Pojok Lapangan Tahrir di Tel Aviv

Oleh: Yonatan Gur

Tel Aviv, Israel – Di antara tenda dan poster yang memenuhi jalan raya Rothschild yang terkenal di Tel Aviv musim panas ini, adalah sebuah spanduk yang sangat menonjol dengan kata-kata “Rothschild, pojok Tahrir.” Ini hanyalah satu dari sekian banyak kemiripan antara Lapangan Tahrir, yang telah menjadi simbol pembebasan rakyat Mesir, dan berbagai kejadian yang mengguncang masyarakat dan perpolitikan Israel.

Misalnya, teriakan para demonstran yang memenuhi jalan-jalan di berbagai kota Israel malam akhir pekan lalu, “Rakyat menuntut keadilan sosial”, adalah variasi lokal dari slogan di Tahrir, “Rakyat menuntut bubarnya rezim.” (Meskipun saya yakin kalau banyak di antara para demonstran di Israel tidak peduli dengan kemiripan-kemiripan ini).

Sulit untuk mengingkari tepatnya waktu dari meluasnya aksi protes di Israel yang meletus beberapa bulan setelah gelombang revolusi yang bermula di Tunisia dan menyebar ke banyak negara di dunia Arab, revolusi yang juga menginspirasi gerakan protes massa di Spanyol dan Yunani.

Agenda para demonstran Israel boleh jadi berbeda dari agenda rakyat Mesir, sama seperti karakter rezim Israel juga tidak sama dengan negara Mesir, tetapi saya tidak ragu mengatakan bahwa tanpa Mohamed Bouazizi – pedagang Tunisia yang membakar diri dan kemudian menyulut api revolusi – dan tanpa Lapangan Tahrir, Rothschild akan tetap dikenal sebagai jalan raya yang modern tetapi sepi.

Kemiripan ideologis ini semestinya disyukuri. Bagi banyak orang Israel, fakta bahwa Israel berada di ruang geopolitik Timur Tengah hanyalah kecelakaan sejarah yang tidak mengenakkan.

Seumpama kita semua ini hidup di sebuah apartemen, kita saling tidak menyapa saat berjalan di tangga, dan juga tidak mengetuk pintu untuk meminta secangkir susu saat kita butuh. Di luar pertikaian di antara tetangga, banyak dari mereka yang tinggal di ruangan yang pintunya bertuliskan “Israel” tidak tertarik dengan orang-orang yang tinggal di ruangan lain. Rumah-rumah megah di seberang jalan apartemen ini (Eropa dan Amerika Serikat) lebih menarik, dan kita cenderung berpikir bahwa kita akan punya lebih banyak kesamaan dengan orang-orang yang tinggal di sana hanya jika kita bisa berada lebih dekat dengan mereka.

Bahkan, cukup banyak orang Israel memandang fakta bahwa negara mereka terletak di jantung Timur Tengah yang ribut sebagai sebuah kemalangan, tidak saja dari sudut pandang geografis tetapi juga dari sudut pandang kultural. Bila kita melihat diri kita sebagai bagian integral dari dunia Barat yang maju – kaki kita di timur perairan Mediteranea sementara mata kita menghadap Eropa dan Amerika Serikat – maka kita juga punya sikap yang sama dengan Barat terhadap “pihak lain”, termasuk terhadap dunia Arab.

Ini generalisasi yang kasar tentu saja, tetapi dunia Arab memang umumnya tidak dianggap sebagai pihak yang bisa banyak membantu bagi orang Israel. Ini bukan karena budaya Arab tidak berkontribusi signifikan pada kebudayaan Israel selama bertahun-tahun, mulai dari bahasa hingga makanan, musik dan film – tetapi seperti di banyak kasus lain, di sini pun realitas tidak cukup untuk mengubah persepsi yang mengakar yang sering kali mendikte sikap keterasingan dan perasaan superior dibanding tetangga-tetangga kita.

Kemudian muncullah Musim Semi Arab dan seiring dengan revolusi politik dan pergantian rezim, kita juga bisa menyambut awal dari satu lagi revolusi, yang meski kecil tetapi signifikan, di sini di Israel. Kita belum tahu akan seperti apa hasil gerakan keadilan sosial baru-baru ini di Israel, tetapi kita tahu bahwa musim panas ini telah bisa ditulis dengan tinta emas dalam buku-buku sejarah tentang masyarakat sipil Israel.

Bagi orang-orang yang menyaksikan dari luar, apa yang mungkin tampak sebagai kelupaan para demonstran akan isu-isu yang terkait dengan pendudukan dan kebijakan luar negeri mungkin kelihatan aneh dan merupakan sikap lari dari kenyataan, tetapi fakta bahwa ratusan dan ribuan orang tengah turun ke jalan mengusung isu-isu sipil bisa mengindikasikan bahwa masyarakat Israel tengah menjadi semakin sehat dan menandai perubahan persepsi yang besar.

Perubahan persepsi besar lainnya mungkin akan terjadi ketika kita orang Israel melihat ke belakang dan mencermati apa yang terjadi sejak pertengahan Juli di jalan-jalan negara ini. Lalu kita akan mengerti bahwa salah satu faktor yang melesakkan gerakan massa ini adalah upaya masyarakat di dunia Arab untuk bangkit demi apa yang mereka yakini dan mengubah hidup mereka. Ini adalah sebuah kesempatan untuk mengubah sikap kita terhadap ruang geografis dan manusia di mana kita kita hidup.

Mungkin di pojok Tahrir di Rothschild kita akan menemukan jalan yang membuka dialog tatap muka, dialog yang menghargai kedua pihak, dengan mitra-mitra yang sama-sama menghuni belahan bumi ini.

###

* Yonatan Gur ialah seorang jurnalis dan anggota Combatants for Peace. Ia tengah menempuh pendidikan untuk menjadi seorang guru.

Sumber:  Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Share :

Leave a comment

Your email address will not be published.

*