Kisah Kasih Tak Sampai Roro Mendut Diangkat Kembali

Lahirnya sebuah pertunjukan seni tidak melulu lahir dari para seniman dan budayawan, akan tetapi bisa juga hadir karena kepedulian pihak lain, sosialita misalnya. Seperti diangkatnya kembali kisah Roro Mendut dari Babad Tanah Jawa yang akan dipentaskan di Taman Ismail Marzuki.

 “Penggagas pementasan dan produksinya bukan berasal dari budayawan dan seniman seperti pada beberapa pementasan yang didukung Djarum Apresiasi Budaya sebelumnya. Pementasan kali ini diprakarsai oleh sekumpulan para sosialita yang menunjukkan kecintaan pada budaya,” tulis Djarum Apresiasi Budaya dalam rilisnya, Selasa (11/4/2012).

Para sosialita yang akan menggelar pertunjukan tersebut tergabung dalam wadah “Banyumili Producton.” Meski biasanya sibuk dengan berbagai kegiatan sosial sesuai kelas mereka, namun toh mereka bisa menunjukkan kepedulian tinggi pada sastra dan sejarah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

“Nilai historis kisah yang ada beribu tahun lalu serta keunikan seni tradisional Jawa selalu menarik untuk diangkat dalam sebuah pertunjukan,” lanjutnya.

Banyumili yang diketuai Enny Soekamto, senior model yang pernah mencapai puncaknya pada era 70-80an, akan mementaskan Roro Mendut pada Sabtu 14 April 2012 mendatang di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki.

“Pertunjukkan “Roro Mendut” ini terinspirasi dari indahnya kultur Jawa yang tidak hanya mencakup busana tradisional atau kain batik, tapi juga karakter kultural dan sosial masyarakat Jawa pada umumnya. Salah satu contohnya adalah musik khas Jawa yang memiliki nuansa formal dan sakral, gerakan tari yang luwes, lambat, dan memiliki koreografi yang bertujuan mendramatisir niat, watak, dan gerakan,” kata  Renitasari, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Proses Kreatif

Konsep artistik produksi ini diarahkan oleh Ida Soeseno, Direktur Artistik yang sudah lama mendalami kesenian tradisional Jawa dan terdaftar oleh MURI (Museum Rekor Indonesia) atas ide-ide inovatifnya yang mengoptimisasi presentasi pertunjukan seni tradisional.

Selain aktor dan aktris karismatik seperti Ray Sahetapy, Happy Salma, dan Debby Sahertian, pertunjukan ini juga menampilkan figur publik senior seperti Enny Soekamto dan Rima Melati, para sosialita Jakarta, serta seniman-seniwati dari Wayang Orang Bharata dan Institut Seni Indonesia. Ida Soeseno mempercayakan Happy Salma untuk berperan sebagai Roro Mendut.

Sebagai koreografer adalah Wardoyo (ISI  Solo)  memiliki pengalaman ekstensif sebagai penari, pelatih dan penata tari di Singapura, Malaysia, Jepang, Moskow, Belanda, Inggris, dan Bulgaria. Master musik pertunjukan ini adalah Lumbini (ISI Solo), musisi spesialis yang telah menunjukan kompetensinya di berbagai pertunjukan yang banyak diingat oleh peminat seni tradisional Jawa.

Yang juga sayang untuk dilewatkan adalah tata panggung dibuat sangat dinamis dengan pertukaran setting yang selalu berganti. Penonton bukan hanya mendapati suasana keraton seperti biasanya, namun juga suasana pedesaan yang asri dan lekat dengan aslinya, Lengkap dengan pasar, lapak dan suasana yang mendukung. Dengan tarian klasik yang dipadukan dengan tari kontemporer dan kostum yang dipercayakan pada Carmanita, Atilah Suryajaya, Naniek Rachmat, dan Ramli dimaksudkan akan menambah  greget bagi penampilan pelakon.

Nilai kesenian dan historis sebuah budaya tidak mungkin bisa hilang: tinta di atas buku mungkin dapat memudar, tapi niat dan maksud tidak dapat lenyap. Ini mungkin saatnya kita membaca, mengikuti, dan menyimpan pesan sejarah supaya kita bisa terus menyampaikannya kepada cucu-cicit kita selanjutnya. Ini agar mereka memahami akar dan identitas mereka karena orang yang bijak tidak pernah akan menjadi seperti kacang yang lupa akan kulitnya.

Kasih Tak Sampai dan Kecantikan Yang Membawa Petaka

Kisah Roro Mendut merupakan kisah penuh liku perjuangan cinta seorang gadis desa dari Pati pada masa kekuasaan Mataram.

Seperti kecantikan Dedes yang membuatnya diperistri Tunggul Ametung, kecantikan Roro Mendut pun sama: ‘mengundang’ petaka. Itu dikarenakan banyak pejabat yang jatuh cinta terhadapnya, termasuk Bupati Pragola penguasa Pati waktu itu dan Tumenggung Wiraguna dari Mataram.

Mendut berani menampik cinta sang Tumenggung, dan ia harus membayar mahal. Dirinya diharuskan membayar pajak ke Mataram dalam jumlah besar.

Tak mau menyerah, Mendut yang telah punya kekasih seorang pemuda desa, Pranacitra, memiliki akal untuk mendapatkan uang guna membayar pajak, yaitu berjualan rokok lintingan.

Selain hasil lintingan tangan Mendut, rokok tersebut terlebih dahulu dinyalakan dan dihisapnya sebelum dijual ke para pemuda. Bekas hisapan itulah yang membuat harga rokok ‘tingwe’ (lintingan dewe, lintingan sendiri, bukan pabrikan) itu melangit. Ibarat kopi luwak yang mahal karena telah terlebih dahulu ditelan luwak.

Namun pada akhirnya kisah kasih Mendut-Pranacitra tidak berakhir bahagia. Tumenggung Wiraguna membunuh Pranacitra, dan kemudian Mendut memilih mengakhiri hidupnya demi cintanya. (fathur)

Share :

Leave a comment

Your email address will not be published.

*