Amalan-Amalan Bernilai Jihad

Banyak amalan bernilai jihad dan dapat berbuah surga. Meski sepintas tidak tampak ‘heroik’ karena bukan dengan mengangkat senjata melawan musuh dalam wujudnya yang nyata. Allah menjamin para pelakunya dengan ampunan, dan Rasulullah pun menjanjikan untuk menjadikannya sebagai orang terdekat beliau di surga kelak. Insya Allah. Amal apa sajakah itu?

Berbakti kepada orangtua

Tidak diragukan lagi, sebagaimana banyak hadits telah meriwayatkan keutamaan birrul walidain (berbakti kepada kedua orangtua), terutama ibu. Bahwasannya pernah seorang sahabat menyatakan keinginan untuk bergabung dalam barisan jihad, untuk berperang di jalan Allah. Kemudian ia ditanya:

“Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” tanya Rasulullah. “Iya,” jawa orang tersebut. “Berjihadlah dengan mengurus keduanya” tegas Rasulullah.

Sebagaimana diperkuat juga dalam banyak hadits lain, di antaranya bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibu. Juga kecaman Rasulullah terhadap seseorang yang terhalang masuk surga, padahal kesempatan itu terbuka lebar kepada orang tersebut, yaitu dengan masih hidupnya kedua orang tuanya.

Mengurus anak yatim dan telantar

“Aku dan pengurus anak yatim seperti dua ini (sambil memperagakan kedua jarinya) di surga” kata Rasulullah.

Sekarang ini begitu banyak bertebaran anak-anak telantar, yang sebagiannya yatim, di jalan-jalan sebagai pengemis, pengamen dan sebagainya. Terabaikan hak-hak mereka, tidak tercukupi gizinya, tidak bisa mengenyam pendidikan dan diperlakukan secara tidak semestinya. Malangnya, kondisi seperti itu seolah ‘diperkuat’ secara sistem oleh negara.

Pemimpin adil

Masih bersumber pada hadits Rasulullah, karena memang selain Alqur’an sumber Islam adalah hadits, yaitu hadits yang menyatakan bahwa pemimpin adil akan mendapat naungan Allah pada hari kiatam. Di saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Pemimpin adil ditempatkan pada urutan pertama, salah satu hikmahnya, adalah karena pempimpin sangat besar pengaruhnya, baik maupun buruk, terhadap masyarakat yang dipimpinnya.

“Pemimpin adil, anak muda yang giat beribadah kepada Allah, orang yang hatinya selalu tertaut pada masjid, orang-orang yang saling mencintai karena Allah –berhimpun dan berpisah karena Allah, seorang yang menolak ajakan zina lawan jenisnya karena khauf (takut) kepada Allah, orang yang bersedekah secara rahasia sampai ‘tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan tangan kanannya’, serta orang yang selalu mengingat Allah dan menangis karena-Nya,”.

Mempelajari, Mengamalkan dan Menyebarkan Ilmu

Kedudukan ilmu mendahului amal, bahkan iman. Dengan ilmu pula, seseorang tahu hak dan kewajiban dirinya terhadap Allah, tahu hak Allah atas dirinya. Ilmu menjaga dirinya dari berbagai ketergelinciran karena ketidaktahuan.

Mempelajari, mengamalkan dan mengajarkan ilmu itu tinggi kedudukannya. Ilmu lebih tinggi daripada ibadah, bahkan perumpamaannya seperti bulan dengan bintang. “Perumpamaan seorang ‘abid (ahli ibadah) dengan seorang ‘alim (ahli ilmu, ulama, ilmuwan) seperti purnama dengan sebuah bintang.”

Karena dengan ilmulah dimungkinkannya gerakan kebangkitan Islam, sebagaimana telah terjadi berulang kali, termasuk dengan kemunculan seorang mujaddid setiap abadnya, tidak lain selalu dimulai dengan membereskan keilmuan. Sebagaimana gelar Hujjatul Islam (pembela Islam), Muhyiddin (orang yang menghidupkan agama), syaikhul Islam dan sebagainya yang identik dengan gerakan keilmuan sebagai basisnya.

Dari gerakan keilmuan inilah yang kemudian lahir generasi rabbani yang mampu mengembalikan izzah (harga diri) umat Islam, sebagaimana generasi Shalahuddin Al Ayyubi yang dibidani oleh Al Ghazali mampu mengusir tentara salib, ulama-ulama yang melahirkan generasi Muhamamd Al Fatih penakluk Konstantinopel dan sebagainya.

Ilmu adalah jawaban dari banyak persolaan, menjawab semua tuduhan dan imej buruk yang disematkan kepada Islam, yang tidak jarang pemburukan tersebut justru datangnya dari umat Islam sendiri karena kebodohannya.

Karena pentingnya ilmu itulah, menuntut ilmu bernilai jihad. Para pencari ilmu akan senantiasa dinaungi malaikat, dari pergi hingga kembalinya. Apabila karena suatu sebab atau musibah, seorang penuntut ilmu meninggal, ia memperoleh kedudukan mati syahid.

Di tengah kondisi keummatan yang seperti sekarang ini, pintu jihad terbuka lebar, kita tinggal pilih dari pintu mana memasukinya sesuai kapasitas masing-masing, tidak sebatas yang disebutkan di atas, agar menjadi solusi atas permasalahan yang tengah mendera.

Sebagai penutup, baik kita renungkan ayat yang menyindir orang-orang yang sangat bernafsu berperang sewaktu keadaan masih damai, karena ketidaksabaran, merasa geregetan terhadap musuh dan didorong keinginan menunjukkan ‘harga diri.’

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu [dari berperang], dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat!” Begitu diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka [golongan munafik] takut kepada manusia [musuh], seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih dari itu takutnya. Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan [kewajiban berperang] kepada kami beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun. (QS Annisa: 77)

(Redaksi)

Share :

Leave a comment

Your email address will not be published.

*