Menepis Krisis Intelektual Dengan Gerakan Intelektual Kreatif

“HMI bukan saja Himpunan Mahasiswa Islam akan tetapi HMI Harus menjadi Harapan Masyarakat Indonesia” (Jend. Sudirman)

Waktu terus berlalu dan tanpa terasa mempertemukan kembali Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan ulang tahun kelahirannya. Tepat 5 Februari 2013 kemarin organisasi yang didirikan oleh Lafran Pane ini berumur 66 tahun. Sejalan dengan usianya tersebut, telah banyak dinamika perjuangan yang HMI lalui. Juga  telah banyak kader yang dilahirkan dan dibesarkan oleh HMI. Berbagai macam dinamika kehidupan sosial juga diwarnai oleh orang-orang yang pernah berproses di HMI.

Satu lagi hal yang harus diakui dari kelahiran dan eksistensi HMI dalam sejarah kemahasiswaan di Indonesia adalah dalam bidang intelektualisme Islam. Deliar Noer, Nurcholis Madjid, Ahmad Wahib, dan Dawam Rahardjo ialah nama-nama yang pernah dibesarkan oleh HMI. Kebesaran HMI antara lain karena ketekunannya dalam melakukan kaderisasi bidang intelektual. Saat itu HMI berhasil menampilkan diri sebagai organisasi mahasiswa yang berani melakukan trobosan intelektual dengan pemikiran alternatif yang mampu mencairkan kebekuan pemikiran Islam pada masa itu. (Ghazali, 1997: 568).

Pada tahun 1970-an misalnya, pucuk pimpinan HMI yang diwakili Nurcholis Madjid (Cak Nur) sudah mampu menerobos pemikiran Masyumi, yaitu dengan mengeluarkan gagasan fenomenal ‘Islam Yes, Partai Islam No’. Betapa pun banyak yang tidak setuju dengan gagasan Cak Nur kala itu, tetapi, akibat pengaruh dari gagasan tersebut, banyak partai dan ormas melakukan deideologisasi karenanya.

Kini 66 tahun sudah semenjak berdiri, bisa jadi, sejarah di atas hanyalah sekedar contoh, betapa HMI pernah mewarnai khazanah pemikiran intelektual. Karena melihat tiga dasawarsa terkahir, tradisi intelektual itu telah meredup. Dan, kini rasanya sangat sulit mencari indikator bertahannya tradisi HMI secara intelektual. Bahkan tidak salah apabila dikatakan bahwa tradisi intelektual HMI kini telah menjadi butiran sejarah atau kenangan manis masa lalu.

Dekadensi Intelektual

Pada era HMI saat ini, tampaknya tradisi intelektual HMI tidak sekadar meredup tapi sudah bisa dikatakan hampir menghilang. Para aktivis HMI saat ini sudah tidak tertarik lagi dengan suasana intelektual dan forum-forum diskusi. Bisa dilihat pada diskusi atau training-training yang diadakan oleh Komisariat maupun Cabang sepi dari peminat. Penulis merasakan sendiri, di kala acara yang bernuansa intelektual, minat kader HMI untuk berpartisipasi sangat minim. Seperti pada waktu yang lalu, saya mengikuti sekolah filsafat yang diselenggarakan oleh HMI Cabang Yogyakarta. Peserta dari sekolah tersebut sangat sedikit bahkan bisa dihitung jari. Hal tersebut sebenarnya tidaklah sebanding dengan kuantitas kader HMI di wilayah Cabang Yogyakarta yang sangat banyak.

Penulis juga memperhatikan, kalau pun diadakan diskusi atau forum-forum intelektual itu hanyalah sebatas rutinitas belaka. Tidak ada follow up atau gagasan yang brilian lahir dari forum-forum tersebut. Bahkan, dari cakupan yang lebih luas lagi, bisa dikatakan juga bahwa seluruh kegiatan HMI berkutat pada rutinitas belaka. Saat ini HMI hanya berkutat dalam pergantian kepengurusan, mengadakan training, diskusi, demontrasi, dan lain-lain, yang hanya menghasilkan orang-orang yang pintar berpidato dan bersidang.  Barangkali benar, apa yang menjadi kritik dari sebagian alumni, kalau kualitas HMI sekarang sudah jauh daripada dahulu. Paradoks, kader-kader HMI itu justru  banyak yang lebih suka terhadap kegiatan yang sifatnya seremonial dan hiburan belaka.

Gerakan Intelektual Kreatif

Penulis tertarik dengan sebuah opini Bhima Yudhistira, “Komunitas Keatif Untuk Apa?” yang mengkritisi komunitas kreatif yang telah digagas oleh Pengurus Besar (PB) HMI. Bhima mempertanyakan seperti apakah sebenarnya kominitas kreatif yang dimaksud oleh PB HMI, apakah semacam perkumpulan art-designer yang gemar corat-coret dan membuka distro atau berpikir untuk kemajuan pemikiran di HMI secara kreatif? (HMINEWS 18 April 2012).

Sebenarnya saat ini di HMI sudah ada bentuk dari komunitas kreatif seperti Komunitas Belajar Menulis (KBM) yang dipelopori oleh Ahmad Sahide. KBM ini adalah salah satu komunitas kreatif yang dimiliki HMI saat ini. Betapa tidak, adanya KBM cukup memberikan angin segar di tengah miskinnya kreativitas HMI. Secara umur KBM masih sangat relatif muda yang lahir sekitar bulan Desember 2010, tetapi KBM sudah membuktikan dengan melahirkan karya-karya intelektual. Sudah lahir beberapa karya dari KBM antara lain berupa buku serta beberapa tulisan anak KBM yang dimuat oleh media, koran dan majalah.

Sebenarnya adanya KBM ini harus direspon oleh HMI secara keseluruhan. Untuk menopang keintelektualan HMI, tidak bisa diharapkan hanya menjadi tanggung jawab dari struktur HMI saja. Tetapi harus ditanggapi oleh seluruh kader HMI, untuk bisa membuat berbagai macam komunitas kreatif. Silahkan kader HMI membuat komunitas kreatif, dalam ranah apa pun. Bagi kader HMI yang suka menulis, bisa membuat komunitas menulis. Bagi kader yang suka menonton film, bisa membuat komunitas pencinta film. Untuk kader yang suka filsafat, silahkan membuat komunitas kajian filsafat. Yang jelas, komunitas apa pun dapat dibuat sesuai dengan minat dan bakat. Dan yang terpenting adalah komunitas kreatif tersebut bisa menunjang intelektualitas kader HMI.

Adanya komunitas kreatif itu membuktikan bahwa masih ada intelektual kreatif, meskipun dalam jumlah yang kecil. Tetapi alangkah lebih baiknya jika saat ini HMI memiliki banyak komunitas kreatif. Untuk PB HMI, yang sudah menggagas dari gerakan komunitas kreatif ini, diharapkan bisa membumikan lagi wacana tersebut. Apabila komunitas keatif tersebut bisa berjalan dengan lancar secara tekun, maka tidak menutup kemungkinan bahwa HMI saat ini bisa kembali melahirkan tokoh-tokoh intelektual. HMI harus tetap optimis dan berusaha, bahwa sebenarnya HMI bisa kembali seperti pada masa keemasan HMI.

Paradigma ‘Intelektual Profetik’

Gerakan intelektual kreatif saat ini haruslah memiliki landasan keintelektualan agar secara pondasi memiliki landasan paradigma yang kuat. Jadi secara objektif ada indikator yang kongkrit sebagai paradigma dan standarisasi intelektual, yang menjadi landasan dari gerakan intelektual kreatif. Penulis di sini menawarkan untuk memberikan standarisasi tersebut, yaitu dengan gagasan paradigma ‘intelektual profetik’.

Intelektual profetik adalah sebuah akronim. Pengabungan dari dua kata yang diserap dari bahasa inggris yakni kata intelectual (orang pandai, teknokrat, moralis) dan Prophet (Nabi). Apabila diartikan menggunakan bahasa Indonesia, intelektual profetik akan memiliki arti sebagai orang pandai atau ilmuwan dengan paradigma kenabian. Serta di dalamnya ada sosok yang mencirikan kenabian. Dalam artian, intelektual profetik ialah seorang yang memiliki konsep agama dalam menjalani kehidupannya. Segala sudut pandangnya terhadap persoalan dunia selalu berdasarkan pada ajaran nabi. Segala perkataan dan perbuatannya selalu merujuk pada perkataan dan perbuatan yang dicontohkan oleh nabinya.

Sebenarnya Al-Qur’an juga telah menjelaskan bagaimana ciri dari intelektual profetik tetapi dengan bahasa ulil albab. HMI pun secara eksplisit sudah menyebutkan “membentuk insan ulil albab” sebagai tujuan organisasi. Bagaimana jika HMI juga menafsirkan ulil albab tersebut menjadi intelektual profetik. Intelektual yang mampu menyelaraskan antar hasil penalaran akal dengan hasil penalaran wahyu. Jadi seharusnya dalam perkaderannya, HMI diharapkan mampu menciptakan kader-kader yang mempunyai paradigma kenabian. Dengan kata lain sosok yang tercermin dalam seorang kader dapat memposisikan diri sebagai intelektual profetik.

Jadi, dalam konteks kekinian, HMI perlu merefleksikan urgensi gerakan intelektual kreatif. Dan gerakan intelektual kreatif tersebut memiliki landasan paradigma intelektual profetik. Intelektual yang memiliki jiwa atau semangat kenabian.

Nur Rachmansyah
Kader HMI Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (FH UII) Yogyakarta, Anggota penggiat Komunitas Belajar Menulis (KBM).

Share :

Leave a comment

Your email address will not be published.

*