Masjid Agung Karawang Lebih Tua Dari Masjid Demak

Waktu menunjukkan pukul 12.000 WIB saat suara bedug bergema dari Masjid Agung Karawang. Pada saat yang bersamaan di pusat kota, tepatnya di alun-alun, suasana sangat ramai, kendaraan begitu padat dan pasar-pasar penuh orang berbelanja.

Usai suara bedug yang bertalu-talu, alunan adzan berkumandang. Terdengar begitu merdu hingga meluluhkan hati untuk mengingat dan mendekat kepada Allah Yang Maha Kuasa. Umat Islam kemudian berbondong-bondong ke Masjid Agung Karawang untuk menunaikan shalat zhuhur berjama’ah.

Teduh dan sejuknya suasana lingkungan masjid membuat jama’ah betah berlama-lama. Maka tak heran, usai shalat mereka tidak langsung berbegas ke tempat aktivitas masing-masing, akan tetapi bertahan di masjid tersebut.

Sejarah Masjid Agung Karawang

Seorang pengurus Masjid Agung Karawang, Abah Dodi Permana (59) sudah 8 tahun menjadi Mesjid Agung ini. Ia menceritakan tentang sejarah Mesjid yang tertua ini dari awal mulanya Mesjid Agung ini terbentuk.

Pada mulanya adanya Mesjid Agung ini olah Syeh Hasanudin putra Syeh Yusuf Sidik, ulama besar dari Campa mendarat di Cirebon. Diterima oleh Syahbandar Pelabuhan Muara Jati Cirebon, Ki Gendeng Tapa, untuk menyebarkan agama Islam. Karena tidak disukai oleh Raja Pajajaran Prabu Angga Larang, maka Syeh Hasanudin kembali ke Malaka.

Nyi Subang Larang, putri Ki Gendeng Tapa menyusuri Sungai Citarum, mendarat di Pelabuhan Karawang Bunut Kertayasa (Kampung Bunut sekarang). Atas izin penguasa setempat, maka didirikan bangunan tempat tinggal dan tempat untuk mengaji ,yang kemudian dikenal dengan nama pesantren Quro (Mesjid Agung sekarang) pada tahun 1418 M.

Prabu Angga Larang tetap tidak mengizinkan Syeh Hasanudin yang sudah dikenal dengan nama Syeh Quro. Maka diutusnya putra mahkota Prabu Pamanah Rasa untuk menutup Pesantren Quro. Setelah sampai di pesantren tersebut, Raden Pamanah Rasa tertarik oleh alunan ayat suci Al Quran yang dibacakan oleh Nyi Subang Larang. Niat untuk menutup Pesantren Quro diurungkan, kemudian Prabu Pamanah Rasa melamar Nyi Subang Larang.

Lamaran di Terima dengan Syarat, mas kawin harus Bintang sSaketi (Bintang kerti) simbol tasbeh, yang berarti Prabu Pamanah harus masuk Islam. Syarat yang kedua salah satu keturunan anak yang dilahirkan harus menjadi Raja Pajajaran. Kedua syarat diterima danĀ  pernikahan dilaksanakan di Pesantren Syeh Quro (Mesjid Agung sekarang) dengan Syeh Quro sebagai penghulunya.

Pada waktu itu Nyi Subang Larang usianya 14 tahun. Setelah menjadi Raja Pajajaran, Pamanah Rasa bergelar Prabu Siliwangi, dari perkawinan ini dikaruniai 3 anak, yang pertama Raden Walang Sungsang, kedua Nyi Mas Rasa Santang dan yang ketiga Raden Kean Santang.

Raden Walang Sungsang Raja Pajajaran yang menguasai Cirebon bergelar Cakra Ningrat. Pada waktu Raden Walang Sungsang dan Nyi Mas Rara Santang menuntut Ilmu ke Mekah, Nyi Mas Rara Santang dipersunting Bangsawan Mekah Syeh Syarif Abdika.

Nyi Mas Rara Santang setelah menikah namanya diganti Syarifah Mudaim. Dari perkawinan tersebut dikauniai 2 orang anak, yaitu Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Pada tahun 1475 Syarifah Mudaim dan Putranya Syarif Hidayatullah kembali ke Pulau Jawa (Cirebon). Karena Pangeran Cakra Buana telah sepuh Pemerintahan diserahkan kepada Syarif Hidayatullah dengan Gelar Sunan Gunung Jati.

Mesjid Agung Karawang didirikan sekitar tahun 1418 Masehi oleh Syeh Quro, Mesjid Agung Cirebon di dirikan sekitar tahun 1475 Masehi oleh Sunan Gunung Jati sedangkan mesjid Agung Demak di dirikan sekitar 1479 Masehi oleh Walisongo. Dari ketiga Mesjid tersebut mempunyai 3 ciri: bentuk bangunan Joglo bertiang utama (soko guru) Empat, bentuk atap Limas bersusun Tiga melambangkan Iman, Islam dan Ihsan.

Begitulah tuanya usia Mesjid Agung Karawang yang selalu ramai dengan jama’ah, terutama saat bulan Ramadhan. Berbagai kegiatan di antaranya Pesantren Ramadhan untuk pelajar, buka puasa, tarawih dan tadarus Al Qur’an setiap malamnya.

Rosman
HMI Cabang Karawang

Share :

2 Comments on Masjid Agung Karawang Lebih Tua Dari Masjid Demak

  1. Ustadz Cinta // 12/05/2013 at 18:46 // Reply

    Ceritanya beda dengan film raden kian santang

  2. Agan Direja // 30/09/2013 at 22:50 // Reply

    “SALAM TUNGGAL RAHAYU”

    Ma’af klo bisa penjelasan nya lebih detail lagi.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*