Bagai disambar Petir
tiba-tiba Langit memerah
menyelami makna insaniyah,
insan kolektif dalam aliran merah pekat, memilukan hati
Ternyata, warna kabut memerah itu!
warna darah dan tetesan pilu, perih muslim Rohingya
yang dibantai bagai makanan
penghangat nafsu angkara murka Syaetaniyah
Inilah pembantaian, penistaan manusia
karena warna, aliran, ras
membuatakan manusia akan hakikatnya yang satu
tangis pedih, ratapan Rohingya
tiada berbekas pada jiwa hitam berkabut
bahkan suara PPB seakan lenyap
dalam getirnya petir pembantaian kemanusiaan
Katanya pro kemanusiaan
katanya pro keadilan
katanya pro kebebasan
Sungguh tragis
sungguh mengerikan
yang menyorot konten aktual
tragedi Rohingya
Rohingya, manusia legal kehadirannya
namun kuasa merapampas semua legalitas adanya
ma’lum begitulah kuasa
jika egosentrisme, kuasa negatif jadi penafsirannya
ini harus dihentikan
ini harus diadili
agar rasa kemanusiaan terobati
karena manusia tanpa rasa kemanusiaan sebenarnya
tidak memiliki keberadaan
alias tidak ada selain jasadnya saja
Jakarta, Sabtu 28 Juli 2012
Bahtiar Ali Rambangeng













