Politik, Seni dan Budaya

(Bagian I)

Membicarakan teater sama membosankannya dengan bicara politik. Dalam diskusi teater dan politik di galeri nasional rabu, 9 juni 2010 diskusi yang dibawakan sedikit formal oleh Fajroel Rahman dan Yeni Rosa Damayanti itu seperti mengulang kembali cerita-cerita tentang keterpurukan seni budaya, seni pertunjukkan khususnya, serta tidak adanya perhatian pemerintah terhadapnya. Teater hanyalah satu dari sekian banyaknya kesenian yang ada di Indonesia. Sedikit lebih menarik jika kita bicara tentang kesenian.

Persoalan kesenian untuk saat ini belum bisa dipecahkan, selain kesenian yang memang tidak mempunyai standar baku dan juga bukan sesuatu yang bersifat komersil, baik itu kesenian kontemporer ataupun kesenian tradisional. Kesenian lebih dekat pada sesuatu yang besifat transenden. Jangan berharap perhatian yang akan diberikan pemerintah terhadap dunia seni, karena hal itu hanya akan membuang energi kita saja sebagai pekerja seni. Secara struktur dalam pemerintahannya saja sudah salah. Kesenian atau kebudayaan berdampingan dengan pariwisata yang notabene titik tekan dari tujuan pariwisata adalah devisa (Depbudpar). Hal inilah yang membuat kesenian atau kebudayaan tidak akan berkembang jika kebudayaan atau kesenian diarahkan pada kepentingan pasar/kapital.

Selain itu problematika lain dalam bidang kebudayaan adalah kurangnya keyakinan masyarakat seni terhadap sesuatu yang mereka kerjakan, sebagai sebuah gerakan ideologis, penggiat seni selayaknya tidak berkutat dengan persoalan ekonomi, persoalan yang selama ini mereka tuntut dari pemerintah.

Ada dua pilihan yang harus diambil oleh para penggiat seni, pertama, mereka mengikuti arus yang menginginkan kesenian menjadi sesuatu yang menguntungkan, yang dikehendaki pasar, kemudian setelah proses negosiasi itu beranjut sehingga pemerintah merasa membutuhkan hal-hal yang marketable dari kesenian, barulah kita bisa mempunyai daya tawar untuk sesuatu yang ideologis. Kedua, melawan, selama ini dunia kesenian memang kurang dirasakan keberadaannya, selain memang pemerintah ataupun masyarakat masih memandang sebelah mata, juga penggiat seni belum melakukan pendobrakan yang besar dalam produksi kreatifnya. Misalnya saja para penggiat seni melakukan pertunjukkan atau pameran yang sengaja menyerang pemerintah, sehingga pemerintah menjadi gerah dengan serangan kesenian itu (paling tidak ada yang mati dalam proses itu), barulah kesenian (mungkin) akan diperhitungkan.

Sebagai sebuah negara dari dunia ketiga, kita masih harus berkutat dengan persoalan kesejahteraan ekonomi. Karena dalam sejarahnya, kesenian sendiri  merupakan konsumsi bagi masyarakat mapan khususnya secara ekonomi. Di negara kitapun saat ini bisa kita rasakan hal ini sekarang. Misalnya, berapa besar biaya yang harus kita keluarkan hanya untuk membeli sebuah lukisan misalnya, atau berapa ratus ribu uang yang harus kita tukar dengan selambar tiket pertunjukkan. Sementara pergelaran kesenian sendiri bukan sesuatu yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat luas. Di lain pihak pekerja senipun bukanlah golongan yang mempunyai kemapanan ekonomi.

Selama semua srtuktur masih belum memadai, berkesenian masih berbanding lurus dengan pengorbanan. Maka sebagai sebuah kegiatan ideologis hendaknya para penggiat seni tidak lagi berkutat dengan persoalan dukungan pemerintah lagi. Berkarya adalah satu-satunya jalan terbaik bari para penggiat seni. (Ayat Muhammad)

Share :

Leave a comment

Your email address will not be published.

*