Islam Indonesia Islam Rahmatan

Mencermati perkembangan konflik antarumat seagama di Timur Tengah membuat nurani kian miris. Hanya karena berbeda mazhab, antar pemeluk Islam di sana kerap saling mengkafirkan, menyakiti dan bahkan baku bunuh. Terbaru, pengeboman Masjid Syiah di Quetta- Pakistan oleh kelompok garis keras Lashkar-e Jangvi (LeJ) yang mengatasnamakan sebagai kelompok Sunny (kelompok ini mengaku bertanggungjawab atas serangan yang terjadi).

Dua serangan paling mematikan di kota mayoritas Syiah tersebut, tanggal 10 Januari 2013 menewaskan 96 orang, dan serangan pada 16 Februari 2013 mengakibatkan 85 umat terbunuh dan 178 lainnya luka-luka. Sebagai respon terhadap serangan tersebut, pihak Syiah mendesak militer turun tangan memberikan perlindungan, mereka juga mengancam akan melakukan longmarch ke ibukota Pakistan jika tuntutan tidak dipenuhi (Kompas 19/2/2013).

Pakistan, meski berada di kawasan Asia Barat, terkadang disebut pula sebagai bagian dari ‘Timur Tengah’ atau Jazirah Arab yang kita ketahui sebagai tempat kelahiran agama-agama samawi termasuk Islam yang diwarisi Nabi Muhammad. Akan tetapi, meski dekat dengan tempat lahirnya Nabi dan agama Islam, negara-negara di Timur Tengah seperti Suriah,  Afghanistan, Irak, Palestina dan lainnya merupakan daerah yang intensitas konflik antarumat seagama sangat tinggi. Hal ini mengundang pertanyaan dan keheranan tersendiri bagi umat Islam di negara lain termasuk di Indonesia, padahal Islam di wilayah tersebut kerap dipersepsikan ‘lebih sempurna’ dari keberislaman orang Indonesia yang ‘awam.’

Sejarah Panjang Berdarah

Rekaman sejarah menunjukkan ‘tradisi’ berdarah mengerikan yang terjadi antar sesama pemeluk agama langit terakhir ini. Begitu ditinggal wafat Nabi Muhammad, berbagai watak kekabilahan menguat berebut posisi kekuasaan, padahal sebelumnya Nabi telah menegaskan siapa saja yang berperang atas nama kesukuan, maka dia termasuk golongan jahiliah.

Dimulai sejak konflik antara Khalifah Ali dengan Mu’awiyah mengenai posisi kekhalifahan, kemudian melahirkan kubu-kubu yang saling bertentangan, yaitu Sunny-Syiah, ditambah dengan sekte-sekte lain semisal Khawarij yang gemar mengkafirkan dan mudah menghalalkan darah sesama. Selain itu seiring perjalanan waktu bermunculan sekte Mu’tazilah, Maturidiyah, sekte-sekte teologi lain serta berbagai mazhab fiqih yang juga menyebar ke Indonesia.

Pertikaian tersebut, dengan pilu dilukiskan oleh Gus Mus dalam puisinya ‘Basrah.’ “Inilah basrah. Di sini berbaur seribu satu aliran. Di sini sunnah, syiah dan mu’tazilah, masing-masing bisa menjadi bid’ah. Di sini berhala pemutlakkan pendapat terkapar oleh kekuasaan fitrah.”

Memang tak terhitung banyaknya penemuan dan tingginya tingkat kemajuan yang dicapai masing-masing kekhalifahan yang datang silih berganti di Timur Tengah. Akan tetapi sekaligus hampir dalam setiap suksesi kekuasaan selalu diwarnai pertumpahan darah. Belakangan, setelah tidak ada lagi sistem kekhalifahan, konflik meluas menjadi konflik horisontal yang tak berkesudahan dan menimbulkan banyak korban dari masing-masing pihak. Lantas, masihkah kita di Indonesia melirik Timur Tengah sebagai satu-satunya rujukan dalam berislam?

Menengok Ke Dalam

Di tengah krisis kepercayaan diri dalam berbagai hal, termasuk cara beragama yang sering latah meniru-niru atau berkiblat bahkan mengadopsi mentah-mentah apa saja yang datang dari luar padahal jelas-jelas hal itu hampir tidak bisa diterima oleh kultur yang ada. Tampaknya kita perlu menengok ke dalam diri, yaitu keberislaman nenek-moyang yang kita ketahui telah menerima Islam sekitar satu milenium yang lalu (merujuk pada nisan Fathimah binti Maimun yang wafat 2 Desember 1082 M di Leran, Gresik).

Dalam kurun waktu selama itu, melalui dakwah yang sejuk sebagaimana dipelopori oleh para wali, Islam telah menjadi jiwa pribumi Nusantara. Menjadi ajaran hidup, menjadi suluk (jalan) para sufi atau ahli tirakat Nusantara, menjadi budaya seperti dengan personifikasi tokoh-tokoh wayang dalam bentuk wayang kulit serta gubahan lakon-lakon yang khas Indonesia.

Lakon Bima Suci atau Dewa Ruci, misalnya, sangat kental nuansa tasawufnya. Digambarkan bahwa Bima putra kedua Pandawa mencari kesejatian dengan keluar masuk hutan serta menceburkan diri ke laut. Di laut itu ia ketemu dengan Dewa Ruci yang tak lain merupakan gambaran jiwanya sendiri. Secara tersirat lakon ini ingin mengatakan bahwa ke mana dan sejauh apapun kita mencari, pada hakikatnya yang kita cari itu adalah kedirian kita. Tak usah melihat jauh-jauh ke negeri orang di sana, karena apa yang kita cari sudah lekat pada jatidiri negeri ini.

Kiranya gagasan “Pribumisasi Islam” Gus Dur bukan bermaksud menyaring ajaran Islam dan memilah-milihnya sesuai selera keindonesiaan, akan tetapi lebih pada bagaimana melihat Islam sebagai jiwa yang telah menyatu tak terpisahkan pada jatidiri bangsa.

Sebagai penutup, lebih bijak jika kita di Indonesia tidak melulu berpatron ke luar, sebab banyak hal yang kita cari sebenarnya sudah ada di sini. Tentunya, mencukupkan diri dalam hal ini bukan dimaksudkan untuk menutup sama sekali interaksi intelektual dengan pihak lain. Kita, barangkali, hanya perlu berkiblat ke Timur Tengah dalam shalat dan haji saja, karena selain dua hal itu banyak yang tidak patut diteladani dari orang-orang Arab. Sumber utama ajaran Islam yaitu Qur’an dan Hadits telah seribuan tahun sampai kepada kita di Indonesia. Kita juga tidak kekurangan ulama atau kiyai yang mampu memahami kedua sumber ajaran tersebut dengan baik dalam bahasa aslinya dan mampu menjelaskan kepada kita sebagai orang awam. Bukankah setiap rasul diutus dalam bahasa kaumnya?

Bedanya, kita dahulu cerdik mengelola perbedaan sehingga Islam di Nusantara dapat ditampilkan sebagai Islam yang satu dan tidak terkotak-kotakkan oleh mazhab, meski persentuhan dengan mazhab-mazhab yang ada di dunia Islam tetap berlangsung. Pembedaan itu baru muncul di awal abad 20, misalnya dengan munculnya sejumlah ormas, dan setelah itu orang-orang baru mengidentikkan dengan kelompok-kelompok.

Terakhir, kita di Indonesia sudah semestinya percaya diri, sebab di luar sana yang sedang dilanda kekacauan justru sama berharap banyak pada Indonesia yang diketahui merupakan negeri mayoritas muslim terbesar di dunia.

Fathurrahman

LAPMI PB HMI MPO

Share :

Leave a comment

Your email address will not be published.

*