baik. Tulisan bagi pembaca sebagian hanya diingat sebagai bentuk pengetahuan sementara bagi penulis saat membaca tulisan itu banyak kronologis dan situasi yang diingat. Di sinilah pentingnya menulis. Seorang ilmuwan akan lupa teorinya, namun dengan membuat catatan-catatan pokok pemikirannya semuanya akan mudah teringat. Bukan hanya apa yang ditulis yang diingat tetapi bagaimana memperoleh pengetahuan dan apa situasi senyatanya yang tergambarkan dalam tulisan itu. Semua itu akan terkenang kembali layaknya sedang memutar sebuah DVD dari awal.

Menulis itu membuat makna tidak berserakan. Anda bisa jago berbicara dengan pengetahuan Anda, tetapi itu tidak akan cukup membuat orang lain sadar dan bertahan pengetahuannya dari pembahasan Anda. Dengan menulis, bukan hanya Anda telah menyampaikan sebuah pesan dan makna kepada orang lain, menulis membuat Anda berbicara tanpa batas waktu, bahkan ribuan dan jutaan orang bisa membacanya. Bedanya dengan hanya berbicara, suaranya paling hanya 30 meter jaraknya, itu pun harus menggunakan pengeras suara.

Ibn Sina sudah lama mati tetapi karya-karyanya masih dibaca oleh generasi hari ini. Kira-kira jika dihitung tidak kurang dari 5 miliar manusia yang telah mengkomsumsi dan mengenal Ibnu Sina. Dengan karya sebanyak 450 maka kita menjadi terheran banyaknya yang dia bisa tulis sementara kita 1-2 buku saja tidak bisa. Jangankan untuk gagasan brilian, kata-kata cinta saja sulit karena tidak terbiasa dan malas membaca apalagi mencermati situasi, padahal membaca dan mengamati kunci utama menulis.

Sekedar Berbagi Pengalaman

Alhamdulillah seperti biasanya hari ini tetap menghasilkan tulisan, tanpa mengabaikan waktu berlalu meski hanya memanfaatkan waktu luang terus berusaha menulis sebab menulis adalah obat kesendirian. Saya menghasilkan tiga tulisan; yang pertama berbicara tentang cara pandang yang menentukan perilaku hidup dan orientasi masa depan, kedua bismillah sebagai energi positif jika mampu dijiwai sang penuturnya sesuai prinsip tauhid, dan ketiga: konsolidasi politik mengulas percaturan politik nasional menjelang penentuan calon DPR RI oleh KPU Pusat.

Tulisan pertama dan kedua masing-masing 3 halaman tanpa spasi, huruf 12 news roma, sedangkan yang ketiga 5 halaman sehingga total 11 halaman. Sebelumnya dalam sehari saya hanya menargetkan menulis 10 halaman saja.

Ini sedikit perkembangan karena bertambah 1 lembar, sedikit demi sedikit ternyata tulisan saya mulai tertata dengan adanya perbaikan meski tidak pernah mengedit. Sedikitnya sudah lebih indah tanpa edit, apalagi jika diedit. Sengaja tidak mengedit karena dengan begitu saya merasa bebas menulis tanpa beban dan imajinasi tidak terpasung.

Tidak mengedit juga menjadi energi untuk menulis buat saya, sebab saya ingin memastikan semakin menulis, suatu saat tulisan saya sama sekali tidak perlu diedit karena telah terlatih menulis. Terus khawatir saat mengedit akan membuat kehilangan semangat menulis, karena menulis bukan hanya soal ide, tapi soal ketekunan, semangat dan imajinasi. Ketiganya tak terpisahkan.

Menulis juga membuat setiap hari-hari itu menjadi terekam dengan baik. Kadang saya sendiri heran dengan tulisan yang saya hasilkan, bukan karena kualitasnya, tetapi saya menemukan ide-ide yang sebelumnya tak disangka-sangka. Banyak ide yang ada di benak dan pikiran bahkan ratusan dalam sehari terlintas, saat tidak dituliskan maka itu akan menjadi sia-sia.

Bahtiar Ali Rambangeng

Share :

Leave a comment

Your email address will not be published.

*